umroh 12 hari

Diberitakan Aniaya Warganya, Kades Sapeken Beri Klarifikasi yang Sebenarnya

“Waktu saya menemui pendukung. Memar di sekitar kelopak mata terlihat. Saya menemui tamu sambil menahan sakit,” kata Kades Joni.

Diberitakan Aniaya Warganya, Kades Sapeken Beri Klarifikasi yang Sebenarnya
FOTO: Kades Sapeken, Joni Junaidi saat melakukan jumpa pers di Kota Sumenep

SUMENEP, Limadetik.com – Diberitakan pukul warganya, Kades Sapeken, Sumenep, Joni Junaidi memberikan klarifikasi secara utuh dengan menceritakan kronologis yang sebenarnya.

Tidak hanya diberitakan miring tentang penganiayaan yang dituduhkan kepada dirinya, Kades Sapeken Joni Junaidi juga ikut dilaporkan oleh warganya bernama Wawan yang mengaku dianiaya, padahal yang benar Kades Joni yang dipukul terlebih dahulu oleh pelaku.

umroh 9 hari

Kendati demikian, Kades Sapeken yang juga Ketua Asosiasi Kepala Desa (AKD) Kecamatan Sapeken itu tetap memaafkan warga yang melaporkannya (Wawan, red) dengan alasan pelaku penganiayaan masih warganya. Dan ia ingin melindungi semua warganya.

“Pelaku warga saya. Sebagai Kades, saya harus melindungi warga walau berbuat aniaya kepada saya,” ucap Kades Joni dalam jumpa pers kepada sejumlah wartawan di salah satu cofe di Sumenep, Kamis malam (19/5/2022).

Di hadapan awak media, Kades Joni juga menjelaskan kronologi kasus yang kini dilaporkan oleh pelaku penganiayaan ke Mapolsek Sapeken.

Kata Joni, penganiayaan bermula saat dirinya mengeluarkan Surat Edaran (SE)
tentang Perubahan Jam Akhir Pengoperasian Odong-Odong-Angkutan Umum Desa Sapeken.

SE itu semata imbauan batasan jam operasi odong-odong yang semula selesai beroperasi pukul 17.00 WIB dimajukan pada pukul 16.30 WIB.

Imbauan ini dikeluarkan Pemerintah Desa (Pemdes) Sapeken demi menjaga kenyamanan masyarakat menjelang waktu magrib tiba.

Sayang, SE itu direspon berlebihan oleh Bambang Kuswandi (34), salah satu warga Dusun Ra’as, RT 004/RW 001, Desa Sapeken.

Pemdes Sapeken bersama stakeholder desa telah melakukan Musyawarah Desa (Musdes). Hasil Musdes itu disepakati isi SE batasan operasional odong-odong untuk kebaikan bersama warga Sapeken.

Sebelum SE itu diterapkan, Pemdes Sapeken melakukan sosialisasi terlebih dahulu kepada warganya.

Karena Wawan tak menghiraukan imbauan SE Pemdes Sapeken. Kades Joni melakukan pemanggilan kepada Wawan untuk memberikan arahan.

Saat dilakukan mediasi di Balai Desa Sapeken, 12 Mei lalu. Wawan secara lantang menolak aturan jam operasi angkutan umum odong-odong yang diikat melalui SE itu.

“Saat itu kami panggil Wawan ini ke Balai Desa. Wawan bersama empat orang temannya. Tujuannya, untuk memediasi pelanggaran yang telah dilakukan Wawan,” kata Kades Joni mengungkapkan.

Kades Joni mengakui mediasi itu berjalan alot. Lalu cekcok mulut antara dirinya dan Wawan.

Wawan terus mengeluarkan kata-kata kasar. Wawan tak terkontrol berucap. Kades Joni pun tersulut emosi.

Lantas, Kades Joni menghampiri Wawan untuk menegurnya. Tapi Wawan kian kalap dengan kata-kata sangat kasar.

“Saya pegang krah baju Wawan. Seketika Wawan nonjok muka saya dan mengena mata kiri,” cerita Kades Joni.

Cekcok berujung penganiayaan kepada Kades Joni pun berhasil dilerai oleh Satuan Tugas Khusus (Satgasus) Desa Sapeken yang malam itu ada di samping Kades Joni. Lalu Satgasus ikut mengantar Kades Joni pulang ke rumah.

Mendengar Kades Joni dianiaya. Para pendukung berdatangan menemuinya. Sambil menahan sakit akibat tonjokan Wawan. Kades Joni menemui para pendukung saat Pilkades dulu.

“Waktu saya menemui pendukung. Memar di sekitar kelopak mata terlihat. Saya menemui tamu sambil menahan sakit,” kata Kades Joni.

“Para pendukung mendesak saya untuk visum dan melapor perbuatan Wawan. Tapi saya tolak. Bagaimana pun Wawan warga saya. Sebagai Kades saya harus melindungi semua warga,” terang Joni menambahkan.

