Dwi Tunggal kok Merah-Putih, Piye Toh?

Red: rudy

Miftahul Achyar, Mahasiswa Psikologi UTM Bangkalan

Oleh: Miftahul Achyar

LIMADETIK.com – Tepat satu bulan yang lalu masyarakat Indonesia telah merayakan Dirgahayu Republik Indonesia yang ke-72. Tanpa terasa, saya serta beberapa tuan-tuan Mahasiswa sudah melakukan kesalahan yang tidak disengaja bahkan karena keterbatasan wawasan perihal atribut-atribut Negara. Diantara tuang-tuan Mahasiswa dan mungkin pula para pejabat kampus yang menduduki kursi strategis di rektorium, dekanium ataupun di tataran program studi.

Kira-kira apa yang sempat terlupakan hingga kita melakukan kesalahan yang cukup mendasar? Berawal dari sebuah chatting via Whatapps terdapat suatu percakapan yang baru siang ini (11.46 WIB/17 September 2017) kami menyadari kesalahan dalam penggunaan kata “Dwitunggal” untuk menggambarkan bahwa apapun warna (bendera) kita, maka kita tetap dalam naungan dwitunggal “merah-putih”. Maksud dari percakapan itu sangatlah mulia namun sangat disayangkan saat percakapan semulia itu terkikis oleh kedangkalan pemahaman masing-masing pribadi kita.

Saya rasa, dua paragraf diatas cukup menjadi pengantar untuk meluruskan kebenaran dari dwitunggal. Pada buku “BUNG KARNO Biografi Putra Sang Fajar” karya Jonar T. H. Situmorang., M.A. dijelaskan bahwa “ketika disebut Soekarno-Hatta, yang terbesit dalam pemikiran kita adalah teks proklamasi. Kemudian, pasangan pemimpin negara, yaitu Presiden dan Wakil Presiden. Disebut Dwi Tunggal menunjukkan akan dua hubungan yang erat yang tidak bisa dipisahkan.

Meskipun pada kenyataanya, Dwi Tunggal itu akhirnya bubar. Hanya bisa bertahan 10 tahun saja, yaitu dimulai tahun 1945-1955. Dalam masa terebut, Bung Hatta memiliki kedudukan sebagai Wakil Presiden dan sekaligus pernah sebagai Perdana Menteri (2015:363). Jadi kata “Dwi Tunggal” merupakan sebutan yang diberikan kepada sang pasangan Proklamator yakni Soekarno-Hatta.Agar tercerahkan pula, kenapa di teks proklamasi juga tertulis nama Soekarno-Hatta? Maka berikut jawabnya:

Berdasarkan naskah asli (tulis tangan) proklamasi kemerdekaan RI yang ditemukan di keranjang sampah (Koleksi BM Diah) “Proklamasi — Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia. Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan, dll, diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. — Djakarta 17-8-45 – wakil2 bangsa Indonesia (2015:491). Dari teks tersebut tidak terdapat nama Soekarno-Hatta yang ada malah masyarakat umum yakni wakil-wakil bangsa Indonesia.

Naskah proklamasi versi Sjahrir yang dibacakan oleh Dr. Soedarsono di Cirebon pada tangga 15 Agustus 1945 “kami bangsa Indonesia dengan ini memproklamirkan kemerdekaan Indonesia karena kami tak mau dijajah dengan siapa-pun juga. – Cirebon, 15 Agustus 1945 (2015:493). Meski Soekarno-Hatta masih di Rengasdengklok, para pemuda-pemudi mengebu-gebu ingin segera memproklamirkan kemerdekaan, sehingga Sjahrir dan kawan-kawan yang sudah terlanjur mengmpulkan masyarakat di alun-alun Cirebon untuk upacara proklamasi tidak mungkin memulangkan masyarakat yang sudah terlanjur datang sehingga pembacaan proklamasi tetap dilanjutkan.

Istilah Dwi tunggal Soekarno-Hatta mulai dipopulerkan oleh Sudiro (mantan Gubernur Jakarta tahun 1950-an) dan Menteri Supeno (Menteri Pemuda) saat menjelang Proklamasi. Para pemuda sebelum proklamasi pernah bertanya, “siapa yang pantas memimpin Revolusi Indonesia? Sudiro dan Supeno menjawab, “Soekarno-Hatta yang merupakan Dwi tunggal.” Sebab, Sudiro dan Supeno sudah merasa bahwa kedua tokoh itu patut dan tepat menjadi pemimpin bangsa (Tugiyono, 1998: 144) dalam (Jonar, 2015: 379).

