Beriman Pada Atribut

Penulis  : Afifi Muhammad
Gusdurian Bondowoso

Artikel,Limadetik.com – Zaman elektonik merupakan era ketika manusia mampu mendekatkan kejauhan.Tak ada kata sulit, apalagi susah, semua serba mudah disajikan. Jauh beda dengan masa dimana mayoritas manusia hanya beriman pada suara-suara (Audio).Dulu, ruang-ruang hampa alami tanpa nilai. Saat ini, ruang ruang itu dibajak menjadi serba nilai. Ini zaman kita, zaman dimana kompetisi dimulai dari alam bawah sadar dan menerawang cepat keseleruh sendi-sendi kehidupan. Demokrasi, poliktik, budaya, sosial, ekonomi, semuanya terpatri oleh zaman yang satu ini tanpa ada celah yang terlewati sedikitpun.

Hadirnya mengharuskan dunia menerimanya, tak bisa dibantah apalagi ditolak. Ini kesepakatan mengembangkan. Dengannya semua masyarakat dunia masuk kedalamnya dan ikut serta meramaikan promosi-promosinya. Ibarat pasar, disana kita saling menyuguhkan tontonan branding, sibuk saling mengkemas untuk memberikan yang terbaik, bahkan diluar batas kewajaran. Luar biasa aneh melucukan bukan?. Berhadiran lah sebuah logo baru dengan berbagai refrensi pola pikir masyarakat. Mereka sorot sampai ke ruang-ruang yang paling sempit sekalipun. Sungguh hebat, zaman ini.

Diruang politik, misal, oleh zaman ini, dibuatlah sebuah miniatur kemapanan. Dipasanglah atribut, logo dan petuah-petuah dengan bingkai filosofi. Berdasar dengan kemeja putih sebagai simbol kesucian dan kopyah hitam nasional sebagai simbol kewibawaan. Bak jurus “Oboro Bunshin No Jutsu” yang dipakai oleh Oboro, Mubi dan Kagari dalam serial kartun Naruto. Jurus 1000 bayangan yang terbentuk dari cairan yang bisa membelah diri. Tak jauh beda dengan potret politik kita. Sungguh menarik layar tancap ini, diseluruh atas bawah, kanan kiri ruas jalan, sampai pinggiran pelosok sekali pun berjejeran replika atribut, logo dan petuah-petuah itu seolah menyapa para pengguna. Ah, Semacam sebuah pameran lukisan saja.

Zaman ini dinyatakan oleh Milan Kundera dengan istilah “Imagologi”, kondisi era dimana media massa elektronik menguasi kita. Kundera memberikan contoh bagaimana neneknya yang hidup di pedesaan mengalami kehidupan “real”bdalam kesehariannya.Tidak seorangpun bisa membodohi nya karena memiliki kontrol personal terhadap realitas. Di lain sisi Kundera membandingkan neneknya dengan seorang tetangganya yang hidup di Paris dengan ritme hidup khas kota besar modern. Kerja delapan jam sehari dengan kemacetan yang menyita waktunya dan ketika sampai di rumah menonton televisi. Apapun yang disampaikan televisi terutama polling opini publik terhadap sebuah masalah akan di percaya dan televisi yang mengontrol realitas. Menarik sekali, bukan? Entahlah.

Dengan jurus yang satu ini, seakan semuanya dapat terukur. Cukup dengan lebel seragam dan jargon-jargon serta petuah (kata-kata)nya ukuran cocok sudah didapati. Artinya jurus itu sudah tepat sasaran. Atau kondisi ini searah dengan sabda Nabi Muhammad, “Tanda-tanda kiamat manuaia akan membangun menara-menara tinggi”, begitu kira-kira. Betul, bangunan ini mulai terus menjulang seakan tak dapat dibendung. Deras sekali. Kerjasama pun serba diromantiskan, semua ruang mereka pelajari anatominya. Dikuasailah semua paradigma sesuai yang diingini. Pikiran-pikiran dicuci bersih, dibuatlah mereka berteduh rame-rame dengan satu ritme bak mainan remote kontrol. Artinya panggung-panggung sudah mulai dibangun dan dipromosikan sesuai selera. Modal mereka sungguh tak dapat diukur akal. Habislah kita dalam ketidak berdayaan.

“Apa yang harus aku lakukan dengan fenomena ini kek?,” tanya Entong. “Bersabarlah dan banyak doa”, jawab kakek dengan polosnya. “jangan lupa, istighfar. kita semua pendosa”, tambah kakek sembari mijet punggung nenek. Hahaha.

Tim redaktur Limadetik

Leave a Reply