Kades Joni membantah berita yang terbit di salah satu media online dengan berita adanya pengeroyokan perangkat desa Sapeken kepada Wawan.

“Jadi ada salah satu media online yang memberitakan perangkat Desa Sapeken telah melakukan pengeroyokan kepada Wawan itu, tidaklah benar. Maka dari itu saya melakukan klarifikasi,” ujar Kades Joni.

Kades Joni menilai, pemberitaan di media online itu sepihak dan telah mencemarkan nama baiknya. Pemberitaan itu, sebut Kades Sapeken itu, tak melakukan konfirmasi untuk menyeimbangkan kasus pemukulan dimaksud.

Baca Juga :  14 Tahun Terbunuhnya Munir, Polri Didesak Bentuk Tim Khusus

Kades Joni membantah berita yang terbit di salah satu media online dengan berita adanya pengeroyokan perangkat desa Sapeken kepada Wawan.

“Jadi ada salah satu media online yang memberitakan perangkat Desa Sapeken telah melakukan pengeroyokan kepada Wawan itu, tidaklah benar. Maka dari itu saya melakukan klarifikasi,” ujar Kades Joni.

Kades Joni juga meluruskan video pemukulan yang viral di media sosial. Video itu kata Kades Joni ada distorsi.

Lucunya lagi, usai insiden itu, malah Wawan melapor ke Polsek Sapeken. Pada 16 Mei 2022 terbit surat tanda lapor Nomor : STM/11/V/YAN.1.6/2022/SUMENEP/SPKT SAPEKEN, Laporan Polisi Nomor : LP-B/11/V/RES/1.6/2022/SUMENEP/SPKT/SAPEKEKEN.

Kendati Kades Joni dilaporkan. Dirinya masih menunggu iktikad baik dari Wawan untuk menyelesaikan persoalan tersebut.

“Jika dia tetap bertahan dengan kondisi yang ada. Saya akan melaporkan balik Wawan karena telah memukul saya. Tapi ini kan lucu, masak saya sebagai Kades mau memenjarakan warga saya sendiri,” ucap Kades Joni.

Terkait dugaan pencemaran nama baik yang disebar di Facebook bahwa perangkat Pemdes Sapeken telah melakukan pengeroyokan kepada Wawan. Kades Joni membantahnya.

“Jika masih tetap, saya pun akan melaporkan keluarga korban yang telah mencemarkan nama baik saya di akun media sosial Facebook. Buktinya sudah kami kumpulkan,” tegasnya.

Melansir dari pemberitaan media online Indeksdotcodotid, Kades Joni memang sempat menegur Wawan saat itu.

Hanya saja, para pemilik angkutan umum jenis odong-odong tersebut protes kepada Kades Joni. Alasannya, karena merasa tidak menyalahi jam operasi angkutan umum jenis odong-odong hingga melebihi pukul 17.00 WIB.

Seperti yang disampaikan Rauf, salah satu warga setempat yang berprofesi sebagai sopir angkutan umum jenis odong-odong, profesi sama yang dijalani Wawan.

Sebagai seorang saksi, Rauf mengatakan, hadir pada mediasi yang digelar Kades Joni di Balai Desa setempat dengan para sopir odong-odong lainnya.

“Saya melihat sendiri, Kades Joni yang pertama mendorong Wawan. Karena dari itu, Wawan tidak terima dengan tindakan itu dan melakukan perlawanan, namun aparat desa lain malah membantu Kades Joni bukan malah melerai kejadian tersebut,” kata Rauf, seperti yang dikutip di Indeksdotcodotid.

Dia menambahkan, saat itu Wawan tersungkur dari kursi dan terjatuh. Rauf mengatakan, Wawan diinjak-injak oleh perangkat desa yang ikut membantu Kades Joni.

Disana, kata Rauf lebih lanjut, terjadi sebuah pengeroyokan terhadap Wawan hingga mengalami babak belur.

Sementara keluarga Wawan, yakni Cici, mengaku bahwa saat ini Wawan terbaring lemas di Puskesmas Sapeken. Atas insiden itu, Wawan dirawat di Puskesmas tersebut.

“Wawan masih dirawat di Puskesmas dalam kondisi lemah. Syukur, dia langsung ditangani medis atas kejadian yang menimpanya,” kata Cici, seperti yang dikutip dari Indeksdotcodotid.

Kemudian saksi lain, yakni Syahrul, salah satu aparat desa setempat membantah jika Kades Joni telah melakukan penganiayaan terlebih dahulu kepada Wawan.

“Saya juga di lokasi. Saya melihat jika Wawan yang menyerang Kades Joni terlebih dulu, dan Kades Joni membela diri dibantu oleh aparat yang hadir pada kesempatan itu,” kata Syahrul, seperti yang dikutip dari Indeksdotcodotid.

Dan pada intinya, semua isi pemberitaan di salah satu media online beberapa waktu lalu telah dibantah oleh Kades Sapeken Joni Junaidi.

Tinggalkan Balasan