Berjuang Demi Pendidikan di Sumenep, Inilah Sosok Perempuan Tangguh Penerima Penghargaan “Wanita Pejuang Takola Terbaik Se-Jatim”

SUMENEP, Limadetik.com – Tidak banyak yang tahu sosok seorang perempuan di zaman milenia ini, seorang wanita bernama Rufiatun S.Pd. atau yang akrab dipanggil bu Rufi yang gigih berjuang untuk dunia pendidikan khususnya untuk sekolah sekolah di pulau terpencil dan sekolah yang ada di daratan.

Sebagai seorang koordinator Tata kelola sekolah (takola) di Sumenep, kepedulian dan rasa tanggung jawab Ibu Rufiatun tidak diragukan lagi, hingga akhirnya pada acara Bimtek yang berlangsung di Kota Malang pada tanggal 27 Maret 2018 kemarin, ibu muda ini mendapatkan gelar penghargaan “Wanita Pejuang Takola Terbaik se Jawa Timur” yang di selenggarakan oleh Direktotar Pembinaan Sekolah Dasar, Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI.

Saat dikonfirmasi melalu handphone nya atas penghargaan yang diterima, wanita kelahiran Kota sampang, madura, jawa timur ini, justru tidak mau ada orang lain tahu karena merasa dirinya bukan siapa – siapa melainkan seorang wanita yang akan selalu memperjuangkan sekolah – sekolah yang ada di kabupaten sumenep khusus nya. Atas kerjasama Kemendikbud dengan SMK sebagai salah satu cara untuk membantu meringankan tugas Dinas Pendidikan Sumenep dalam memverifikasi data yang akurat dan konkrit disetiap Sekolah Dasar (SD) baik Negeri ataupun Swasta diseluruh Wilayah Sumenep.

“Maaf mas? Saya ini bukan siapa siapa, saya hanya ingin selalu berjuang sebagai perpanjangan tangan pemerintah pusat dalam validasi data yang akurat sesuai fakta dilapngan, dan semua buat lembaga pendidikan tingkat Dasar yang ada di sumenep ini, terlebih sekolah yang ada di pulau pulau terpencil agar semua ikut merasakan kesetaraan dengan sekolah lainnya yang sudah bagus pembangunan infrastrukturnya,” tutur wanita yang rendah hati ini Jumat,(6/4/2018).

Dirinya menambahkan, penanganan sekolah di pulau terluar,terdepan,tertinggal (3T) perlu keseriusan dalam mengurusinya bukan hanya sekadar menangani nya, dan sebagai warga negara yang baik Rufi merasa terpanggil untuk ikut serta mengemban amanah pemerintah pusat yang dipercayakan padanya sebagai Kordinator Tata Kelola Sekolah (takola) untuk Kabupaten Sumenep.

“Jadi untuk daerah 3T itu perlu keseriusan kita dalam mengurusinya karna tidak cukup dengan penanganan tapi juga pengawasan dan pemantauan harus terus dilakukan, semua itu harus kita lakukan karna keterbatasan mereka baik akses,jarak dan lain nya sehingga saya dan teman selalu turun langsung kelapangan melihat kondisi riel agar datanya akurat untuk kami kirim ke pusat sebagai bahan pertimbangan disana apakah sekolah tersebut layak dan tidak menerima bantuan infrastruktur,” tukas Guru SMKN 1 Kalianget ini.

Kembali kat Rufi,” Tahun 2017 kemarin kami juga memverifikasi sejumlah sekolah daratan dan kepulaun, Alhamdulillah dari validasi data yang kami kirim ke pusat di tahun ini selain menerima bantuan infrastruktur, ada 10 SD Negeri yang menerima bantuan untuk gizi, 5 Sekolah di daratan dan 5 di Kepulauan Sapeken, yang semuanya dianggarakan dari APBN,” katanya.

Untuk awal tahun 2018 ini, Tim Takola kembali turun ke pulau untuk memverifikasi data SDN secara akurat, baik infrastrukturnya ataupun keadaan siswa nya, ada dua kecamatan di pulau sepudi yaitu masing – masing Kecamatan Gayam 26 SD Negeri dan Kecamatan Nonggunong 13 SD Negeri. Itu berlansung sejak tanggal 2-5 April 2018 kemarin.

Sementara itu Fausul Ramdani, seorang warga asal Kecamatan Arjasa kepulauan kangean yang selama ini banyak membantu bu’ Rufiatun ketika hendak turun ke pulau atau daerah 3T menceritakan bagaimana semangat yang dimiliki Kordinator Tata Kelola Sekolah (Takola) ini yang begitu tangguh dan pemberani serta tegas saat menjalankan tugas.

“Saya tidak bisa bayangkan di zaman now atau millenial sekarang ini ternyata masih ada seorang perempuan seperti beliau (Rufiatun) yang semangat nya luar biasa,bayangkan musim angin dan gelombang ibu ini malah menantang kami untuk turun ke pulau pulau meninjau langsung pembangunan sekolah sekolah yang ada,” ungkapnya.

Tambah fausul,”Seperti hal nya di pulau sapeken pada akhir 2017 kemarin saat itu luar biasa angin dan ombak tapi beliau tidak peduli semuanya bahkan malam-malam kita berangkat karena alasan bu Rufi biar ditempat bisa stanby pagi” kata fausul.

“kami baru melihat kesedihan diraut wajah bu rufi saat beliau mendapatkan telpon dari keluarganya jika saat itu bapak nya meninggal dunia,tapi karena memang kendala kapal yang belum ada ke sumenep saat itu dia pun berusaha menghilang kesedihan itu dengan sambil bercanda bersama teman-teman tim,” terang fausul (yd/rd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here