Formulasi OI, Produk Masa Depan Saingan AI

Formulasi OI, Produk Masa Depan Saingan AI
Ilustrasi

Formulasi OI, Produk Masa Depan Saingan AI

Oleh : Aliya
Mahasiswi IST Annuqayah, Guluk-Guluk

________________________

ARTIKEL – Melansir dari tempo.co Istilah OI diperkenalkan pertama kali oleh situs Frontiers in Science pada Selasa, 28 Februti 2023. Sebuah proyek yang dipimpin oleh Lena Smirnova dari Pusat Alternatif Pengujian Hewan (CAAT) mempublikasikan tulisan berjudul Organoid Intelligence (OI).

Penamaan OI dipilih karena menggambarkan bidang biokomputasi yang diarahkan oleh otak manusia sebagai komponen utamanya. Komputasi teknologi tersebut memanfaatkan mesin yang dirakit sendiri dari kultur sel otak manusia berwujud 3 dimensi (3D).

OI memiliki berbagai kemajuan yang diprediksi akan lebih mutakhir dari AI, padahal saat ini saja teknologi AI diramalkan akan terus dikembangkan dan digunakan dalam beberapa tahun ke depan. Secara teknis, selain menggunakan kecerdasan buatan OI akan ditopang dengan sel-sel otak manusia (brain organoids), yang diambil dari sampel kemudian diperbanyak untuk berbagai kepentingan penelitian.

Baca Juga :   Kendatipun Pandemi Corona, Sambut Ramadhan dengan Bahagia

Dengan memanfaatkan teknologi dengan kehebatan otak manusia yang belum banyak tereksplorasi, penelitian OI juga digarap demi meningkatkan pemahaman manusia tentang perkembangan otaknya sendiri, misalnya dalam hal meningkatkan daya ingat dan penanggulangan penyakit.

Peneliti dari Johns Hops Univeristy bahkan mengklaim OI berpotensi membantu menemukan pengobatan untuk gangguan saraf seperti demensia, amnesia dan penyakit lainnya. OI tak hanya dibuat untuk melampaui kecanggihan teknologi biasa, tetapi lebih jauh dalam dunia kesehatan modern.

Hal ini menjadi dilematis bagi penikmat teknologi yang masih belum selesai terkagum-kagum dengan kecanggihan dan kepintaran AI namun sudah muncul saingan terberatnya.

Apakah OI berbahaya bagi manusia?

Pada saat kemunculan pertama Artificial Intelligence (AI) yang tumbuh lebih canggih dan tersebar luas, banyak pihak memperingatkan adanya bahaya kecerdasan buatan tersebut. Seperti kata Stephen Hawking, ‚ÄúPerkembangan AI bisa berarti akhir dari umat manusia”.

Baca Juga :   Delusi Bhayangkari

Hal ini dilihat dari beberapa pekerjaan dan kegiatan sehari-hari yang mulai digantikan dengan akses digital serba praktis, banyaknya tenaga kerja yang diganti robot sehingga mengakibatkan meningkatnya potensi pengangguran, propaganda publik dengan basis online, robot yang menyamar dan meretas data sehingga mempersempit privasi manusia, serta ketimpangan sosial lainnya yang tidak bisa dinafikan karena AI adalah produk digitalisasi dan tidak semua orang bisa beradaptasi dengan mudah yang jika dibiarkan akan merusak eksistensi manusia yang seharusnya menjadi pelaku utama.

Jika dibandingkan dengan AI, sampai kini OI masih menjadi produk yang belum diprediksi akan membawa dampak negatif karena selain sebagai pemutakhir kecanggihan teknologi, penggunaannya juga dicanangkan untuk lebih fokus pada pengembangan penelitian dan kesehatan.

Terkenal dengan nama ‘Otak Mini’ membawa harapan OI dapat memajukan dunia teknologi dengan memadukan bidang sains, bioteknologi, dan ilmu komputer dengan memanfaatkan kekuatan sistem biologis yang akan sangat berguna bagi kehidupan manusia.

Baca Juga :   Bersiap Diri Menyambut Ramadhan

Namun meskipun demikian, kekhawatiran ilmuwan terkait penemuan OI juga tidak jauh beda, sebab setiap kemajuan pasti membawa dua dampak yaitu positif dan negatif sebagai keniscayaan tergantung dari penggunanya.

Dengan segala akses instan yang ditawarkan oleh kemajuan peradaban, cakap digital menjadi penopang utama untuk memfilter sebagai upaya pencegahan dampak negatif dari hal tersebut.
_______________________

Disclaimer ; Seluruh isi tulisan ini adalah tannggungjawab penulisn

Tinggalkan Balasan