H-1 Lebaran, Tradisi “Tong-Patong” Daging Sapi di Kertagena Tengah tetap Kokoh Untuk Memepererat Silaturrahm

tradisi urunan potong sapi yg tetep kokoh dimadura pamekasan

PAMEKASAN,Limadetik.com – Menjelang H-1 lebaran Idul Fitri 1438 Hijriah di sejumlah desa kecamatan Kadur terdapat Tradisi” Tong-Patong” (patungan daging sapi) untuk tetap memperkokoh tali silaturrahmi antar warga maupun antar desa.

Salah satunya, di Desa Kertagena Tengah, Kecamatan Kadur, Kabupaten Pamekasan, budaya tersebut diatas, hingga saat ini masih dapat dipertahankan. Tradisi “Tong-Patong” yang cukup lama itu menjadi momentum rutinan tahunan menjelang hari raya idul fitri.

Menurut salah satu ketua paguyuban arisan mingguan ( yang biasa dilaksanakan Senin malam), Ach. Rafiuddin menuturkan, program seperti tersebut diatas sudah cukup lama berlangsung di dusun Berkong Barat, namun di dusun lain juga ada “patongan” daging sapi.

“Kegiatan seperti ini sudah rutin kami lakukan setiap tahun, dengan cara ini, mungkin bisa mengatasi harga daging di pasaran yang semakin hari semakin meningkat,” jelasnya kepada limadetik.com saat dikonfirmasi, Sabtu (24/6/2017) pagi.

Disamping itu, dengan program kegiatan seperti ini, lanjut Rafi, dapat mempererat hubungan silaturrahmi antar sesama muslimnya.

Sebab, dengan tradisi “patongan” daging ini, dipastikan kan jauh lebih murah ketimbang membeli di pasar.

“Sekarang kalau beli ke pasar harganya cukup mahal,” keluhnya.

Namun, dengan sistem urunan ini, kata Rafi, warga yang memesan itu, akan lebih murah harganya.

Caranya, jelas Rafi, sebelum bulan puasa sudah dirapatkan, siapa saja yang akan “Matong” (mesan) nantinya akan dicatat dan pastinya mereka sudah punya gambaran akan memesan berapa rupiah harga.

“Kalau untuk keuangan dikumpulkan terlbih dahulu, ada yang mesan 100.000,- 150.000, 200.000 hingga ada yang juta’an,” terang Achmad Rafiuddin.
Bila sudah terkumpul semua keuangannya, maka, H-7 atau sebelum itu, akan dibelikan sapi untuk disiapkan H-1. penyembelihan dilakukan, satu hri sebelum hari raya.
Sistem pembagian, dilakukan setelah penyembelihan sapi dan pemotongan selesai.
“Enaknya, kalau motong sendiri kita dapat tulang, usus dan tambahan lainnya”,harga sangat terjangkau, dan pembagianpun sangat rata, bahkan semua tulang yang masi menempel dagiing, dibagikn juga, sehingga, hampir mencapai 4,5 KG memesan Rp. 300 ribu,” ungkapnya.
Dirinya berharap, tradisi ini tetap akan mengalir hingga ke anak-anak dan cucunya nanti agar dipertahankan. Sehingga, jalinan silaturrahmi tetap kuat.
“Mudah-mudahan, tradisi “Tong-Patong” ini tetap bertahan hingga nanti bisa dilanjutkan oleh anak cucu kami,” harapnya.
(Arif/Yd)

LEAVE A REPLY