https://limadetik.com/

Signifikansi Konsiderasi Rekonstruksi Moral

Limadetik.com - Tak Berkategori
  • Bagikan
IMG 20200614 215222

Sumenep, 30 Juni 2020

 

limadetik branding

Oleh: Moh.Muhlis

(Mahasiswa STKIP PGRI Sumenep)

ARTIKEL – Pada zaman modernisasi ini,  berbagai macam hal secara parsial sudah serba instan dan cepat, segala kehidupan manusia secara komprehensif telah terhegemoni oleh sains dan teknologi yang menuntut eksistensi dinamika transformasi progresif. Sehingga dari hal itulah kurva fluktuasi regresivitas dalam berbagai aspek secara visual mulai terlihat dan dirasakan.

Salah satu indikator yang menjadi parameter akan eksistensi problematika tersebut adalah sikap solidaritas yang menjadi instrumen konsolidasi integrasi dan ligatur bangsa kini semakin pudar dan rasa individualisme mulai menjadi tradisi pada lapisan masyarakat di semua stratifikasi sosial terutama pada masyarakat perkotaan.

Dan secara bertahap imbasnyapun akan bertransmisi pada masyarakat desa yang awalnya masih primitif dan ekslusif menjadi berdinamisasi secara revolusioner menuju masyarakat modern lewat berbagai media elektronik yang semakin canggih dan marak. Sehingga hal tersebut dapat berprospek pula memunculkan berbagai problematika kompleks dalam kehidupan manusia sebagai makhluk monodualistik yang diciptakan Tuhan sebagai makhluk perseorangan (Musaheri, 2004 : 3).

Sekaligus makhluk yang hidup berkoloni atau berkelompok mengingat manusia adalah makhluk sosial yang hidup dan tumbuh berkembang serta akan tiada pula dalam masyarakat. Sebab hakikat manusia merupakan makhluk sosial sebagaimana yang disebutkan oleh Aristoteles sebagai (zoon politicon) (C.S.T Kansil, 1984 : 29).

Problematika kompleks yang menjadi polemik serta harus dikonversikan alternatifnya dalam masyarakat adalah demoralisasi ataupun dekandensi moral yang secara komprehensif terjadi pada para generasi muda yang disinyalir karena masih memiliki jiwa yang labil serta pemikiran yang belum matang.

Mengingat seorang pemuda masih bertransformasi untuk mencari jati dirinya sehingga kebanyakan dalam fase pencarian jati diri inilah seorang pemuda terkadang terjebak pada suatu pergaulan yang salah, sehingga  terindoktrinasi oleh nilai serta kebiasaan buruk pada lingkungan sekitar.

Problematika yang demikian tidak hanya terjadi pada generasi muda yang tidak terpelajar, melainkan juga terjadi pada pemuda yang sudah teredukasi. Sehingga seakan-akan tujuan pendidikan sebagaimana yang tercanangkan dalam pasal 31 ayat 3 UUD 1945 dan UU Sisdiknas pasal 3 UU No. 20 Tahun 2003 serta UU HAM pasal 12 UU No. 39 Tahun 1999 yang salah satunya berbunyi untuk membentuk insan yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlakul karimah, masih belum termanifestasikan secara optimal.

Makah problem ini haruslah diprioritaskan penyelesaiannya sebab bersifat krusial, mengingat moral merupakan hal pokok dalam kehidupan masyarakat yang telah ada dalam diri seseorang sebagai simbol cerminan orang itu sendiri.

Sebagaimana dalam dogma agama islam, bahwasanya nabi Muhammad SAW tidaklah diutus kedunia oleh Allah swt, kecuali untuk menyempurnakan akhlak manusia. Maka dari pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa moral merupakan hal signifikan yang bersifat fundamental.

Maka inisiatif sebagai bentuk koridor untuk perumusan problematika ini sangat penting. Yang salah satunya bisa dibentuk melalui proses kajian agama secara kontinuitas tentang akhlaqul karimah untuk menjadi manusia seutuhnya yang selalu berorientasi pada Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Terlepas dari itu, peran orang tua juga sangat signifikan dalam proses pengedukasian masalah akhlak dengan cara persuasif sehingga diekspektasikan menjadi insan baik yang nantinya bisa bermanfaat bagi agama, bangsa dan negara. Peran orang tua sebagai lingkungan pendidikan perdana yang bersifat fundamental memiliki peran yang sangat signifikan dalam pembentukan kepribadian dan tumbuh kembang seorang pada fase-fase selanjutnya.

Tidak bisa dipungkiri bahwa seorang anak akan memiliki karakter yang baik ataupun kurang baik, relatif pada tempat pertama ia dibesarkan, yaitu lingkungan keluarga. Meskipun terbilang tidak begitu urgen, perlu diketahui bahwa masa depan dinamika seseorang benar-benar berada pada pucuk genggaman pembinaan orang tua. Maka dari itu, secara universal untuk mengetahui latar belakang serta hal yang mensinyalir adanya suatu karakter pada seorang anak, kita bisa melihatnya pada kehidupan serta fenomena interaksi keseharian yang berlangsung dalam keluarganya.

Begitu sangat dominannya peran lingkungan keluarga sebagai instrumen fundamental dalam pembentukan kepribadian seseorang. Menurut aliran empirisme dalam aspek pendidikan, yang memiliki peran sangat penting dalam pembentukan kepribadian seorang anak adalah lingkungan prenatal atau tempat ketika ia masih dikandung oleh ibunya (Teguh Triwiyanto, 2014 : 28).

Disamping itu solat juga merupakan ibadah yang memiliki substansi untuk memanifestasikan suatu akhlak mulia, sebagaimana  (Q.S. Al ankabut (29) ayat 45) bahwa solat bisa mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Jadi dari sini dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa solat memiliki hikmah yang luar biasa dalam kehidupan.

Seseorang yang bisa merealisasikan solat dengan metode yang baik sebagaimana yang telah diajarkankan nabi, akan menjadi seseorang yang memiliki budi pekerti yang halus serta akan senantiasa selalu bertakwa kepada Allah swt, dimanapun dan kapanpun dan setiap melakukan kesalahan akan selalu diselarasi dengan istighfar sebagaimana yang telah dijelaskan dalam (H.R At tirmidzi) bahwa kita semua diperintah untuk selalu bertakwa kepada Allah swt, dan selalu beramal soleh serta selalu bertaubat kepada Allah swt, disetiap melakukan suatu kesalahan atau dosa.

Dalam falsafah pitutur luhur jawa kemanusiaan, terdapat kata-kata bijak yang berbunyi “Ajining dhiri saka lathi lan budi” bahwa berharganya seseorang bergantung pada ucapan dan perilakunya.

Selain itu solat juga merupakan ibadah yang menjadi kunci diterimanya ibadah lain. Maka oleh karena itu kita sebagai seorang muslim hendaknya bisa saling menasehati dan saling mengingatkan dalam hal kebaikan. Dan sebagai seorang muslim kita memiliki tugas untuk menyebar luaskan syariat islam ditengah masyarakat yang sedang mengalami problematika kompleks yaitu krisis moral atau dekandensi moral para generasi muda.

Dengan cara mengadakan sosialisasi kegamaan, dan memperdalam ilmu agama sebagai bekal untuk menghadapi tantangan zaman ini, serta supaya kita tidak terombang-ambing oleh zaman yang semakin modern ini.

Diharapkan kita sebagai seorang generasi muda muslim ini bisa memberikan kontribusi besar kedepannya, terutama kepada semua generasi muda untuk berinisiatif bersama-sama berintegrasi dan mempererat solidaritas dan ukhuwah islamiyah supaya bisa menimbulkan kesadaran sekaligus mensugesti agar mengeskalasikan nostalgia terhadap kejayaan islam pada zaman dahulu.

Sehingga dengan begitu, akan menjadi sebuah motif sekaligus motivasi untuk lebih progresif kedepannya dengan lebih mendinamikakan suatu nilai-nilai keagamaan dalam setiap bidang kehidupan, mengingat seluruh aktivitas yang kita lakukan mayoritas didominasi oleh aturan agama, sekaligus aturan konvensional yang telah lama turun temurun dalam masyarakat yang sifatnya konstruktif untuk membenahi dan membangun moral.

Perlu kiranya menjadi sebuah renungan bahwasanya moral eksistensinya lebih signifikan dibandingkan dengan ilmu. Sebab sebagaimana perkataan Syekh Abdul Qadir jaylani bahwasanya bahwa beliau lebih menghargai orang yang beradab atau berakhlak dibandingkan orang yang berilmu, sebab kalau hanya berdasarkan pada ilmu, iblispun lebih tinggi ilmunya dari pada manusia.

Jadi, dari pernyataan tersebut kita bisa menyimpulkan bahwa akhlak sangatlah dominan dalam kehidupan manusia, bahkan orang yang berilmupun belum sempurna menjadi manusia yang ideal kecuali terdapat akhlakul karimah dalam dirinya. Sehingga dari akumulasi keduanya bisa menjadi instrumen dan koridor dalam mengonsolidasikan integrasi dan ligatur bangsa dengan menciptakan rasa nasionalisme di tengah industrialisas 4.0 (four point zero) dengan didasari oleh akhlak atau moral yang baik. [*]

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan