https://limadetik.com/

Cerpen: Selembar Kertas untuk Sang Anak

  • Bagikan
surat wasiat
foto Ilustrasi

Sumenep, 25 Februari 2020

Oleh: Herdayanti

limadetik branding

Limadetik.com — Orang tua adalah salah satu hal yang paling terpenting di dalam hidup seorang anak, selain menjadi penunjuk jalan, orang tua juga menjadi jalan kebahagiaan yang hakiki, orang tua tempatnya kita mengadu permasalahan baik yang negatif maupun positif karena restu orang tua adalah Ridhonya Allah. Orang tua adalah kebahagiaan yang tidak ternilai dengan seberapa besar pengorbanannya yang telah diwariskan kepada sang anak.

Orang tua menjadi tonggak kehidupan bagi anaknya, namun terkadang permasalahan ini menjadi hal sepele dikalangan anak remaja yang tidak pernah mementingkan kerja keras sang ibu, sikap anak seolah menjadikan orang tuanya seperti pembantu yang tanpa ngaji, sungguh dramatis remaja saat ini yang terlalu mementingkan ego, peran orang tua ibaratkan tali yang jika ikatannya terputus maka tidak sedikit dari anaknya yang kurang ajar, ini bisa disebabkan anaknya memiliki sifat keras kepala bahkan tidak pernah mementingkan perasaan orang tuanya yang dimana tanpa seorang orang tua khususnya ibu mereka tidak akan pernah mengenal apa aja yang ada didalam permasalahan hidup.

Permasalahan orang tua bukanlah hal yang besar atau menjadi permasalahan besar di kalangan masyarakat namun sudah menjadi permasalahan yang hakiki yang tidak bisa diselesaikan tanpa adanya kesadaran didalam diri kita masing-masing, terkadang permasalahan yang seperti ini menjadi pokok pembahasan yang sudah lumrah, betapa berharganya seorang kedua orang tua bagi kehidupan kita, penyesalaan akan timbul ketika keduanya sudah tiada seperti yang dirasakan anak yang satu ini.

Samsul namanya adalah anak yang paling tidak tahu menghargai kedua orang tuanya, orangnya yang mempunyai sifat keras kepala dia adalah anak yatim, dia tinggal bersama dengan ibunya yang dimana sudah sangat tua sang ibu hanya mengharapkan kerja keras sang anak namun sang anak tidak mengerti akan hal itu karena sang anak hanya mementingkan sikap foya-foya nya ketimbang membiayai sang ibu. Sungguh dramatis.

“Nak,,,! ‘’ujar sang ibu.

“Iyya ada apa nenek bangka” sahut sang anak di depan pintu.

“Apakah hari ini kamu punya uang, soalnya bahan didapur sudah tidak ada” tanaya sang ibu dengan nada pelan.

“Ehhh, kok minta uang sama aku, justru aku yang harus minta ke ibu, ibukan yang menjadi kepala keluarga di sini” timpal sang anak.

“Ibukan udah tua nak, ibu juga udah sering sakit-sakitan apa kamu tidak kasian sama ibu,’’ lirihnya menjawab.

“Ibu aja yang cari makan, emang aku mau mengorbankan keringatku demi ibu” cetus sang anak.

“Ya sudah jika kamu tidak mau Insya Allah besok ibu mulai mencari pekerjaan untuk mendapatkan makan kamu biarlah ibu yang banting tulang demi kamu asalkan kamu jangan membenci ibu” sahut sang ibu dengan wajah sedih.

Tanpa berfikir panjang demi kebahagiaan sang anak meski dalam keadaan sakit sekalipun basah, keringat tertumpah tak menjadi halangan bagi sang ibu, hentakan kaki di tepi jalanan menjadi sorotan mata yang terperinci begitulah perjalanannya.

Keriput tangan dan wajah menjadi saksi kerja kerasnya demi sang anak, sungguh kemuliaan hati yang dimilikinya membuat tetesan air mata bertanya-tanya, siapakah anaknya yang tega menindas ketuaan ibunya. Bisikan yang ikut merintih melihat penderitaannya.

“Assalamualaikum..!” salam sang ibu.

“Waalaikumsalam..! Mana uangnya” sahut sang anak sambil mengulurkan tangan.

“Hari ini ibu cuma dapat uang untuk makan kita saja nak, ayok mari makan”. pinta sang ibu.

“Aku butuh uang bukan makan, capek ah ngomong sama ibu gak ada gunanya” cetusnya meninggalkan ibunya di depan meja makan.

“Nak.. makan dulu baru pergi, takutnya nanti makanan ini basi,’’. ajak sang ibu sambil berteriak di depan meja makan.

Sang ibu tidak memakan makanan yang dibelinya tadi, karena beliau yakin bahwa ketika sang anak pulang makanan tersebut akan dimakannya, namun itu hanya harapan yang membuahkan kekecewaan di hati sang ibu.entah mengapa sang ibu merasa bahwa umurnya tidak akan lama lagi, hal tersebut pun menimbulkan kegelisahan yang mendalam karena jika disaat ia nanti tidak ada apakah anaknya akan berubah, itulah yang menjadi pertanyaan yang paling membuatnya sakit. Siksaan demi siksaan yang didapati namun kemurahan hati yang menjadi balasan.

