Scroll Untuk Membaca Artikel
Artikel

Fiqih Syirkah

×

Fiqih Syirkah

Sebarkan artikel ini
Fiqih Syirkah
Ilustrasi

Fiqih Syirkah

Nama kelompok :
Dzulhijah Alkayyis Rayis 202210170311019
Muhammad Afif Zulfahmi 202210170311046
Diah Annisa Elmaita 202210170311087
Rizkanira Saqina 202210170311148
Prodi: Akuntansi
Fakultas: Ekonomi dan Bisnis
Universitas Muhammadiyah Malang

______________________________

GESER KE ATAS
SPACE IKLAN

A. Pengertian

ARTIKEL – Fiqih syirkah atau musyarakah adalah cabang ilmu fiqh yang membahas tentang hukum-hukum syirkah atau kerjasama dalam bisnis atau mengatur perjanjian antara dua pihak atau lebih untuk menjalankan usaha secara bersama-sama dengan tujuan memperoleh keuntungan.

Fiqh syirkah menjadi penting dalam bidang ekonomi Islam yang menekankan prinsip-prinsip kerjasama dan keadilan. Dalam fiqh syirkah, termasuk juga membahas tentang hak dan kewajiban para mitra usaha, pembagian keuntungan atau kerugian, serta syarat-syarat sahnya syirkah sesuai dengan hukum syariah.

B. Dasar Hukum

Dasar hukum fiqih syirkah/musyarakah adalah Al-Quran dan As-Sunnah. Dalam Al-Quran, syirkah/musyarakah disebutkan dalam beberapa ayat, di antaranya:

1. QS. Al-Maidah ayat 2
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa; dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.”

2. QS. Ali Imran ayat 103
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali Allah, dan janganlah kamu berpecah-belah” (QS. Ali Imran: 103)

Selain itu, dalam As-Sunnah, terdapat banyak hadist yang memperkuat hukum syirkah/musyarakah, di antaranya:

1. Hadist Riwayat Abu Said Al-Khudriyah, “Muslim berteman dengan Muslim, dia tidak menipunya, tidak merugikannya, dan tidak meninggalkannya dalam kesulitan.” (HR. Ahmad).

2. Hadist riwayat Abu Hurairah, “Seseorang dari kalian tidaklah beriman sampai dia mencintai untuk saudaranya apa yang dicintainya untuk dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim).

3. Hadist riwayat Abu Thalhah Al-Khushani, “Nabi SAW bersabda, ‘Sesungguhnya Allah senang jika hamba-Nya makan sesuatu dari hasil keringat tangannya sendiri.’” (HR. Tirmidzi).

C. Rukun

1. Sighat (Ijab Qabul).

Adapun syarat sah dan tidaknya akad syirkaah tergantung pada sesuatu yang di transaksikan dan juga kalimat akad hendaklah mengandung arti izin buat membelanjakan barang syirkah dari perseronya (Rasyid, 1992).

2. Al Aqidain (Subjek Perikatan)

Syarat menjadi anggota perserikatan yaitu: orang yang berakal, baligh, dan merdeka atau tidak dalam paksaan. Disyaratkan pula bahwa seorang mitra diharuskan berkompeten dalam memberikan kekuasaan perwakilan, dikarenakan dalam musyarakah mitra kerja berarti mewakilkan harta untuk diusahakan (Tim Pengembangan Syariah, 2001).

3. Mahallul Aqd (Objek Perikatan).

Objek perikatan bisa dilihat meliputi modal maupun kerjanya. Mengenai modal yang disertakan dalam suatu perserikatan hendaklah berupa; modal yang diberikan harus uang tunai, emas, perak, atau yang nilainya sama; modal yang dapat. terdiri dari aset perdagangan; dan modal yang disertakan oleh masing- masing pesero dijadikan satu, yaitu menjadi harta perseroan, dan tidak dipersoalkan lagi dari mana asal-usul modal itu (pasaribu dan Lubis, 1996).

D. Syarat Sah.

Syarikah itu memiliki lima syarat, yaitu:

1. Ada barang berharga yang berupa dirham dan dinar.

Harta yang dijadikan syirkah adalah mata uang. Namun, syarat ini bukanlah syarat mu’tamad (rezmi madzhab). Yang dijadikan syarat adalah mitsli (barang yang bisa ditakar ataukah ditimbang), bukan mutaqawwam (yang punya nilai, seperti hewan dan kain).

2. Modal dari kedua pihak yang terlibat syarikah harus sama jenis dan macamnya.

Maka tidak boleh dari jenis yang berbeda. Maka harta pihak yang bekerja sama tidak terbedakan dengan yang lain. Jika terjadi kerusakan lantas harta yang ada bisa dibedakan, maka bisa jadi ada yang mengambil hak orang lain tanpa jalan yang benar.

3. Menggabungkan kedua harta yang dijadikan modal.

Sehingga kedua harta tersebut tidak mungkin terbedakan.

4. Masing-masing pihak mengizinkan rekannya untuk menggunakan harta tersebut.

Penggunaan harta berarti harus meminta izin rekan syirkah.

5. Untung dan rugi menjadi tanggungan bersama.

Di sini tidak memandang banyaknya kerja. Karena syirkan ini tumbuh dari harta, sehingga keuntungan dan kerugian dihitung dari harta.

6. Masing-masing pihak bisa membatalkan syarikah kapan pun dia menghendaki. Jika salah satu pihak meninggal dunia, maka syarikah ini batal.

E. Macam Macam Syirkah

Ada beberapa macam syirkah, yaitu:

1. Syirkah al-mufawadah, yaitu syirkah di mana semua pihak terlibat sama-sama berkontribusi dalam bentuk uang, tenaga, dan keterampilan.

2. Syirkah al-mudharabah, yaitu syirkah di mana satu pihak memberi modal dan pihak lain memberikan keterampilan dan pengelolaan usaha.

3. Syirkah al-musytarakah, yaitu syirkah di mana dua atau lebih pihak menyediakan modal dan keterampilan secara bersama-sama.

4. Syirkah al-wujuh, yaitu syirkah di mana setiap pihak memiliki bagian dan jenis usaha yang berbeda-beda.

5. Syirkah al-inan, yaitu syirkah di mana satu pihak memberikan modal dan pihak lainnya memberikan jaminan bahwa modal tersebut akan dikembalikan dengan nilai yang lebih tinggi.

6. Syirkah al-abdan, yaitu syirkah di mana setiap pihak menyumbangkan tenaga kerja, keterampilan, serta modal pada usaha bersama.

7. Syirkah al-muzara’ah, yaitu syirkah di mana satu pihak menyediakan lahan dan pihak lainnya menyediakan modal, serta keterampilan untuk mengolah lahan tersebut.

8. Syirkah al-musahamah, yaitu syirkah di mana para pihak mencampurkan barang-barang mereka dan mengambil bagian sesuai dengan kesepakatan.

× How can I help you?