https://limadetik.com/

Harapan dan Tantangan Profesi Guru dalam Mengawal Kwalitas Pendidikan di Masa Pandemi Covid-19

  • Bagikan
IMG 20200922 WA0012

Selasa, 22 September 2020

Oleh. : MOH.HAIRUDDIN
mohhairuddinpamekasan@gmail.com

https://limadetik.com/

Pendidikan merupakan hal yang penting dalam membentuk kepribadian manusia. Proses pembentukan kepribadian manusia sendiri berjalan seumur hidup dari lahir sampai akhir hayat. Proses pembentukan tersebut dapat ditempuh melalui jalur formal, informal, dan non formal.

Dalam pendidikan formal, proses pembelajaran memiliki kontribusi yang besar, karena pada umumnya seseorang akan melalui sistim pendidikan dari SD, SMP, SMA, dan perguruan tinggi. Didalam proses pembelajaran formal tersebut seringkali menemui beberapa permasalahan. Permasalahan yang dihadapi dalam proses pembelajaran tentu berkaitan dengan siswa, guru, sekolah dan lingkungan sekolah. Kesemuanya memiliki kontribusi yang sama pentingnya dalam peningkatan kualitas pendidikan di suatu sekolah.

Namun dalam proses pembelajarannya, interaksi antara guru dan siswa menjadi suatu keharusan, sehingga peran guru dalam pembelajaran sangatlah penting. Supriyadi (2012:73) menyebutkan bahwa “Fungsi guru dalam proses belajar mengajar ialah sebagai director of learning (direktur belajar)”. Artinya bahwa setiap guru diharapkan untuk pandai-pandai mengarahkan kegiatan belajar siswa agar mencapai keberhasilan belajar seperti yang telah ditetapkan dalam proses belajar mengajar.

Jadi dewasa ini peran guru menjadi semakin meningkat, dulu pembelajaran berpusat pada guru, namun sekarang pembelajaran berpusat pada siswa, sehingga guru dituntut untuk kreatif dalam mengembangkan metode pembelajaran supaya peserta didik mencapai keberhasilan sesuai tujuan yang telah direncanakan.

Dalam proses pembelajarannya seorang
guru hendaknya mengetahui latar belakang siswa serta kebutuhan siswa, sehingga nantinya guru bisa memberikan pembelajaran dengan maksimal. Seorang siswa menurut Kristi dalam Kesuma (2013 : 10) menyebutkan bahwa “Siswa adalah jiwa yang terus berubah, berproses, bertumbuh, berkembang, dan bertransformasi sehingga mereka bukan objek pembelajaran”. Melalui sistim pendidikan yang baik, seharusnya guru dan sekolah bekerjasama untuk memenuhi hak-hak peserta didik berdasarkan tahap perkembangan dan kebutuhan setiap pribadi peserta didik.

Tujuan belajar sendiri menurut Kesuma (2013 : 10) adalah “Tujuan belajar adalah membuat siswa senang belajar, membuat mereka menikmati belajarnya, membuat mereka menemukan relasi-relasi pengetahuan berdasarkan apa yang mereka pelajari”.

Sebagai guru yang profesional hal ini menjadi suatu keharusan, bahwa dalam proses belajar mengajar sebisa mungkin membuat suasana belajar yang menyenangkan, dengan pembelajaran yang menyenangkan maka akan meningkatkan minat. motivasi dan prestasi belajar siswa. Apalagi dalam era modernisasi ini, guru diberikan berbagai kemudahan, misalnya adanya LCD. Melalui LCD dapat ditampilkan video-video pembelajaran yang akan membuat suasana yang berbeda dikelas.

Penggunaan model pembelajaran yang bervariasi juga dapat meningkatkan minat siswa dalam belajar. Namun dalam praktiknya, tidak semua guru dapat memenuhi standar profesional. Dalam kenyataan disekolah, guru memiliki sifat dan karater yang berbeda-beda, tidak jarang juga pihak sekolah menemui kendala atau permasalahan yang berkaitan dengan keprofesionalan seorang guru.

Proses pembelajaran dikelas biasanya berkaitan dengan cara atau metode pembelajarannya. Metode atau cara pembelajaran, berkaitan dengan sifat profesionalisme guru dalam mengajar. Seorang guru yang profesional sebaiknya mampu menerapkan berbagai metode pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa. Penggunaan bebagai metode pembelajaran yang bervariasi dan inovatif tentu akan meningkatkan keaktifan dan prestasi belajar siswa.

