https://limadetik.com/

Ibu di Mata Aktivis HMI Komisariat STKIP PGRI Sumenep

Ibu di Mata Aktivis HMI Komisariat STKIP PGRI Sumenep
FOTO: Rofi Hatin

SUMENEP, Limadetik.com – Tanggal 22 Desember, adalah hari dimana telah ditetapkan sebagai hari Ibu, tentu penetapan tanggal tersebut memiliki makna bagi setiap orang yang lahir dari rahim seorang ibu agar senantiasa mengenang jasa besar pahlawan sejatinya, yakni ibu.

Bagaimana ibu di mata seorang anak, Rofi Hatin, aktivis mahasiswa Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat STKIP PGRI Sumenep menilai, bahwa ibu adalah sosok yang tidak ada duanya di dunia ini selain ayah.

limadetik branding

“Ibu adalah sosok bidadari tak bersayap untukku. Tentu juga mungkin untuk semua orang yang lahir ke bumi ini. Perempuan hebat yang selalu ada dalam suka dan dukaku,” katanya, Rabu (22/12/2021).

Baca Juga :  Terkait Dugaan Pugli, Kabid Dikdas Terkesan 'Mandul', Menteri Pendidikan: Laporkan Ke Kadisdik

Rofi sapaan akrabnya menilai, jika di dunia masih ada seorang anak yang tidak menyayangi dan perhatian kepada ibu nya, tentu dia adalah orang yang paling merugi selama hidupnya.

“Suport dan doa terbaik yang selalu ia (ibu) berikan untukku, dan pastinya juga untuk anak-anak yang lainnya. Dia adalah pemilik cinta dan kahangatan yang tiada duanya,” ungkapnya dengan penuh kasih sayang.

Baca Juga :  Dihadiri Ribuan Santri, Kementan Gelar Bimtek KSTM

Tentu lanjut mahasiswi semester empat Prodi PBSI STKIP PGRI Sumenep itu, semua apa yang selama ini diberikan oleh ibu kepada anaknya adalah hal yang tidak akan pernah terlupakan dan tergantikan hingga akir hayat.

“Semua dia berikan kepada kita anaknya, maka patut kiranya di tanggal dan bulan ini dirayakannya hari ibu. Sebagai bentuk penghormatan, bentuk terimakasih kita serta rasa cinta kita kepada malaikat bernama Ibu. Dan sebagai mahkota dan gelar baginya sebagai sosok perempuan terhebat di dunia” ungkapnya.

Baca Juga :  SMSI Provinsi Jawa Timur Pertama di Verifikasi Dewan Pers

Terakhir mahasiswi yang gemar menulis itu berpesan kepada semuanya, agar tetap menjung tinggi, menghormati dan menyayangi kedua orang tuanya, selagi mereka (ibu dan ayah) masih ada.

“jangan sampai nantinya kita menyesal, karena tidak menghormati ibu kita disaat masih hidup di dunia ini, dan seandainya seorang ibu sudah tidak lagi hidup bersama kita, tetaplah menyayanginya dengan terus mendoakannya” tukas Rofi.

Respon (1)

Tinggalkan Balasan