Predikat Siti Fadilah Supari Dimata Dunia Menjadi Dorongan Harapan Bebas Dari Banyak Pihak

eka pangulumari H bersama mantan menkes siti fs

MAGETAN, Limadetik.com – Mantan Menteri Kesehatan era Presiden SBY 2004 – 2009, Siti Fadilah Supari, tampaknya memiliki kinerja yang cukup diakui dunia, hingga akhirnya mendapatkan dukungan di Internasional. Sedikitnya yang dihasilkan oleh mantan Menteri Kesehatan era SBY tersebut sebagai penemu Zat Omega3 yang pernah tanggulangi virus H5N1 (Flu burung).

Dengan adanya kerja keras Siti Fadilah Supari, hal tersebut dapat menaklukkan Amerika Serikat melalui sidang WHO yang menghasilkan kesepakatan Internasional, agar virus strain Indonesia tidak diperbolehkan diperdagangkan secara bebas maupun dibawa keluar negeri tanpa izin sebuah organisasi kesehatan dunia WHO (World Health Organization).

Tulisan diatas merupakan sedikitnya merupakan pesan yang diterima Limadetik.com, dari pimpinan Konggres Konfederasi Serikat Buruh Indonesia (KASBI, Eka Pangulimara Hutajulu. Namun dalam tulisan tersebut, Alumnus Universitas Sebelas Maret Solo, itu menilai bahwa kerja keras Siti Fadilah Supari, terhenti dengan adanya pembunuhan karakter yang membawanya digelandang mendekam di balik jeruji besi di Rutan Pondok Bambu,  Jakarta Timur, pada 24 Oktober 2016 lalu.(Baca juga :Dukungan Bebas Siti Fadilah Supari Mengalir Dari Penjuru Indonesia)

Dalam tulisan pesan disebutkan banyak dukungan yang beranggapan bahwa Siti Fadiah Supari dalam permasalahan ini dinilai tidak bersalah. Berikut tulisan dan dukungan yang mengalir dari berbagai pihak yang diterima pimpinan Konggres Konfederasi Serikat Buruh Indonesia (KASBI, Eka Pangulimara Hutajulu, ketika diterima Limadetik.com, Jum’at (16/6/2017).

 ‘’ Jamkesmas untuk seluruh rakyat Indonesia.  Penemu Zat Omega3,  ilmuwan kesehatan nasional berkaliber dunia yang pernah tanggulangi virus H5N1 flu burung. Berhasil taklukan AS melalui sidang WHO beberapa waktu silam,  menghasilkan kesepakatan internasional.  Agar virus strain Indonesia tidak boleh asal dibawa ke luar negeri tanpa seijin WHO.  Sehingga antrian vaksin tdiak dapat dipergangkan bebas,  mengobok-obok kedaulatan sebuah negara.  Atas bom virus yang diciptakan manusia dan koorporasi.

Berikutnya,  atas nama kemanusiaan,  virus tak dapat dipergunakan sembarangan apalagi dijadikan agenda peperangan senjata biologis pemusnah massal di dunia.

Tiga puluhan tahun di Indonesia,  pangkalan militer AS ternyata kuasai pertahanan negara melalui sektor kesehatan.  Namru 2, berhasil ditutup dan dipindahkan atas kesepakatan bersama pemerintahan Indonesia dan AS.  Tidak banyak jendral militer sekalipun mampu mengusir Namru 2. 

Berkat kegigihan perlawanan dan spirit nasionalisme yang bersegi kedaulatan rakyat,  Menteri Kesehatan RI di jaman KIB 1, berhasil memastikan pertahanan nasional di bidang kesehatan benar-benar berdiri tegak,  lucuti neoliberalisme.

Siti Fadilah Supari mendapat dukungan internasional yang kian meluas.  Namun,  pembunuhan karakter menjadi harga yang harus dibayar,  atas berbagai tuduhan issue korupsi di tubuh kementrian kesehatan. 

Karya tulis yang sempat dibukukan berjudul “Saatnya Dunia Berubah,  Tangan Tuhan Dibalik Virus Flu Burung”  pernah beredar di toko buku ternama.  Dicetak ulang hingga tujuh kali.  Edisi berbahasa Inggrisnya juga tercetak ulang hingga dua kali. Banyak aktifitas pembagiaan buku ini untuk dibagikan secara gratis dalam banyak acara,  untuk kepentingan kelompok sosial,  akademisi, politisi,  dan lainnya.

Sejak 24 Oktober 2016, SFS digelandang mendekam di balik jeruji besi, rutan Pondok Bambu,  Jakarta Timur.

Delapan bulanan berjalan bersama proses pengadilan di PN Jakarta Pusat.  Dan hari ini,  Jumat,  merupakan agenda sidang pembacaan putusan atas seluruh tuduhan,  dakwaan JPU KPK yang selama ini membelenggu eksistensi politik Ibu Siti Fadilah.

Pukul 13. 00 WIB hari ini dimulainya proses persidangan atas kebenaran yang sesungguhnya harus diungkap. Siti Fadilah tidak bersalah. Demi sebuah keputusan yang berkeadilan dan memanusiakan. Udara kebebasan adalah takdir sejarah yang mesti dialami sosok Ibu,  Nenek,  dan senyum anak serta cucunya..

Doa dan harapan besar menggunung di hari ini, serukan kebenaran dan keadilan!

Eka Pangulimara H.

Penulis   : DMTN

Redaktur penyunting  : YD

LEAVE A REPLY