Namun pada kenyataannya, proses pendidikan di Indonesia tidak semua berjalan dengan lancar dan tidak semua guru dapat menempatkan dirinya pada situasi dan kebutuhan siswa. Seperti yang diungkapkan Nini Subini (2012 : 89) mengenai kesalahan-kesalahan yang sering dilakukan oleh guru, salah satunya adalah “Berkaitan langsung dengan proses pembelajaran, terutama saat kegiatan belajar mengajar di dalam kelas seperti berpikir egosentris, merasa paling pintar, tidak menguasai materi, mengajar tanpa mendidik, dan sebagainya”.

Disini guru memang tidak menjadi faktor utama penentu kualitas pendidikan, namun disini guru memiliki peran yang penting dalam proses pembelajaran. Seperti yang ditegaskan oleh Nini Subini (2012 : 45) bahwa “Yang paling menentukan mengenai kualitas pendidikan di Negara ini adalah guru, Walaupun selama ini telah terjadi beberapakali pergantian kurikulum, yang terpenting adalah pelaksanaan dan hasil yang didapatkan”.

Proses pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau pembelajaran daring yang saat ini sedang dijalani oleh para guru merupakan hal sangat memprihatinkan. Disatu sisi kurikulum harus berjalan namun disisi lain infrastruktur belum memadai dan cendrung tidak merata untuk menunjang kelancaran kegiatan pembelajaran Jarak Jauh tersebut.
Ada empat pokok utama strategi yang diusung kemendikbud.

Pertama, pembelajaran dilakukan secara daring baik secara interaktif maupun non interaktif. Hal ini perlu dilakukan meskipun tidak semua anak dapat melakukan itu karena faktor infrastruktur, yang terpenting pembelajaran harus tetap berjalan meski dirumah, tanpa para guru harus memiliki target bahwa kurikulum harus tercapai. Bukan memindahkan sekolah dirumah, namun pilihan materi-materi esensial yang perlu dilakukan anak-anak di rumah.

Kedua, adalah tenaga pengajar atau guru harus memberikan pendidikan kepada anak-anak tentang kecakapan hidup, yakni pendidikan yang bersifat kontekstual sesuai kondisi
rumah masing-masing terutama pengertian tentang Covid-19 mengenai karakteristik, cara menghindarinya dan bagaimana cara agar seseorang tidak terjangkit.

Ketiga, adalah pembelajaran dirumah harus disesuaikan dengan minat dan kondisi masing-masing anak, jadi jangan disama ratakan untuk semua anak, harus memperhatikan semua kondisi lingkungan anak-anak, termasuk akses terhadap internet.

Keempat, Bagi para tenaga pengajar atau guru tugas-tugas yang diberikan kepada siswa tidak harus dinilai seperti biasanya disekolah, akan tetapi penilaian lebih banyak kualitataif yang sifatnya memberi motivasi kepada anak-anak. Demikian pernyataan Bapak Plt.Direktur Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar dan Menengah Kementrian Pendidkkan dan Kebudayaan RI, Hamid Muhammad yang disampaikan lewat telekonfrensi bersama para guru dan pegiat pendidikan di Media Center Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 di Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Jakarta, 2 Mei 2020.

Pembelajaran oneline merupakan hal baru dan menjadi tantangan tersendiri bagi sebagian besar murid, guru maupun orang tua. Saat krisis seperti sekarang ini merupakan masa adaptasi yang penuh kebingungan dan ketidak pastian, banyak guru, murid bahkan orang tua yang belum familier terhadap tehnologi. Pasti tidak mudah dan ini normal demikian yang disampaikan oleh Mendiknas dalam video kanal You Tube.

Pembelajaran melalui pembagian kelompok-kelompok belajar yang lebih kecil, dipandang sangat efektif karena setiap kelompok belajar fokus pada topik yang paling menyulitkan atau topik yang paling menarik bagi siswa. Melalui kelompok-kelompok belajar yang kecil guru atau pengajar bisa memberikan proyek penugasan kepada masing-masing kelompok siswa. “Ini menciptakan satu tantangan dan kolaborasi”.

Murid akan dipaksa untuk bekerja sama, yang akan melatih empati dan kemampuan mendorong sesama mereka. Oleh karena itu, ini saatnya bereksperimen dengan alokasi waktu. Ketimbang mengejar target untuk seluruh topik. “Seperti halnya murid, inilah saatnya guru dan orang tua berinovasi dengan melakukan banyak tanya, banyak coba, dan banyak karya. Tetap semangat Insya Allah Hebat. [*]

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan