Seni Budaya

Denting Gamelan Satukan Mahasiswa Universitas Negeri Malang dan Warga dalam Pembelajaran Manajerial Berbasis Pelestarian Budaya di Kampung Seni Mentaraman

Denting Gamelan Satukan Mahasiswa Universitas Negeri Malang dan Warga dalam Pembelajaran Manajerial Berbasis Pelestarian Budaya di Kampung Seni Mentaraman
Para Mahasiswa UM saat mengikuti kegiatan karawitan di Desa Seni Mentaraman

Denting Gamelan Satukan Mahasiswa Universitas Negeri Malang dan Warga dalam Pembelajaran Manajerial Berbasis Pelestarian Budaya di Kampung Seni Mentaraman

LIMADETIK.COM, MALANG – Denting gamelan terdengar berpadu dengan lantunan sinden dari Sanggar Kampung Seni Mentaraman pada Sabtu malam (28/2). Di antara para pemain karawitan, tampak sejumlah mahasiswa duduk bersila mencoba memainkan instrumen gamelan.

Mereka tidak sekadar menyaksikan, tetapi belajar langsung dari para pelaku seni desa dalam kegiatan kolaborasi antara mahasiswa dan masyarakat.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari pembelajaran mata kuliah Pengembangan Wawasan Manajerial Program Magister Manajemen di Universitas Negeri Malang.

Mata kuliah yang diampu oleh Prof. Agung Winarno dan Prof. Agus Hermawan itu mendorong mahasiswa untuk memahami konsep manajemen melalui pengalaman langsung di tengah masyarakat.

Mahasiswa Magister Manajemen Universitas Negeri Malang berdiskusi bersama pelaku seni di Sanggar Kampung Seni Mentaraman sebagai bagian dari kegiatan pembelajaran berbasis masyarakat.

Mahasiswa yang terlibat dalam kegiatan ini adalah Fairus Salsabilah dan Natasya Ika Suryaningsih. Sebelum kegiatan praktik dilaksanakan, mahasiswa terlebih dahulu melakukan diskusi bersama tokoh desa dan pengelola sanggar pada 26 Februari 2026 untuk menggali potensi seni yang berkembang di Kampung Seni Mentaraman.

Pemilik sanggar seni, Pak Gun, menyambut baik keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan seni di desa. Menurutnya, kolaborasi antara mahasiswa dan masyarakat dapat menjadi sarana untuk mengenalkan sekaligus melestarikan budaya tradisional kepada generasi muda.

“Kami sangat senang ketika mahasiswa datang ke sanggar ini untuk belajar bersama. Seni tradisional seperti karawitan dan ludruk perlu terus dikenalkan kepada generasi muda agar tidak hilang,” ujar Pak Gun.

Kampung Seni Mentaraman dikenal aktif mengembangkan berbagai kegiatan seni pertunjukan seperti karawitan, seni tari, hingga ludruk. Sanggar seni menjadi ruang berkumpul bagi warga untuk berlatih sekaligus menjaga kelestarian budaya tradisional Jawa.

Kehangatan para mahasiswa UM saat menikmati penampilan seni budaya bersama karawitan Seni Mentaraman

Sebagai tindak lanjut dari diskusi tersebut, mahasiswa mengikuti latihan karawitan bersama warga pada 28 Februari 2026. Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa belajar memainkan berbagai instrumen gamelan serta mengenal seni vokal tradisional Jawa secara langsung dari pelatih dan pelaku seni desa.

Pelatih karawitan sekaligus ludruk, Pak Sulli, menjelaskan bahwa seni karawitan tidak hanya mengajarkan teknik memainkan alat musik, tetapi juga menanamkan nilai kebersamaan dan kekompakan.

“Karawitan itu dimainkan bersama-sama. Semua pemain harus saling mendengarkan agar iramanya bisa selaras. Dari situ kita belajar tentang kerja sama dan kebersamaan,” jelas Pak Sulli.

Mahasiswa Magister Manajemen Universitas Negeri Malang mengikuti latihan karawitan bersama warga di Sanggar Kampung Seni Mentaraman.

Bagi mahasiswa, kegiatan ini memberikan pengalaman pembelajaran yang berbeda dari perkuliahan di kelas. Mereka dapat melihat secara langsung bagaimana komunitas seni di desa mampu mengelola kegiatan secara kolektif.

Mahasiswa Magister Manajemen, Natasya Ika Singgih, mengatakan bahwa kegiatan ini membuka wawasan baru mengenai praktik manajemen dalam kehidupan masyarakat.

“Di sini kami melihat bagaimana koordinasi, kerja sama, dan kepemimpinan terbentuk secara alami dalam komunitas seni,” ujarnya.

Kegiatan ini juga selaras dengan tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin 17 tentang kemitraan untuk mencapai tujuan.

Kolaborasi antara mahasiswa dan masyarakat diharapkan dapat memperkuat hubungan antara dunia akademik dan komunitas lokal sekaligus mendukung pelestarian budaya daerah.

Melalui kegiatan tersebut, Kampung Seni Mentaraman tidak hanya menjadi ruang pelestarian seni tradisional, tetapi juga menjadi tempat belajar yang mempertemukan masyarakat dan generasi muda dalam menjaga serta mengembangkan kekayaan budaya Indonesia.

Exit mobile version