Menjadi Nasionalis, Dimulai dari Sepiring Nasi Kuning

Indira Rezkisari, Jurnalis

LIMADETIK.com, Oleh: Indira Rezkisari

Coba tanya ke anak-anak masa kini. Kids jaman now. Mau makan apa? Sushi, piza, burger, ayam Kentucky, mungkin akan lebih banyak disebut dibandingkan pempek, gudeg, ayam pop, nasi liwet, atau tiwul. Saat anak ulang tahun, orang tua masa kini makin jarang menghidangkan nasi kuning. Tumpeng berganti kue ulang tahun berhias Pinky Pie atau anjing-anjing lucu Paw Patrol.

Kekhasan lokal pun hilang. Masyarakat lebih suka bergaun ketimbang berkebaya saat pergi ke kawinan. Anak-anak terbiasa berbahasa Inggris, tapi tak bisa mengucap bahasa ibunya. Salah siapa?

Bertahun-tahun menjadi jurnalis gaya hidup yang banyak meliput kuliner, saya kerap dibuat tertegun dengan chef asing. Bukan karena makanannya. Tapi karena mereka juga sanggup bercerita tentang masakan negaranya. Dalam sebuah kesempatan saya ingat dibuat kagum oleh seorang chef dari Italia yang sedang datang ke Jakarta. Ia bercerita sejarah datangnya tomat ke Italia yang dibawa oleh Columbus. Padahal tomat sangat sinonim dengan makanan Italia, karena dasar bagi saus tomat untuk piza serta spageti. Padahal tomat sesungguhnya adalah tanaman dari Amerika.

Saya ingat betul karena saya merasa saya belum pernah bertemu chef Indonesia yang punya kekayaan sejarah soal kuliner Indonesia pula. Apalagi saat itu, sekira 10 tahun lalu, masakan Indonesia belum menjadi primadona di restoran papan atas Indonesia. Setidaknya untuk bisa tersaji di restoran di hotel rasa masakan Indonesia harus dikompromikan.

Ternyata, penyebabnya adalah karena sekolah pariwisata yang mencetak chef di Tanah Air dulu tidak memiliki kurikulum luas tentang masakan Indonesia. Lulusan sekolah perhotelan bidang dapur lebih paham soal bagaimana meracik makanan asing, ketimbang membuat makanan Indonesia.

Tapi kesedihan saya untungnya tidak berlarut-larut. Sekarang dengan bangga saya bisa bilang banyak chef, pegiat kuliner, serta organisasi yang memang perduli dengan kuliner Indonesia. Harapan untuk melestarikan makanan Indonesia, bagi saya, perlahan sinarnya kian terang.

Namun jumlah mereka itu sangat sedikit. Kita butuh lebih banyak William Wongso yang ilmu kuliner Indonesianya sangat mumpuni. Lebih banyak lagi sosok Vindex Tengker yang baru saja membuka restoran Indonesia fine dining di Los Angeles. Sampai lebih banyak Farah Quinn yang menu nasi kuningnya tersaji di penerbangan salah satu maskapai asal Belanda. Tidak akan cukup rasanya kalau tidak didukung pula oleh kita, orang Indonesia sendiri untuk membudayakan diri bangga dengan makanan lokal.

Menjadikan makanan Indonesia sebagai jualan utama restoran papan atas sekarang untungnya sekarang cukup mudah ditemukan. Lisa Virgiano, Brand Director Restoran Kaum di Menteng, Jakpus, saat pembukaan perdana restorannya setahun lalu mengatakan makanan Indonesia selalu punya tempat di lidah orang Indonesia. Kaum sendiri memastikan hanya menyajikan menu Indonesia dengan teknik masak dan bahan yang otentik. Jika Lisa bilang otentik, itu artinya memasak nasi dengan cara diaron tidak dengan rice cooker.

Termasuk menyajikan es podeng dengan tape ketan yang warna hijaunya didapat dari perasan daun katuk. Pratik yang dulu banyak dilakukan pedagang tape ketan di Cirebon, namun kini mulai ditinggalkan karena lebih mudah menggunakan pewarna hijau.

Bangga dengan makanan dari negeri sendiri memang tidak cukup hanya dengan rajin melahapnya. Atau rajin memasaknya. Menurut saya, sebagai orang Indonesia ada keharusan juga meski sedikit untuk memahami sejarahnya. Seperti ayam bekakak yang ternyata ada di Bali dan Jawa Barat. Bedanya di Bali ayam Bekakak dimasak untuk sajen, sedang di budaya Sunda ayam bekakak biasanya dijadikan makanan saat acara besar seperti perkawinan dan syukuran lainnya.

Kesannya sulit, ya. Mau makan saja harus paham kisah di baliknya. Tapi kalau Anda tahu A sampai Z soal tren perawatan kulit yang 10 lapis khas Korea. Atau bisa riset menyeluruh di Google tentang rute perjalanan saat hendak liburan di luar negeri nanti, pasti Anda bisa juga untuk mencari tahu sedikit tentang makanan Indonesia favorit Anda.

Di rumah saya memulainya dengan mengenalkan makanan Indonesia ke anak-anak. Membiasakan mereka juga makan pempek, kue putu, es podeng, sayur lodeh, serta cerita di baliknya. Sedikit saja. Misalnya, bercerita kalau pempek itu dari Palembang di Sumatra. Atau Indonesia juga memiliki makanan yang mirip dengan ceviche Peru yaitu gohu asal Ternate. Lain waktu cerita tentang lumpia yang tercipta dari akulturasi budaya Cina di Indonesia.

Semoga saja suatu hari nanti ada buku cerita anak-anak yang sanggup bertutur secara ringan dan seru tentang kuliner lokal. Saya membayangkan cerita tentang sambal, mulai dari sejarah masuknya cabai ke Indonesia di abad 16. Atau cerita ringan tentang kue klepon misalnya. Atau Pasar Minggu yang ada lagunya sebagai pasar buah, harusnya bisa ya diangkat sebagai buku cerita anak edukatif.

Saya sungguh percaya bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai budayanya sendiri. Kalau anak sudah lebih bangga karena memotong tumpeng di hari ulang tahunnya, saya percaya dia juga akan terdorong menggunakan baju dari kain tenun atau produk lokal yang keren dibanding berpakaian dari gerai ritel impor. Lalu saya optimistis anak juga akan percaya kalau Tanah Airnya harus selalu dibela sampai titik darah penghabisan terakhir.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here