Cerita Pilu Warga Sumenep, Baru Setahun di Palu Anak dan Suami Hilang akibat Gempa dan Tsunami

SUMENEP, limadetik.com – Gempa dan tsunami di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah menjadi duka bagi bangsa ini. Apalagi bagi mereka yang tidak bisa bertemu lagi dengan orang-orang tercintanya akibat gempa dan tsunami yang menewaskan ribuan orang. Termasuk Hartini (52) yang tidak akan bertemu lagi dengan anak dan suaminya.

Warga Desa Tonduk, Kecamatan Raas, Sumenep, Jawa Timur baru setahun mencari nafkah di Palu. Sehari-hari dia bersama suami tercinta, Satrnawi (56) berjualan sembilan bahan pokok (Sembako). Namun naas, saat gempa dan tsunami terjadi, suami dan anaknya yang bernama Fajar Rahman memaksa untuk berpisah selamanya. Saat terjadi gempa dengan kekuatan 7,4 SR, Fajar yang masih berumur 8 tahun tidak bersama dirinya.

“Saat itu suami saya pamit mau jemput Fajar yang ngaji di Masjid. Namun, sebelum suami dan anak saya datang, tiba-tiba terjadi gempa,” kisahnya saat ditemui limadetik.com di Rumah Singgah Sumenep, Senin (8/10/2018).

Beruntung wanita paruh baya ini selamat dari gempa yang meluluh lantakkan bangunan yang di tempatinya. Kemudian dia langsung lari mencari daerah yang dianggap aman dari tsunami. Beberapa saat setelah terjadi gempa, orang pada berlarian karena informasinya akan terjadi tsunami. Informasi itu benar, karena tidak lama kemudian benar-benar terjadi tsunami.

“Ketika itu kami lari sambil mencari daerah yang lebih tinggi agar selamat dari tsunami,” katanya.

Setelah kondisi dianggap aman, dirinya bersama warga Sumenep yang tinggal di Palu berupaya mencari anak dan suami. Namun, hingga kini belum diketahui. Dia pesimis anak dan suaminya selamat dan bisa bersama-sama lagi.

“Kalau sudah tidak ditemukan sampai saat ini, ya mungkin suami dan anak saya sudah meninggal dunia,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.

Hartin sejak Senin, (8/10/2018) dini hari tiba di Sumenep bersama puluhan warga lainnya. Untuk sementara mereka tinggal di Rumah Singgah milik pemerintah daerah. Dia pulang tanpa membawa apapun. Toko sembako miliknya dijarah.

“Toko saya dijarah. Jadi kami pulang dalam kondisi tidak punya apa-apa,” imbuhnya pelan. (hoki/yd)

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here