Tamparan Istri Jenderal Polisi Menampar Jajaran Kepolisian

Sabtu,8/7/2017

Sorotan: Yousri Nur Raja Agam MH

(Artikel) – POLISI kita saat ini benar-benar sedang diuji. Situasi Kamtibmas (Keamanan dan ketertiban masyarakat) di seluruh Nusantara sedang dievaluasi. Namun, bersamaan dengan berbagai ujian yang menimpa penegak hukum kita ini, ada kejadian-kejadian yang unik, menggelikan dan bahkan memalukan aparat berseragam coklat ini terjadi.

Salah satu ujian “berat” yang membuat jajaran kepolisian negara kita dilanda “demam” adalah ulah para teroris. Mereka, melakukan teror mulai dari membawa ransel berisi “bom panci”, sampai melakukan teror yang kelihatan “sederhana” dengan hanya menggunakan pisau dan sangkur. Tetapi, tingkah teroris yang masih muda-muda itu, benar-benar menakutkan. Korbannya, mematikan dan membuat luka dan cacat, orang-orang tak berdosa.

Belum usai pembicaraan yang menyangkut teror yang membuat trauma kalangan Polri itu, suatu peristiwa yang tidak layak terjadi di tengah-tengah gegap gempitanya rangkaian peringatan Hari Bhayangkara ke-71, 1 Juli 2017 pekan lalu.

Kejadian itu, mau tidak mau, menjadi “tamparan” bagi korps kepolisian negara Republik Indonesia. Persoalannya, sebenarnya “sekilas”, tetapi menjadi viral di dunia maya, karena video berdurasi 12 detik itu diunggah melalui media sosial, serta tersebar luas di mediamassa.

Mungkin, merasa tersinggung atau dianggap berlebihan, seorang ibu bertengkar dengan petugas avsec (aviation security) saat akan memasuki gerbang X-Ray SCP 2 di Bandara Sam Ratulangi, Manado pada hari Rabu 5 Juli 2017 pukul 07.20 Wita. Alarm di atas pintu metal detector masih berbunyi. Petugas memberitahu si ibu berbaju hitam dan berkacamata itu untuk melepas jam tangan dikenakannya.

Bahkan, dengan emosi sang ibu yang juga didampingi anaknya “menampar” petugas sekuriti perempuan di depannya. Peristiwa pertengkaran sampai penamparan terhadap petugas sekuriti bernama Jennifer Elizabeth Wehantouw itu sangat jelas dalam rekaman video yang beredar luas di media sosial dan diberitakan hampir di semua mediamassa.

Ibu paruh baya yang awalnya hanya ditulis dengan inisial JW di mediamassa itu, dibenarkan oleh Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Rikhwanto di Mapolda Metro Jaya, Jumat (7/7/2017) adalah Joice Warouw (46). Kemudian saat dikonfirmasi awak media, Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Setyo Wasisto, menyebut nama lengkap ibu itu adalah Joice Onsay Warouw. Memang, dia isteri dari Brigjen Pol Jonah Sumampouw yang menjabat sebagai Direktur Materi Pendidikan Debiddikpimtknak Lemhanas RI.

Kendati demikian, Wakapolri Komjen Pol Syafruddin, kepada wartawan ketika berada di Istana Wakil Presiden, menyebut, suami Joice itu sudah pensiun empat tahun lalu.
Dalam hal ini, Polisi dipastikan serius menangani kasus penamparan yang dilakukan istri jenderal Polri, Joice Warouw (46), terhadap petugas aviation security (avsec) Bandara Sam Ratulangi, Manado, Sulawesi Utara itu.

Polisi (jajaran atas), memastikan tak ada intervensi penyelidikan dan penyidikan kasus ini. “Di mata hukum itu sama semuanya, sesuai undang-undang itu tidak ada perbedaan. Jadi siapa yang berbuat, kemudian itu melanggar pidana dan dilaporkan, ya kita proses,” ujar Rikhwanto.
Walapunpun latar belakang terlapor sebagai istri purnawirawan jenderal Polri, tak akan mempengaruhi proses penyelidikan kasus penamparan petugas bandara ini.

Sang suami hanya bisa menyaksikan pemeriksaan jika ikut mendampingi istrinya. “Melihat saja boleh. Kalau mencampuri tidak boleh. Penyidik itu harus pure memeriksa apa adanya dengan faktanya. Polisi juga tak berhak mengintervensi agar kasus ini diselesaikan secara damai dan masing-masing pihak mencabut laporannya. Sebab, keputusan ada di pihak yang berperkara. Jadi, itu tergantung kedua belah pihak yang bertikai. Kita serahkan kepada mereka saja,” tandas Rikhwanto.

Petugas Avsec Jennifer Elizabeth Wehantouw, sudah langsung melaporkan kejadian yang menimpa dirinya kepada Polsek Bandara Sam Ratulangi , Manado, sebagai “penganiayaan ringan”. Demikian pula dengan Joice Onsay Warouw si ibu yang menampar Jennifer, juga melaporkan kejadian itu sebagai “perbuatan tidak menyenangkan”.

Nah, ke dua perempuan ini sama-sama melapor ke polisi. Kita dan masyarakat Indonesia sekarang sedang menunggu proses hukum “yang sesungguhnya”. Bahwa, rekaman video yang viral itu sudah menjadi bukti nyata di mata kita. Tetapi, apakah mungkin ada dalih lain, yang menyatakan bahwa rekaman video (maaf: amatir) yang spontan atau sertamerta mendokomentasikan kejadian itu, “bukan barang bukti?”

Setelah kejadian itu, pihak manajemen PT.Angkasa Pura I Manado, member kesempatan kepada Jennifer Elizabeth Wehantouw untuk beristirahat dan menjalani pemulihan psikis yang dialaminya. Petugas Avsec yang masih remaja itu diperkenankan libur mulai Jumat (7/7/2017) dan kembali bertugas hari Senin (11/7/2017). Kabarnya, peristiwa ini secara psikologis tidak hanya dirasakan oleh Jennifer, tetapi juga keluarganya.

Kasus “penamparan” oleh oknum ibu Bhayangkari ini menjadi “tamparan” pula bagi jajaran korps Kepolisian kita.

Oleh sebab itu, jangan sampai ada kesan, aka nada rekayasa dalam penyelesaian kasus ini. Sebab, arah ke sana sudah tergambar. Setelah, “korban penganiayaan ringan” yang ditampar melapor ke polisi, “pelaku penamparan” juga melapor sebagai “korban perbuatan tidak menyenangkan”, kepada polisi yang sama di tempat yang sama.

Tentu, khalayak tidak ingin masalah ini berakhir dengan “86” atau sekedar “berdamai”. Walaupun, rekayasa yang demikian sah dan halal. (**)

Penulis : Yousri Nur Raja Agam MH

Penyunting : Yd/LD

LEAVE A REPLY