Pernyataan Bung Hatta perihal hubungan erat/kompak dengan Soekarno “Hubungan dan kerja sama antara saya dan Bung Karno di waktu itu begitu erat. Sehingga tiap-tiap surat yang ditanda-tangani Bung Karno, dia tidak mau tanda-tangani sebelum ada paraf dari saya. Dan setiap keputusan yang saya ambil, Bung Karno menyetujuinya. Begitu pula apa yang diputuskan Bung Karno, saya terima”
Jika dari keempat penyataan diatas di satukan, maka akan mampu menjawab kenapa terdapat perubahan yang cukup mendasar pada teks proklamasi yang awalnya bertuliskan “wakil2 bangsa Indonesia” tiba-tiba diganti “atas nama bangsa Indonesia Soekarno/hatta”.

Setelah khalayak mengetahui Dwi Tunggal, maka perlu kiranya saya sampaikan pula Dwi Warna, agar tidak terjadi sebuah kesalahan dalam pemilihan kata dalam berdialaog, berdiskusi ataupun menulis sebuah karya.

Negara Monaco dan Polandia memiliki Bendera dominasi warna merah dan putih, hampir sama dengan Bendera Indonesia. Meski dominasi warnanya sama namun tetap memiliki filosofi yang berbeda. Warna merah dan putih pada bendera Indonesia merupakan suatu manifestasi keragaman dan keluhuran Histori (baca:Budaya) yang ada di Indonesia. Berdasarkan buku “BUNG KARNO Biografi sang Putra Fajar” karya Johar T. H. Situmorang., M.A., Beberapa diantaranya sebagai berikut:

Kira-kira tahun 4000 sebelum masehi tanah ini memegang teguh warisan nenek moyang melalui tutur pitutur melakukan pemujian kepada dewa matahari (merah) dan rembulan (putih).

Pada dinding Candi Borobudur terdapat ukiran tiga orang hulubalang membawa umbul-umbul berwarna gelap dan terang, yang diduga melambangkan warna merah dan putih. Ukiran yang sama juga terdapat di Candi Mendut. Dan di sekitar Candi Borobudur juga sering menyebut bunga tunjung mabang (merah) dan tunjung maputeh (Putih).

Di bekas kerajaan Sriwijaya juga terdapat peninggalan berwarna merah dan putih.
Dan sangat banyak bukti-bukti perihal merah dan putih, bisa dibuka pada halaman 502 BAB “Sejarah asal-usul Bendera Merah Putih” yang terpenting adalah kedua warna tersebut yakni merah dan putih disebut Dwi Warna. Dalam konsep pemahaman bangsa Indonesia warna merah menunjukkan tanda keberanian dan putih adalah kesucian.

Berani dalam hal apa? Berani membela kebenaran, dengan niat murni dan suci. Jika filosofi hidup seperti ini diamalkan, maka terciptalah kerukunan dan kedamaian antarsesama manusia.
Dari pemaparan yang cukup singkat ini, dapat di ikhtisarkan bersama bahwa bendera merah putih disebut Dwi-warna dan sang pasangan proklamator disebut Dwi-tunggal. Tulisan ini diupayakan sebagai penebusan kesalahan dari ketidakpahaman saya “Miftahul Achyar” sebelumnya, sehingga baru saat ini, bisa ditemukan jawaban yang benar. Untuk meluruskan kesalahan saya dan beberapa tuan-tuan Mahasiswa, saya ‘mencoba’ menjawabnya dengan ilmiah, minimal terdapat rujukan yang bisa dibaca oleh khalayak. Wallahu a’lam bish showab.

Mengakui kesalahan ikwal sejarah sama dengan dengan menjaga keluhuran budaya kita, namun jika tidak mengakui kesalahan ataupun membiarkan kesalahan ihwal sejarah sama halnya bahwa diri “kita” berusak sejarah dan keluhuran budaya sendiri. Jika sulit untuk menjadi orang yang baik/benar, maka belajarlah untuk menjadi orang yang tidak mudah menyalahkan. Mohon maaf, atas segala khilaf dan salah, Sekian dan terima kasih.

SUMBER: Situmorang, Jonar (2015) BUNG KARNO Biografi Putra Sang Fajar. Yogyakarta: AR-RUZZ MEDIA.

Leave a Reply