“Nak mendekatlah ke ibu, apakah kamu tidak mau berubah demi ibu, apakah kamu tidak mau melihat ibu bahagia meskipun hanya sebentar, sekarang tempat tidur inilah yang menjadi teman sahaja ibu, apakah kamu tidak mau melihat ke ibu mu ini,’’ pinta sang ibu dengan tatapan.

“Perubahan itu akan ada ketika ibu sudah memenuhi permintaannya aku’’ jawab sang anak.

“Apakah kamu tidak melihat kondisi ibu, ibu sudah tidak berdaya lagi nak, hanya menunggu beberapa jam bahkan menitpun menjadi hal yang sangat ibu takutkan” celutuk sang ibu dengan sedih.

“Itukan urusan ibu, yang namanya ibu ya menafkahi lagi pula kan bapak sudah tidak ada, ya kali aku yang menjadi penafkah, aku kan anak bukan orang tua” timpalnya kembali.

“Sungguh kamu pendusta kepada ayah dan ibumu” ujar ibu dengan lantang.

“Makanya jangan mau jadi orang tua, siapa suruh ngelahirin aku” judes.

“Ibu tidak membencimu nak, namun aku membenci sikapmu, semoga dengan keadaannya ibu mampu membuatmu mengerti dan mengetahui betapa berharganya seorang ibu di mata mu nantinya” lihir sang ibu dengan nada yang lemah dan murung.

Tidak berselang lama pun sang ibu menghembuskan nafas terakhirnya, namun di sela detik detik hembusan nafas sang ibu tidak terpancar sedikitpun dari raut wajahnya kesedihan justru tawa yang selalu dilontarkan serta caci makipun yang terus terlontar.

“Nak ambillah kertas itu dan bacalah dengan hati nuranimu” pinta sang ibu kepada anaknya.

Setelah selesai mengatakan detik-detik itupun berakhir “Innalillahiwainna ilaihirajiun” ujar sang anak. Tidak lama kemudian sang anak pun mengambil sepotong kertas yang berisikan harapan dan keluh kesah yang dirasakan ibunya selama perjuangannya dalam hal membesarkan dan menafkahinya selama dia hidup.

“Ibu bukanlah manusia lemah yang seperti kamu katakan namun ibu lemah karena sikap mu kepada orang yang telah melahirkanmu, kamu tidak pernah mengetahui bagaimana rasa sakit dan lelahnya ibu dalam membesarkan mu, ibu tidak meminta apa-apa darimu, yang ibu minta adalah bagaimana kamu bisa membuat ibumu ini tersenyum itu saja. Ibu tidak meminta balasan materi seperti ibu-ibu yang ada di luar sana, disaat ibu sakit ibu selalu mengatakan sehat kepadamu, ibu tidak pernah sakit atas ketidak hormatan mu selama ini pada ibu, namun yang membuat ibu sakit adalah kamu memperlakukan ibu seperti hewan peliharaanmu.

kini kamu tinggal sendiri tanpa adanya ibu dan ayah semoga dengan semua ini kamu bisa bertahan hidup, mampu mandiri karena ibu dan ayah sudah tidak dapat menafkahimu lagi, ingatlah nak, ibu akan selalu mendoakan mu dan ingatlah juga ibu sudah memaafkan semua kesalahanmu kepada ibu dan ayah agar apa, agar kelak malaikat tidak memberatkanmu diakhirat” begitulah isi dari surat tersebut.

“Maafkan aku ibu, aku tidak tau bahwa selama ini penderitaan yang kau pikul begitu besar, siksaan demi siksaan telah kau lalui karena ku, aku memang anak yang tidak tahu diuntung, Insya Allah aku berjanji demi kebahagiaanmu dan ayah diakhirat sana aku akan bertobat” lirihnya di depan tubuh tak berdaya lagi.

Kini kenyataan pahitlah yang diterimanya, penyesalan demi penyesalan seakan menghantui dirinya, namun nasi sudah menjadi bubur, ibaratkan pecahan gelas yang hancur berkeping – keping tidak akan pernah bisa kembali utuh.

“Ternyata ditinggalkan oleh orang yang paling menyayangi kita sangatlah sakit, andaikan waktu bisa berputar kembali maka aku akan memperbaikinya” kesah batinnya.

Ini adalah sebuah gambaran bagi kita bahwa kehadiran orang tua adalah penentu kesuksesan serta apapun itu, maka sayangilah orang tuamu selagi beliau masih ada karena ketika dia sudah dipanggil maka kenangan manismu lah yang akan tetap tertinggal di kemudian hari dan penyelesan menjadi titik utama kehidupanmu selanjutnya

Semoga tulisan di atas menjadi inspirasi bagi kta semua, dan cerita di atas merupakan ceritanya yang penulis sengaja tidak menyebut nama dan alamat. Selamat merenungi.

Penulis adalah Mahasiswa STKIP PGRI Sumenep dan Angoota HIMPASS

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan