Genosida Berantai

Artikel

Judul    : Genosida Berantai

Penulis  : Afif Muhammad

Gusdurian Bondowoso

Artikel, Limadetik.com – Nusantara dengan ragam kekayaannya sungguh suguhan panorama surga mini, sejuk serta ramah penduduknya memberikan nuansa beda dari lainnya. Banyak sekali sumberdaya alam yang tumbuh dan teraimpan rapi di bawah tanah nusantara ini, tak hanya itu, daratan sepanjang sabang sampai merauke, bak lembah surga yang tak diragukan kesuburannya. Apa yang tidak tumbuh di tanah nusantara ini…? Menakjubkan.

Pertanian sebagai salah satu aspek penting dalam menjaga pokok ketahanan pangan, harusnya menjadi upaya utama untuk terus dipikirkan secara serius. Tak hanya itu, petaninya pun tentu harus seterusnya dikembangkan dengan berbagai edukasi-edukasi yang bersifat kekinian tanpa harus meninggalkan nilai dan model bertani tradisonal. Kita sadari, setiap apa yang dikonsumsi kita merupakan hasil jerih payah petani, mulai dari beras, sayur dan kebutuhan pokok lainnya.

Namun dalam perjalananya, petani kita masih perlu untuk terus diedukasi dan dikembangkan, banyak faktor yang menyebabkan terjadinya berbagai realitas yang jauh beda antara petani dulu dan sekarang. Begitu pula gaya hidupnya. Petani dulu dengan alat seadanya, sealami mungkin mampu melakukan cocok tanam dengan baik dan mampu menghidupi keluarga tanpa tingginya kebergantungan. Era berganti dimana masuklah berbagai model modern yang kemudian perlahan menggeser pola bertani petani kita. Semua dibuat serba efisien dan cepat. Kita harus menerima hadirnya. Kehadirannya pun sungguh mencuci otak para petani kita. Bak peperangan, petani menjadi ladang empuk untuk diberlakukan sebagai seenaknya tanpa memikirkan pengetahuan dan kesejahteraan hidupnya. Apa karena sifat sabarnya ya? Entahlah.

Dulu, Petani, alam dan hewan menyatu dalam satu aktifitas. Indah mata ini memandang, rindang hidup pada masa itu. Dulu membajar ditemani burung-burung dan serangga-serangga lainnya. benar kata Karwan A. Salikin bahwa pertanian merupakan bagian agroekosistem yang tak terpisahkan dengan subsistem kesehatan dan lingkungan alam, manusia dan budaya saling mengait dalam suatu proses produksi untuk kelangsungan hidup bersama. Saat ini tidak, dengan trend modern yang serba besi dan kimia semua dipisah secara pelan. Hewan (sapi) yang dulunya berkehidupan bebas di perladangan, saat ini dibelenggu layaknya tawanan. Dulu pupuk serba alami, saat ini sudah serba kimiawi. Dulu belalang dan jenis serangga lainnya berterbangan riang dengan ekosistemnya saat ini hilang entah kemana. Seakan diluar nalar. Bak predator, dengan obat-obatan yang sedemikian varian, petani kita seolah diharuskan membasmi semuanya tanpa meninggalkan satu ekorpun kehidupan. Realitanya, rusak ekosistem alam kita. Tanah serasa panas bagi mereka. ekosiatem mereka tergeser.

Entah ini tragedi apa. Apa yang terjadi dengan gaya pertanian kita?, seolah ini suatu ketidak siapan yang dipaksakan diterima. Atau suatu kelemahan kebergantungan sehingga ada satu kekuatan besar yang mengendalikan. Mereka susun model serta regulasinya untuk memaslahatkan, faktanya mereka maaih saja enak bersekongkol dalam oligarki penimbunan. Benih-benih, alat, pupuk dan obat-obatan yang seharusnya dirasakan dan tercicipi oleh petani, justru dikembangbiakkan menjadi ladang investasi pribadi. Sungguh buas manusia yang sok ketani tanian ini. Untung petani kita sabar.

Ketika panen, petani kita dulu dipanen sendiri, ditumbuk sendiri untuk kebutuhan sehari-hari. Mereka masih cukup menyisakan hasil panennya untuk dikumpulkan dilumbung pangan desa untuk persediaan kehidupan bersama pada masanya. Kuat lah nilai emosional berkehidupan petani kita. Saat ini bukan panen namanya, petani kita mulai dibuai oleh makelar angka yang hadir ke petani penuh asa. Mereka suguhkan angka dari hasil reka-reka. Dengan obrolan yang tak seberapa, seolah semua jerih payah, keringat kuning petani kita teranggap sejahtera. Faktanya, petani kita masih dilanda derasnya kekurangan dan kemiskinan dalam rata-rata. Petani kita menjerit dalam kesabaran. Tuhan, ini kejadian apa?.

Tahukah petani kita kalau 24 September negara memperingati mereka? Tidak. Adakah sebuah edukasi upaya menjaga nilai nilai ketradisonalannya? Sepertinya juga tidak. Ah, terlalu lebay tuan-tuan di bangsa ini. Sampe klimaksnya pun keteteran lepas kontrol menjadi virus kepanasan dan gatal. Menggaruk lah petani kita. Miris.

Redaktur : Tim LD

Ditulis : 24/9/2017

 

Leave a Reply