https://limadetik.com/

Meningkatnya Kriminalitas di Tengah Pandemi COVID-19

  • Bagikan
IMG 20200510 WA0000

Limadetik.com – Oleh: Maulidatul Masruroh

Opini – Infeksi virus Corona disebut COVID-19 (Corona Virus Disease 2019) . Virus ini menular dengan sangat cepat dan telah menyebar hampir ke seluruh  negara, termasuk Indonesia. Hanya dalam waktu beberapa bulan dan terbilang sangat singkat laju penyebaran yang kian hari semakin meluas.

limadetik branding

Hal tersebut membuat beberapa negara menerapkan kebijakan untuk memberlakukan lockdown dalamrangka mencegah penyebaran virus Corona.
Di Indonesia sendiri, diberlakukan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk menekan penyebaran virus ini.

Adapun kegiatan yang dibatasi dan dilarang dalam PSBB, diantaranya:

1. Berkerumun di luar ruangan maksimal 5 orang.
2. Kegiatan belajar mengajar di sekolah dan universitas.
3. Kegiatan peribadatan di rumah ibadah.
4. Kapasitas penumpang di kendaraan umum maupun pribadi maksimal 50 persen.
5. Kegiatan di seluruh fasilitas umum ditutup, seperti pusat pemberlanjaan, tempat hiburan milik pemerintah maupun umum, taman, balai pertemuan, ruang RPTRA, gedung olahraga, dan museum.
6. Makan di restoran atau tempat makan umumnya. Hanya boleh untuk dibawa pulang.
7. Resepsi pernikahan dan khitanan dilarang. Menikah boleh di KUA.
8. Kegiatan sosial budaya.

Dari pemberlakuan PSBB di zona merah terutama pada kota-kota besar yang memang perekonomian di daerah tersebut sangat berperan terhadap keseharian masyarakat, seperti pabrik-pabrik, pusat pemberlanjaan, bahkan akses jalan pun dijaga ketat sehingga menimbulkan dampak yang sangat terlihat dengan diberlakukannya PSBB. Salah satunya banyak perusahaan yang memberhentikan karyawannya, sehingga angka pengangguran meningkat tajam.

Dari munculnya masalah pengangguran yang meningkat menyebabkan banyak terjadi kasus kriminalitas, khususnya pencurian. Para pelaku yang tertangkap mengakui atas kesalahannya dengan alasan hasil yang diperoleh dari pencurian digunakan
unyuk bertahan hidup. Meskipun demikian alasan ini tidak dibenarkan, mereka harus menerima imbas dari aksi kejahatan mereka.

Didukung dengan keputusan MENKUMHAM (Mentri Hukum dan Hak Asasi Manusia) yg melepaskan beberapa napi dengan alasan di balik dikeluarkannya napi karena ingin mengurangi penyebaran COVID-19 di dalam penjara. Tidak sedikit dari mereka yang dibebaskan melakukan aksi kembali sehingga harus mendekam di jeruji besi untuk kedua kalinya.

Dalam hal ini juga ketahanan pangan harus diutamakan dengan memanfaatkan lahan yang masih produktif dan pemerintah harus menjaga kestabilan harga pangan agar tidak terjadi kenaikan harga pangan. Dengan begitu bisa meringankan biaya untuk bertahan hidup di tengah pandemi ini. [*]

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan