https://limadetik.com/

Falsafah di Balik Topeng Keras Orang Madura

  • Bagikan
IMG 20200418 123116
Ilustrasi foto sakera (Madura)

Sabtu, 18 April 2020.

Limadetik.com – Oleh: Bukhari Muslim

https://limadetik.com/

ARTIKEL – Madura merupakan sebuah kepulauan yang terletak di ujung timur tanah jawa, namun terpisah oleh hamparan lautan di daerah Kamal Surabaya. Kekayaan alam yang melimpah, fenomena alam yang mukau, dan kaya akan budaya atau tradisi yang langka dimiliki daerah lain menjadi sorotan dunia dalam dimensi keindahan.

Namun ketika ditarik pada ruang yang berbeda, madura mendapatkan label atau dikenal dengan caroknya. Menurut M Salamet dalam jurnalnya, Citra negatif yang paling kentara adalah mengenai “carok” dan “clurit”. Jadi kata carok yang konon membuat miris hati, perasaan dan jiwa, sangat identik dengan aroma kekerasan, karena yang ada dalam bayangan adalah tindakan perkelahian dengan menggunakan senjata tajam berbentuk celurit, melengkung dan sangat tajam pada bagian ujungnya.

Stereotip ini, meskipun tidak selalu mencerminkan realitas yang sebenarnya, antara lain menyebutkan orang Madura keras perilakunya, kaku, ekspresif, temperamental, pendendam, dan suka melakukan tindak kekerasan, sering kali mendapatkan pembenaran, ketika terjadi kasus-kasus kekerasan di mana pelakunya orang Madura.

Carok dan celurit yang berbicara tentu bukan tanpa sebab dan alasan, karena pada hakikatnya orang madura “Tak lanyala mun tak esalae” Kalimat tersebut menjadi pegangan orang madura dalam kesahariannya. Baik di lingkungan, ataupun di tanah perantauan. Dalam hemat penulis, biasanya carok terjadi karena salah satu pihak merasa harga dirinya diinjak-injak sehingga luapan emosi harus tersalurkan.

Ada hal yang harus kita pahami dari masyarakat Madura dengan jargonnya “lebbhi bhagus pote tolang etembhang pothe matah” artinya lebih baik mati daripada menanggung rasa malu.
Namun di sini penulis akan menyingkap paradigma itu semua dengan memaparkan sifat dan falsafah orang madura yang penuh welas asih dan ikatan sosial yang kuat.

Berpegang Teguh Pada Prinsip

Derasnya guyuran budaya barat pada masyarakat madura tentu merupakan tantangan yang sangat berat, ditambah lagi dengan Wisata alam yang mengundang wisatawan asing untuk singgah yang pasti sedikit banyak atau lambat laun memberikan budaya barat atau kesan yang tidak diharapkan orang madura, namun di bawah tekanan itu semua masyarakat madura masih tetap gigih memengan prinsip budaya setempat dan budaya leluhur. Seperti yang ditulis oleh, Nikmah Suryandari di buku MADURA: Masyarakat, Budaya, Media, dan Politik, halaman 46.

Ada ungkapan-ungkapan yang merupakan cerminan dari pandangan atau falsafah hidup orang Madura yang mengandung kedalaman makna baik dalam relasi dengan penciptanya, sesama- nya, maupun lingkungannya. Diantara beberapa uangkapan tersebut antara lain:

1. Abantal syahadat asapo iman (berbantal syahadat, berselimut iman). Suatu ungkapan yang menyiratkan pentingnya menjadikan agama sebagai sandaran hidup. Ungkapan ini menun jukkan sifat religiusitas orang Madura terhadap agamanya.

Hal ini salah satunya tercermin pada model bangunan rumah di Madura yang selalu menempatkan bangunan langgar di sisi barat halaman rumahnya. Langgar ini menjadi tempat shalat, mengaji dan belajar agama. Sejak kecil anak-anak di Madura sudah dibiasakan untuk belajar mengaji dan ilmu agama pada kyai.

Tidak mengherankan bahwa dalam struktur masyrakat Madura, kyai memiliki posisi penting dengan beragam hak istimewa/ privilege. Di Madura kyai dan pesantren menjadi sentral hampir sebagian besar kegiatan keagamaan dan kemasyarakatan Madura. Hal ini menunjukkan kuatnya ikatan antara orang Madura dengan agamanya. Agama diterima bukan semata sebagai tradisi warisan leluhur, tapi juga menempati bagian tertinggi dalam kehidupan masyarakat Madura.

2. Bhuppha, bhabhu, ghuru, ratoh tidak sekedar menggambarkan struktur penghormatan orang Madura, melainkan juga menggambarkan proses relasi sosial orang Madura. Ketaatan pada orang tua (bapak dan ibu) (buppa ban Babbu) sebagai orangtua kandung sudah jelas, tegas, dan diakui keniscayaannya. Secara kultural ketaatan dan ketundukan seseorang kepada kedua orangtuanya.

Bhuppha-bhabhu adalah orang pertama bagi anak untuk belajar dan menerima pendidikan. Di lingkungan inilah proses sosial dalam lingkup kecil mereka kenal. Ghuru atau kyai merupakan sosok sentral dalam masyarakat Madura. Sementara Ratoh termasuk orang yang harus dihormati karena ia pemimpin formal dalam masyarakat. Bagi masyarakat Madura kepatuhan pada ratoh sudah tertanam kuat, sehingga sikap tunduk dan menghormati terhadap segala peraturan yang berkaitan dengan posisi dirinya sebagai warga negara adalah sebuah keniscayaan.

3. Lakona lakone, kennengnga kennengnge. Makna dari ungkapan ini adalah bahwa orang Madura memiliki pedoman atau tuntunan agar dapat membawa diri dimanapun dia berada dalam kondisi apapun.

Hal ini menunjukkan bahwa orang Madura ulet professional dalam bekerja, karena itu para perantau Madura jarang mengalami kegagalan.

4. Kar-karkar colpe. Ungkapan ini menunjukkan keuletan dan kegigihan orang Madura dalam bekerja. Bekerja diibaratkan seperti seekor ayam yang selalu mencakar-cakar tanah untuk mendapat makanan, meskipun hasilnya sedikit.

Ungkapan kar-karkar colpe juga menggambarkan sifat orang Madura yang rajin bekerja, tekun, mengumpulkan penghasilan sedikit demi sedikit. Sifat ini juga menunjukkan bahwa orang Madura pantang menyerah dan berputus asa, sampai dia mencapai keinginannya.

Sosial dan Peduli Pemerintah.

Pajjar laggu arena pon nyonara, (pajar pagi akan segera diterima) Bapa ‘tani se tedhung pon jaga`a, (bapak tani yang tidur akan bangun) Ngala` adalah ‘tor landhu` tor capengnga, (mengambil celurit, cangkul dan sakunya).Ajalannagi sarat kawajiban, (menjalankan kewajiban) Atatamen ma banya ‘hasel bumina, (bercocok tanam, memperbanyak hasil buminya) Ma ma’mor nagara tor bangsana (memberi kemakmuran terhadap negara dan bangsa).

Dalam lagu ini tergambar masyarakat madura yang memiliki rasa tanggung jawab dan menunjukkan sikap kepedulian yang baik pada Lingkungan sekaligus negara. Karena sebagai daerah yang kaya sumber alamnya tentu juga sangat penting dalam menunjang perekonomian Indonesia.

Dana juga dalam syair ini sedikit mewakili karakter orang madura yaitu keika fajar telah tiba para petani pergi kesawah untuk bertani guna menghidupi dan menafkahi peternakan. Bukan hanya itu saja, mereka juga berjuang untuk Memakmurkan Negara dan Bangsanya.

Penulis adalah: Mahasiswa STKIP PGRI Sumenep. Sekaligus kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) STKIP PGRI Sumenep.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan