Artikel : Terbinanya Muslimah Intelektual, Progressif-Transpormatif Guna Menciptakan “KOHATI” Sebagai Rahim Peradaban

Calon Ketua KOHATI HMI Cabang Malang

Oleh : Esha W. Nurfathonah

(Kandidat Ketua KOHATI HMI Cabang Malang)

LIMADETIK.com : ARTIKEL – Perempuan sebagai salah satu  elemen masyarakat harus memainkan peran strategis dalam mewujudkan masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT. Sebagai salah satu strategi perjuangan dalam mewujudkan mission HMI, diperlukan sebuah wadah yang menghimpun segenap potensi  dalam wacana keperempuanan. Dalam rangka mencapai tujuan tersebut, HMI membentuk Korps HMI-Wati (KOHATI).

KOHATI merupakan salah satu badan khusus HMI yang bertugas membina, mengembangkan dan meningkatkan potensi HMI-wati dalam wacana dan dinamika gerakan keperempuanan. Sebagai lembaga perkaderan, KOHATI sesungguhnya memiliki tujuan yang mulia yaitu “Terbinanya Muslimah berkualitas Insan Cita”, serta berperan sebagai pencetak dan Pembina muslimah sejati yang berkualitas Insan Cita, untuk menegakkan nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan.

Jika kita merefleksikan sejarah terbentuknya KOHATI ada dua alasan utama yang mendorong lahirnya KOHATI yaitu, faktor internal dan eksternal. Faktor internalnya adalah agar mampu menaungi aspirasi perempuan serta basic need  dari pada kader HMI-wati itu sendiri. Faktor eksternalnya adalah tantangan yang dihadapi HMI semakin rumit dan bertambah pelik yaitu hadirnya PKI melalui gerakan perempuan-perempuan sehingga HMI perlu melebarkan sayapnya, melalui perempuan-perempuan yang ada di HMI.

Hari ini Indonesia sedang mengahadapi berbagai macam persoalan seperti radikalisme, intoleransi, kedzholiman sosial serta problematika sosial lainnya yang semakin kompleks. Perempuan pada umumnya, HMI-wati pada khususnya, tentu memiliki tanggung jawab sebagai kader umat dan kader bangsa, untuk mampu menuntaskan problematika tersebut serta berkontribusi lebih untuk mewujudkan masyarakat adil makumur yang diridhoi Allah SWT. Karena kemajuan serta kemunduran suatu bangsa dan agama akan bergantung kepada perempuan yang menjadi rahim sebuah peradaban.

KOHATI sebagai salah satu pilar HMI, memiliki fungsi dan peran khusus dalam menjalankan misi organisasi. KOHATI sebagai wadah, fasilitator pembelajaran atau pendidikan (education), penguatan (empowering), serta pendampingan atau pembelaan (advokasi) terhadap masyarakat khususnya kaum perempuan. Pengoptimalisasian terkait tiga komponen tersebut, pergerakan KOHATI akan lebih terlihat massif tentu dengan ideology dan metodelogi yang tepat sebagai pondasi pergerakan yang fundamental. Ideology HMI tentu sudah jelas yang tercantum dalam Nilai dasar Perjuangan HMI yang menggambarkan nilai-nilai keislaman sebagai landasan perjuangan. Metodelogi gerakan yang dapat dilakukan yakni pemahaman fenomena, Menangkap fenomena, memilih dan melahirkan isu strategis, serta melahirkan tindakan-tindakan solutif atau dengan metode analisis SWOT dan POAC.

Dalam hal ini cita-cita yang ingin dicapai dalam pergerakan perjuangan KOHATI adalah “Terbinanya Muslimah Intelektual, Profesional dan Humanis guna menyiapkan KOHATI sebagai rahim peradaban”. Cita-cita tersebut akan diindahkan dengan perjuangan atau usaha-usaha kinerja dalam struktural kepengurusan KOHATI. Rumusan-rumusan usaha ini dirumuskan dengan satu jargon: KOHATI SIP. SIP adalah sinergistas, intelektualitas, dan progressifitas, baik secara internal maupun eksternal. Usaha-usaha yang akan dilakukan sebagai berikut:

1. SINERGISITAS.

Upaya membangun sistem yang baik memerlukan kerjasama yang baik. Kerjasama yang baik memerlukan komunikasi yang baik. Maka dalam hal ini, sinergitas antara Komisariat/Koordinator Komisariat dengan Cabang sangat ditekankan. Pola-pola komunikasi negatif, yang selama ini terjadi secara top-down, yaitu komunikasi  yang hanya dibangun dari atas (dalam hal ini adalah Cabang), kemudian mengesampingkan komunikasi-komunikasi dari bawah (komisariat/korkom). Hal ini berimplikasi pada terjadinya gap, dimana kebijakan atau agneda-agenda yang diselenggarakan oleh Cabang tidak berdasar pada data kebutuhan HMI-wati di komisariat. Oleh karenanya, sibergitas internal antara cabang dengan komisariat atau koordinator komisaroat di setiap kampus-kampus menjadi sebuah keharusan untuk dilakukan.

Selain sinergitas internal, kita membutuhkan sinergitas internal, dalam hal ini adalah organisasi-organisasi keperempuanan atau OKP. Ini dilakukan sebagai aktualisasi kader HMI-wati dalam melibatkan diri dengan permasalahan-permasalahan keperempuanan yang mendesak untuk segera diselesaikan. KOHATI tentu tidak bisa bergerak sendiri guna terlibat menyelesaikan persoalan-persoalan yang ada. Oleh karenanya, sinergitas dengan institusi atau lembaga keperempuanan lain sangat dibutuhkan.

2. INTELEKTUALITAS.

Reorientasi kapabilitas  Kohati Cabang malang melalui gerakan Kohati melek literasi. Literasi disini tidak hanya berarti membaca dan menulis saja. Lebih luas dari itu, literasi bermakna kemampuan dalam memahami suatu hal, kemudian mampu memaparkan pemahaman itu dengan baik, baik dalam bentuk tulisan, diskusi, bahkan aksi atau tindakan. Usaha-usaha yang dilakukan adalah KOHATI Cabang Malang akan melakukan diskusi dan kajian-kajian keperempuanan, keislaman, keindonesiaan, dan isu-isu penting lainnya, baik di internal KOHATI Cabang malang maupun lintas organisasi. Bentuk-bentuk kegiatan lainnya yang akan menunjang peningkatan intelektual ini misalnya dengan Kegiatan LKK, LKSG, Kajian Pra Nikah, Sekolah Advokasi, diskusi kekerasan perempuan, dan lain lain.

Guna mengembangkan kemampuan kader Kohati, sangat penting juga untuk melakukan kerjasama dengan lembaga pengembangan profesi yang ada. Ini dilakukan sebagai distribusi kader di lembaga-lembaga tersebut guna mengembangkan softskill dan kemampuan keprofesian yang mendukung dan penting bagi Kohati Cabang Malang.

3. PROGRESSIFITAS.

Terlibat dalam gerakan keperempuanan untuk merespon permasalahan berkaitan isu-isu keperempuanan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here