https://limadetik.com/

Terakhir di Pemakaman Bundha

  • Bagikan
Terakhir di Pemakaman Bundha
FOTO: Ilustrasi kuburan

OLEH: Rofi Hatin
________________________

CERPEN: Terakhir di Pemakaman Bundha

limadetik branding

Kepalaku masih terasa pening, terbayang wajah bundha didetik terakhir bersamanya. Tepat dihari senin merupakan hari dimana semuanya akan benar benar berakhir. Harapan untuk selalu bersamanya hanya tinggal mimpi belaka. Ia adalah perempuan tangguh nan kuat.

Berbulan bulan menahan sakit diantara uluh hati dan rongga mulutnya. Satu minggu ia melewati sakit yang amat parah. Namun lagi lagi ia adalah perempuan tangguh. Setiap waktu tak pernah lepas dengan sholawat, dzikir dan istigfar. Siap sangka Tuhan tenyata lebih menyayangnginya.

Malam sebelum ia dipanggil oleh sang pencipta, kami sempat tertawa bersama, kusuapi ia dengan bubur yang sudah disiapkan oleh kakak perempuanku, kupikir ia sudah lebih membaik. Walau tepat di jam dua belas malam, entah mengapa kami dilanda oleh rasa ngantuk yang amat berat, semua terlelap dan membiarkan bundha berteriak membaca sholawat dan menyebut nama Allah dengan suara yang amat lantang. Sampai azan subuh berkumandang, ia terlelap dengan wajah penuh letih.

Lima jam berlalu, ia masih terlelap. Tak ada lagi teriakan kesakitan dan sholawat seperti yang dibacanya. Semua kerabat berdatangan, membaca surah yasin dan tahlil bersama. Sampai Azan dzuhur berkumandang, aku masih disampingnya, menggenggam erat tangannya dan terisyak bersama sepupu perempuanku yang merupakan anak dari almarhumah bundha.

Tak berapa lama, seseorang menuntun kalimat syahadat dan menyebut nama Allah disampingnya, tepat di sebelah telinganya. Lambat laun Orang orang serentak menuntunya dengan kalimat syahadat, dalam hati aku meminta kepada Tuhan untuk menginzinkan bundha tetap bersama kami. Namun realitanya, manusia hanya mampu berusaha selebihnya Allah lah yang maha tahu segalanya.

Bundha, aku tidak pernah membayangkan ini semua akan terjadi secepat ini, perempuan hebat setelah umi, kini telah pergi untuk selamanya. Tangis histeris memenuhi seisi rumah, aku tidak tahu harus berbuat apa. Bundha adalah tempat berbagi cerita, tempat terhangat dari kebanyakan orang tua. Dia adalah bidadari tak bersayap yang bermahkota cahaya. Dalam sekejap, semua terasa memilukan. Inilah patah hati tehebat yang pernah aku alami.

“Bundha bangun” teriakku bersama kakak perempuan. Tidak perduli beberapa orang yang berusaha memisahkan pelukan ini. walau dalam beberapa waktu, tubuhku lemas dan pandangan mata mulai menguning. Seseorang memanggilku namun hanya kehangatan nafasnya yang dapat kurasakan kala itu.

Dalam sadar, aku berharap ini hanya mimpi buruk. Aku pikir bundha masih terlelap dan sebentar lagi akan bangun dan aku akan menyuapinya karena sudah memasuki waktu ia makan siang. Aku diantarakan oleh bapak, semua menatap kearahku, memelukku dan terisak menghalangiku untuk menemuinya. Setelah beberapa kali mencoba menenangkan diri, akhirnya aku memberanikan diri untuk ikut memandikannya sebagai yang terakhir kalinya, setelah beberapa hari yang lalu aku dan kakakku memandikan ia dengan tawa sang bundha.

Sehabis itu, bundha mulai dikafani. Seolah isi dunia tertunduk menyaksikan semua ini. tubuhku mulai gemetaran dan ngilu terasa kuat memporak porandakan hati. Bidadariku telah benar benar pergi dan ia tak akan merasakan sakit lagi.

Sesampainya di pemakaman, tubuhku kembali tak berdaya. Tidak ada lagi perempuan hebat yang akan selalu memotivasi dan membelaku disaa orangtuaku tak menyetujui dengan hal hal yang kulakukan, kini tak ada lagi senyum dan tawa renyah darinya saat aku bercerita tentang perjalanan asmara dan takan lagi seseorang yang akan mendengarkan perjuanganku dalam menimba ilmu pengetahuan. Disinilah, diatas gubukan tanah dengan aneka bunga serta doa sebagai pengiring langkah terakhir dirimu di dunia ini. Namun janji dan abdiku padanya tak akan pernah pupus sampai disini.

Selamat jalan bidadari surga, selamat hari ibu dan semoga engkau tenang di alam sana. Alfatihah untukmu bundha.

Perpus, 22 Desember 2021

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan