Nasi bungkus dengan harga Rp.2.000 an (foto: Yant Kaiy)

SUMENEP, Limadetik.com — Saya menjadi terkejut dengan kenyataan yang tak masuk akal dalam kaidah bisnis. Betapa tidak, ada nasi bungkus dijual dengan harga Rp 2.000,- per bungkus. Malah kalau beli 3 bungkus harganya Rp 5.000,- saja.

Kalau sedikit nasinya wajar, tapi ini banyak. Kalau saya bandingkan sama banyaknya dengan nasi lalapan ayam goreng di warung pinggir jalan yang berharga Rp 15.000,- per porsi.

Awalnya istri membelikan nasi bungkus untuk anak saya yang sedang sakit demam. Biasanya anak saya sarapan sebelum berangkat sekolah dengan masakan istri. Tapi karena selera makannya menurun, kami berdua ke pasar pagi di Desa Dempo Timur Kecamatan Pasean-Pamekasan. Sehabis berbelanja kami langsung pulang.

Anak saya masih kelas 4 SD lahap sekali makan nasi bungkus itu. Saya perhatikan lauknya hanya sayuran diiris memanjang dicampur parutan kelapa dan bumbu khusus. Ketika ditawarkan sebungkus lagi, dia bilang sudah kenyang. Saya menghabiskan satu bungkus juga sudah kenyang.

Saya tanya berapa harga tiga bungkus nasi itu. Istri bilang hanya Rp 5.000,-. Hari gini ada harga nasi satu bungkus lima ribu rupiah? Saya tidak bisa membayangkan, berapa keuntungan penjual nasi ini. Harga beras sekarang paling murah Rp 235.000,- per ¼ kwintal.

Penampakan isi nasi dengan harga Rp.2.000 yang dijual bu Sati (foto:Yant Kaiy)

Bu Sati dan ketiga penjual nasi bungkus lainnya berjualan di pasar pagi di Desa Dempo Timur. Mereka berempat hanya berjualan pada hari Senin dan Jumat. Tapi pembeli sampai antri, padahal dari pagi mereka sudah membungkus nasinya.

Ketika limadetik.com menanyakan tentang keuntungan dagangannya.

“Ada, Mas. Tapi tidak banyak. Prinsip saya begini, siapa saja yang niatnya ikhlas berdagang sambil membantu, insya Allah akan diganti lebih banyak rejekinya dengan Allah. Saya bilang membantu karena tidak mengedepankan keuntungan semata,” ujar Bu Sati, perempuan paruh baya berasal dari Desa Dempo Timur, Jumat (20/12/2019).

Apakah harga murah itu karena adanya persaingan?

“Sudah menjadi kebiasaan dari tahun kemarin harganya segitu. Kalau harganya mau dinaikkan, tentu kami akan mermbicarakan dengan penjual nasi lain yang ada di pasar ini. Kalau saya sendiri yang menaikkan, tentu pembeli lari. Kalau saya menurunkan, jelas saya tak dapat untung,” pintasnya lugu tanpa beban. (Yant Kaiy/yd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here