Pemeluk Agama Minoritas, Guyana Miliki Banyak Masjid

Muslims offer namaz on Eid at the Fatehpuri mosque in Chandni Chowk, Old Delhi on saturday. Express Photo by Tashi Tobgyal New Delhi 180715

Limadetik.com – Dr Sabeel Ahmed seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ketika menuju hotel setiba dari bandara, Direktur GainPeace Project itu menyaksikan banyak sekali masjid di sepanjang jalan yang dilalui. Azan bergema dari tiap masjid itu.

Jamaah pria dengan kopiahnya, sedangkan jamaah wanita yang berjilbab tampak bersemangat hendak melaksanakan ibadah shalat fardhu. Sejenak dia berpikir, apakah dirinya sedang di Pakistan atau di negara kawasan Timur Tengah?

Pada kenyataannya, Dr Sabeel menyadari bahwa dia sedang tidak berada di wilayah negara-negara Islam, seperti Timur Tengah. Dr Sabeel kaget dan kagum luar biasa karena negeri yang disinggahinya adalah Guyana. Bangga, karena agama Islam dijalankan dengan sangat baik di negara yang terletak di wilayah pesisir utara Amerika Selatan itu.

Guyana, memang tak begitu terkenal di dunia. Bahkan, luas wilayahnya hanya 214 ribu meter persegi dan jumlah penduduknya pun hanya sekitar 777 ribu jiwa pada tahun 2006. Bandingkan dengan DKI Jakarta yang jumlah penduduknya mencapai delapan juta jiwa lebih. Pemeluk agama Islam di Guyana pun merupakan kelompok minoritas. Namun, soal implementasi ajaran Islam, kaum Muslim Guyana konsisten dalam menjalankannya.

Di sinilah, agama Islam menemukan momentumnya. Bahkan, termasuk yang paling pesat perkembangannya di kawasan. Salah satu indikator adalah jumlah masjid yang cukup banyak di negeri itu.

Seperti dicatat Organisasi Islam Pusat Guyana (CIOG), terdapat sekitar 145 unit masjid. Sarana ibadah itu tersebar di seluruh penjuru negara. Padahal, komunitas Muslim sendiri mencakup sekitar tujuh persen dari populasi.

Beberapa waktu lalu, Dr Sabeel berkesempatan berkunjung ke negara yang bertetangga dengan Brasil ini untuk kegiatan dakwah dan presentasi mengenai agama Islam. Dirinya merasakan kegairahan beragama di kalangan umat. Setiap acara yang dihadiri Dr Sabeel, senantiasa disambut antusias warga Muslim. Mereka seolah haus akan syiar dan bimbingan agama.

Sejak beberapa tahun terakhir, umat Muslim setempat mengekspresikan semangat itu pada sebuah kegiatan besar bertajuk Festival Islam. Acara berlangsung sepekan penuh dilakukan di kota-kota besar sampai ke desa. Beragam aktivitas keagamaan digelar. Mereka juga mengundang tokoh-tokoh Muslim dari luar negeri.

Dr Sabeel termasuk salah satu tamu undangan. Ia datang bersama dua tokoh asal Kanada. Selama di Guyana, Dr Sabeel sangat terkesan dengan kondisi beragama di sana. Ini membuktikan agama Islam sedang menuju era baru di kawasan Amerika Selatan, kata Dr Sabeel.

Pada festival yang kini rutin diselenggarakan setiap tahun itu, pesan dan informasi tentang Islam disebarluaskan. Tausiyah (nasihat keagamaan) senantiasa mengisi relung jiwa. Mereka menggelarnya di kota, desa, jalan-jalan, sekolah, hingga kampus. Melalui televisi dan media lain, kalangan di luar Islam bisa turut memberi perhatian.

“Saya telah melakukan sebanyak 24 presentasi dan dakwah, juga berbicara di lima stasiun televisi,”kata Dr Sabeel bangga, dalam tulisannya berjudul Islam Spreading Fast in South America.

 

[tm]

LEAVE A REPLY