Spanduk Aneh Sambut Kedatangan Raja Salman ke Masjid Istiqlal

0
88

JAKARTA, Limadetik.com – Serangkaian pertemuan telah dilakukan oleh Raja Saudi, Salman bin Abdulaziz Al Saud. Berbagai cara pun dilakukan masyarakat Indonesia menyambut kedatangan Raja Arab Saudi, Salman bin Abdulaziz Al Saud.

Seperti yang terlihat dalam kunjungan Raja Salman ke Masjid Istiqlal, sekelompok ibu-ibu dari kaum sumbu pendek membentangkan kain spanduk berbahasa Arab di halaman Masjid Istiqlal, saat menyambut kedatangan Raja Salman.

Spanduk sepanjang 2,5 meter, menurut warga yang tidak ingin disebut namanya mengungkapkan ingin menyampaikan pesan kepada Raja Salman. Ketika ditanya apa isi pesan di spanduk ini, mereka hanya mengatakan “Ahok dan kriminalisasi ulama”, padahal tulisan itu panjang.

Entah ibu-ibu ini paham dengan tulisan yang ada di atas spanduk itu atau tidak, yang jelas mereka hanya sekumpulan orang yang dijadikan alat untuk memprovokasi dan mempolitisasi kunjungan Salman ke Istiqlal.

Spanduk itu setidaknya berbunyi, “Selamat datang Raja Salman, kami ingin beritahu Anda untuk melarang Presiden kami Jokowi menzalimi ulama kami dan tangkap segera penista agama.”

Entah siapa yang menggerakan, aneh rasanya rakyat Indonesia harus mengadu kepada Raja Salman. Memangnya Raja Salman itu siapa? Raja Salman itu, raja bagi bangsa Arab Saudi bukan Indoneisa.

Kasus dugaan penistaan agama tengah disidangkan, sebagai warga yang taat hukum selayaknya menunggu hasil keputusan hakim. Adapun ulama yang saat ini diperiksa mabes polri bukanlah kriminalisasi, karena alat buktinya ada sehingga ada yang sudah ditetapkan sebagai tersangka, dan ada juga yang masih menjalani pemeriksaan.

Seorang politisi DPR minta jangan kriminalisasi ulama. Benar, tapi ulama tidak kebal hukum. Ulama di mata hukum sama dengan seluruh warga negara lain. Mengapa giliran ulama yang diduga menggelapkan dana umat, kalian berteriak kriminalisasi? Apa ulama itu kebal hukum?

Dikit-dikit kriminalisasi, tajam ke bawah. Ini hasutan demi kepentingan politik, beri polisi ruang untuk bekerja dan membuktikan mana yang benar dan mana yang salah.

Ulama sebagai pewaris para Nabi adalah kedudukan yang mulia, kenapa memainkan peran ganda, ulama sekaligus politisi? Ulama juga  harusnya menjadi penenang jangan malah menakut-nakuti. Ulama harusnya menjadi penyejuk jangan malah ngompori.

Maka dari itu, masuknya ulama dalam pusaran politik mesti terus dikritisi agar ulama menjalankan fungsinya sebagai pewaris para Nabi, mewujudkan kedamaian, dan memperkuat keindonesiaan. Kita beruntung, Indonesia masih punya ulama-ulama yang menjaga jarak dengan politik dan terus menjadi lentera bagi bangsa. KH Mustofa Bisri, KH Said Agil Siradj dan Buya Syafii Maarif merupakan ulama-ulama yang terus menjadi lentera bagi bangsa ini. [ARN/RD]

loading...

LEAVE A REPLY