Inilah Perjuangan dan Nasib Anak TK di Probolinggo

0
121

PROBOLINGGO, Limadetik.com – Semangat belajar untuk menuntut ilmu tak pernah menyurutkan perjuangan sejumlah anak-anak yang masih duduk di bangku taman kanak kanak (TK), walaupun setiap hari mereka pergi kesekolah harus mempertaruhkan nyawa untuk sampai ke seberang sungai tempat mereka belajar.

Kini kepedulian pemerintah setempat pun dipertanyakan, pembangunan infrastruktur di kabupaten probolinggo jawa timur, sampai saat ini belum bisa membantu meringankan beban masyarakat, lebih-lebih jembatan penghubung sebagai alat penyeberangan.

Hal ini sangat dirasakan oleh anak-anak yang ingin menimba ilmu di daerah tersebut, setiap harinya ada belasan siswa TK harus melintasi derasnya air sungai agar bisa bersekolah. Mereka menerobos aliran sungai lereng pegunungan Argopuro, karena tidak mempunyai jembatan penghubung antardesa.

Tak cuma siswa TK yang seperti itu. Tetapi juga siswi sekolah lain dari tingkatan SD, SMP, sampai SMA/SMK yang punya perjuangan serupa ketika menuju sekolah.

“Di sini tidak ada jembatan, jadi saya terpaksa lewat sungai ini. Kalau air sungai lagi deras saya sering terlambat ke sekolah karena kesulitan menyeberang sungai,” kata salah satu siswa, Mohammad Sukron, saat menyeberang sungai, Selasa (25/4/2017).

Tidak hanya anak usia sekolah, ketiadaan jembatan penghubung juga dirasakan oleh warga pada umumnya sehingga akses transportasi antardesa tersendat.

“Jika kami putar arah harus melewati persawahan dan memakan waktu lama,” ucap orangtua siswa, Hanimah.

Sementara itu, salah satu tenaga pengajar, Eko Samsul Bahri mengatakan, berbagai upaya telah dilakukan sekolah dan pihak desa agar pemerintah daerah membangun jembatan penghubung. Namun, hingga kini upaya itu belum juga direalisasi pemda setempat, sehingga tetap mengharuskan para siswa sekolah menyeberangi sungai.

“Hingga saat ini, pembangunan jembatan di sungai Rondoninggo ini juga tak kunjung kami rasakan,” ujar Eko.

Pantauan beberapa media,hampir setiap hari para siswa-siswi ini berangkat dan pulang sekolah dengan menyeberangi daerah aliran Sungai Rondoninggo yang berada di kaki lereng pegunungan Argopuro.

Selain harus mencopot sepatu dan menyingsing seragam, mereka harus bertaruh nyawa melawan derasnya arus. Sebagian siswa bahkan dibantu dan digendong oleh orangtua agar bisa menyeberangi sungai selebar 15 meter.

Menerobos sungai menjadi satu-satunya cara karena kawasan tersebut tidak memiliki jembatan penghubung desa. Padahal lokasi sekolah dengan desa-desa terdekat dipisahkan sungai. Jika debit air sungai meningkat pasca hujan, para siswa sekolah ini pun terpaksa bolos.

 

(yud/toni)

loading...

LEAVE A REPLY