https://limadetik.com/

Cerita dan Kesan Anak Pulau di Hari Ibu

  • Bagikan
IMG 20191223 141735
Aldy Wiranto (kiri) bersama Ratu Bajau saar hari jadi Kabupaten Sumenep (sumber foto: WhatsApp)

Bincang hangat seorang murid dan gurunya di Hari Ibu 2019.

Limadetik.com, Oleh: Wahyu

https://limadetik.com/

Malam refleksi peringatan hari ibu yang jatuhnya tepat di hari Sabtu 22 Desember 2019. Malam itu ada pertemuan antara seorang guru dan muridnya semasa sama-sama di pulau (Sapeken, Kabupaten Sumenep). Dia adalah Aldy Wiranto, sosok murid yang sabar dan penurut dimata gurunya ketika itu.

Murid itu kini telah menjadi seorang Mahasiswa di salah satu peguruan tinggi di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, kendati sebelumnya dia begitu dilecehkan dan dihina di kampungnya oleh seseorang.

Dia dilecehkan dan hina karena orang tuanya orang yang tidak berpendidikan terlebih dipandang tak memiliki apa-apa yang menurut mereka dia (orang tuanya) tidak akan sanggup menyekolahkan anaknya sampai pada perguruan tinggi.

Waktupun kian berjalan seiring perkembangan sampai akhirnya anak itu selesai sekolahnya dari Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan SMP di kampungnya. Semangatnya pun tak pernah pudar walau terpaan hinaan terus mengguncang keluarganya namun ia tetap ingin melanjutkan pendidikannya dengan cara apapun akan dilakukannya bahkan hanya modal tekat dia berangkat ke salah satu pesantren di sumenep.

Selama 3 tahun dia mengeyam pendidikan di pondok-pesantren diSumenep, hingga tiba waktunya dia selesai menempuh pendidikan tingkat MA/SMA. Harapannya tak pupus sampai disitu, dari berbagai support yang datang dari teman-temannya dan bahkan pila dari gurunya masih di bangku SMP agar dia terus maju tanpa harus menoleh ke belakang.

Kini anak itu sudah memasuki semester 4 di sebuah perguruan tinggi Universitas Bahaudin (Uniba) Madura, artinya dia sudah 2 tahun menjalani kuliahnya, ujian pun tak pernah berhenti hingga suatu ketika dia tidak bisa membayar kos nya dan untuk makan pun dia sulit mendapatkan uang. Akan tetapi dia tidak pernah putus asa dan tidak selalu mau merepotkan orang tuanya. Semua yang dia alami saat jauh dari orang tuanya tidak pernah diketahui oleh siapapun sampai Ayah dan Ibu nya sendiri pun tak tahu, karena dia memang tidak ingin mereka tahu dan menyusahkan mereka.

Bertemu Guru saat masih di Bangku MI

Tanpa disengaja malam itu tepat malam minggu bersamaan dengan malam peringatan Hari Ibu, sebut saja namanya “Aldy Wiranto” bertemu dengan penulis yang tidak lain adalah guru nya (Ustadnya) saat masih di bangku Madrasah Ibtidaiyah (MI) setingkat SD di kampung nun jauh di sana, desa yang jauh dari jangkauan hiruk pikuk kehidupan layak, desa itu bernama Desa Tanjung Kiaok, Kecamatan Sapeken, Kabupaten Sumenep, jawa Timur.

Obrolan pun mulai terjalin antara guru dan murid.

Aldy/murid : Assalamu’alaikum ustad.

Ustad/Guru : Waalikumussalma wr.wb

Aldy/murid : Gimana kabarnya Ustad.

Ustad/Guru: Alhamdulillah baik, kamu sendiri giman deng (panggilan akrab Aldy oleh sang Guru).

Aldy/murid : Baik dan sehat ust., Ohya ustad, Aldy memulai perbincangan jauh dengan ustadnya. Gimana dulu ustad saat pertama kali tiba di kota sumenep hingga bisa sukses dapat kerjaan.

Ustad/Guru: Cong kata ku dengan bahasa kasih, jangan lihat aku saat ini sukses dapat kerjaan, tapi lihatlah aku bagaiman memulai semuanya dengan proses. Lihat aku ketika dulu berjuang hingga saat ini, dan kinipun aku belum bisa dikatakan sukses karena belum bisa membahagiakan kedua orang tuaku, jawabku lugas.

Aldy/murid : Iya ust, jawab Aldy dengan nada yang mulai gagap dengan mata sedikit berbinar, yang kemungkinan dia ingat akan orang tuanya nan jauh di sana.

Ustad/Guru  : Aldy kapan semester, tanyaku dengan mengalihkan bincang awal, Insya Allah minggu depan ini ust, jawabnya.

Aldy/murid  : Tapi saya gak akan pulang juga Tad nanti kalau libur, aku pun mulai terkejut mencoba mendengarkan ucapannya yang terdenger polos bercampur perasaan haru akan kedua orang tuanya.

Ustad/Guru : Loh kenapa cong kok kamu gak mau pulang, aku bertanya. Semua keluarga ku, Ayah, Ibu, Kakek dan Nenek bahkan adik-adik ku sudah pindah ke satu pulau di sulawesi ustad, jawabnya dengan nada terbata-bata seakan ada kesedihan yang terpancar dari raut wajahnya. Akupun langsung mengalihkan sedikit ritme cerita.

Ustad/Guru  : Cong.!! Kamu harus semangat tidak boleh putus asa, jika dulu kamu dan orang tua mu dihina dan direndahkan, maka nanti harus kamu buktikan dengan kerja nyata mu, dengan jerih payah perjuangan mu bahwa inilah aku yang dulu kalian hina dan kalian rendahkan. Maka hari itu kamu harus wakafkan hidup mu untuk warga bahkan untuk orang yang menghina dan merendahkan kedua orang tua mu.

Aldy/murid   : Siap ustad, akan saya ingat pesan itu, sembari Aldy mengoretkan suara hatinya melalui pesan WhatsApp nya kepada penulis, agar kiranya bisa di publis; berikut rintihan dan curahan hatinya yang coba saya angkat:

Pesan orang tua

Oh tuhan
Kusampaikan apa yang menjdi sebuah rindu
kepada orang tua terkasih
Orang tua yang tak pernah putus
Doanya pada sang anak.

Yaa begitulah diriku
Yang tak bisa
Menyamakn apa yang kau mau
Hanya itu yang kutau
Kau adalah emas dunia di mataku
Orang tuaku yang tak pernah putus doanya pada sang tuhan
Meminta untuk kebaikan anak-anaknya.

Begitulah diriku
Tidak ada yang menyamai kalian wahai ibu, bapak
Hanya doa yag bisa ku pinta kepada Allah SWT.
Untuk keselamatan
Untuk keselamtan hidupmu di dunia
Hidupmu di dunia hari ini dan besok
Mminta keselamatan
Semoga engkau melihat anak-anakmu hidup bahagia
Seperti yang kau mau.

Oo ibu
Oo bapak
Salamku dari lubuk hatiku pling dalam
Mohon maafkan aku
ankmu yang tak sebaik dirimu.

Begitulah isi oretan curahan hatinya besamaan dengan peringatan hari ibu tahun 2019.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan