Angka TKI Ilegal Asal Sumenep di Malaysia Masih Tersisa 280 Orang

SUMENEP,Limadetik.com – Persoalan Tenanga Kerja Indonesia (TKI) Ilegal atau yang dikenal dengan sebutan TKI yang tidak lewat depan di Negeri jiran malaysia sampai saat ini masih terhitung tinggi.

Berdsarkan informasi serta data yang tercatat di Dinas Tenaga Kerja dan transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur menyebutkan, sudah ada puluhan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ilegal asal Sumenep yang di deportasi dari Malaysia sejak awal tahun lalu.

Mereka dipulangkan paksa oleh pemerintah negeri jiran lantaran nekat berangkat kerja melalui jalur ilegal atau tanpa kelengkapan dokumen resmi. Sehingga saat terjaring razia kepolisian setempat, mereka langsung dipulangkan paksa.

Pemulangan TKI ilegal di Negeri malaysia ini bukan tanpa alasan bagi pemerintah setempat.

“Setiap bulan pasti ada TKI ilegal dari Sumenep yang dideportasi, jumlahnya tidak pernah kurang dari 10 orang, kadang juga lebih,” kata Kadisnakertrans Sumenep, Moh. Fadhillah, Minggu (10/9/2017).

Menurut Fadhillah, para TKI ilegal yang sudah terkena deportasi tersebut rata-rata berasal dari daerah Kepulauan, sedangkan dari wilayah daratan jumlahnya sangat sedikit.

“Dari daratan juga ada (yang dideportasi), tapi rata-rata mereka dari wilayah Kepulauan, seperti dari Kangayan dan lain sebagainya,” tegasnya.

Berdasarkan data yang pihaknya terima, lanjut Fadhillah, saat ini TKI ilegal asal Kabupaten Sumenep yang ada di Malaysia di prediksi masih mencapai ratusan orang. Dan menurutnya, para pahlawan devisa itu juga diperkirakan tinggal menunggu waktu saja untuk dipulangkan.

“Data dari Kedutaan Besar dan Dinas Tenaga Kerja Jawa Timur, masih ada 280 TKI asal Sumenep di Malaysia, itu yang sudah terdata saja ya. Nah, ketika ilegal, maka pilihannya kalau tidak ditahan ya dipulangkan,” paparnya.

Mengenai faktor maraknya TKI yang nekat berangkat secara ilegal, Fadhilah menjelaskan, karena disamping minat TKI yang besar, persyaratan untuk berangkat legal juga agak susah. Selain itu, mereka juga tidak memiliki kompetensi.

“Karena dari segi SDM sudah tidak memenuhi, akhirnya mereka berangkat melalui tekong. Kemudian mereka baru sadar kalau jalannya salah ketika sudah kena tangkap dan didepotrasi,” ujarnya.(yd)

Leave a Reply