Sengketa Tanah Dekat Bandara Trunojoyo, Pengacara Tergugat : Ditemukan Perbedaan Batas Obyek

SUMENEP, Limadetik.com – Sengketa tanah seluas 1.380 M2 di Desa Kacongan, Kecamatan Kota Sumenep, Jawa Timur belum menemukan titik temu antara penggugat dan tergugat. Sehingga, Majelis Hakim Pengadilan Agama (PA) Sumenep yang menangani kasus itu terpaksa melanjutkan proses hukum dengan melakukan Pemeriksaan Setempat (PS), Jum’at (12/5/2017).

Kasus sengketa ini melibatkan anak angkat Hj. Maryam, warga Desa Karang Anyar, Kecamatan Kalianget sebagai tergugat, dan Musura/ Masduri, warga Desa Marengan Laok, Kecamatan Kalianget sebagai penggugat.

“Jadi hari ini, 2 anggota Majelis Hakim didampingi Panitera Pengganti melakukan PS ke objek sengketa di Desa Kacongan,” kata Kuasa Hukum tergugat, Sulaisi.

Dalam PS tersebut, melibatkan banyak pihak, diantaranya beberapa orang yang menjadi saksi di PA, meski mereka bukan orang yang tidak memiliki hak terhadap objek sengketa.

“Sementara penggugat yang namanya Musura ini tidak berada di lokasi,” sambungnya.

Saat pemeriksaan setempat, lanjut dia, ditemukan perbedaan batas-batas objek antara versi penggugat dengan fakta, bahwa ternyata objek yang digugat tidak sesuai.

“Saat ditanya apa betul objek ini yang disengketakan, ya kami jawab dan menyatakan bahwa ini objeknya, dimana dalam menurut tergugat adalah sengekata waris, sementara versi kami adalah tanah hak milik dari Mamluatun yang dihibahkan oleh orang tua angkatnya, Hj. Siti Maryam,” bebernya.

Sementara itu, saat beberapa awak media konfirmasi langsung ke pihak Majelis Hakim dan Panitera yang turun ke lokasi yang berada tepat sebelah utara bandara Trunojoyo, tak satupun dari mereka yang mau membuka suara dengan alasan masih pemeriksaan.

“Maaf mas, ini masih pemeriksaan, belum bisa disimpulkan,” jawabnya singkat.

Sementara, masih menurut penuturan Sulaisi, usai pemeriksaan setempat tersebut, Majelis Hakim masih mengagendakan pemeriksaan lanjutan dengan meminta keterangan Badan Pertanahan Nasional (BPN) Sumenep.

“Pada tanggal 1 Juni mendatang, akan dilanjutkan pemeriksaan dengan meminta keterangan pihak BPN,” ucapnya.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, tanah seluas 1380 M2 tersebut oleh Hj. Maryam didapatkan dari hasil membeli kepada seseorang, dan sekarang oleh Hj. Maryam sudah disertifikat atas nama keturunannya.

“Persepektif kami, gugatan ini adalah gugatan waris, tetapi bagi kami itu bukan tanah waris, itu adalah hak milik seseorang yang orangnya masih hidup sekarang,” kata Sulaisi pada awak media, Rabu (5/4/2017).

Sulaisi menceritakan, sebetulnya sudah sekian lama tanah tersebut dikuasi kliennya, baru dua tahun yang lalu ada beberapa orang yang mengaku-ngaku hak waris, bahkan di persidangan terungkap sampai menurunkan preman agar Hj. Maryam tidak lagi menguasai tanah itu.

“Nah, kesimpulan kami, ini terkesan dipaksakan, seolah-olah tanah ini tanah waris, padahal bukan,” tukasnya.

(Hoki/toni)

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY