https://limadetik.com/
Opini  

Mahasiswa Kini Tak Perlu Berprestasi

Mahasiswa Kini Tak Perlu Berprestasi
FOTO: Ilustrasi

Mahasiswa Kini Tak Perlu Berprestasi
Oleh: Khairil Anwar

OPINI, Limadetik.com – Pendidikan berfungsi sebagai suatu proses dalam membentuk manusia yang merdeka atau berfungsi sebagai suatu pembebas bagi manusia baik dalam konteks Mental-Psikisosial ataupun dalam Ekonomi Politik, karna pendidikan berfungsi sebagai suatu wahana yang paling efektif dan efesien guna untuk melakukan Mobilisasi secara kolektif dalam melakukan suatu rekontruksi pemikiran Individu atau pemikiran masyarakat yang lebih berkeadilan.

limadetik branding

Praksis pendidikan sebenarnya adalah ketika setiap individu maupun kolektif memiliki kesadaran kritis dan mampu menganalisa suatu persoalan atau dinamika yang terjadi di lingkungan sekitar dan mampu menjadi promotor penggerak proses transformasi dalam masyarakat. Praksis Pendidikan otentik dengan nilai nilai kebijaksanaan dan kemuliaan bagi manusia namun dalam proses metamorfosis rekonstruksi kendati memerlukan suatu konsistensi guna dalam mencapai suatu tujuan yang lebin tinggi yakni dengan harapan mampu merekonstruksi masyarakat menuju kehidupan baru yang lebih baik yakni dengan prinsip, bebas, adil dan damai sehingga dapat mengantarkan masyarakat yang lebih moderen.

Baca Juga :  OPINI: Mewujudkan Pemuda Harapan Bangsa

Pendidikan harus mampu menjadi suatu kawah candradimuka guna membentuk suatu konstruk pemikaran masyarakat yang mampu merombak suatu perilaku yang penuh penindasan seraya dalam Pendidikan yakni adalah membentuk suatu pemikiran masyarakat dengan konstruk berfikir yang lebih moderen dan berkeadilan tanpa penindasan sehingga masyarakat menyadari bahwasanya penindasan dan diskriminasi harus dimusnahkan dan itu menjadi musuh bersama.

Mengingat terdapat landasan yuridis yang memberikan instruksi terhadap pelarangan perilaku deskriminatif. Dalam pasal 4 ayat (1) UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Namun, hal tersebut nampaknya tidak diindahkan oleh kampus STKI PGRI Sumenep.

Baca Juga :  Jika DPR Tidak Mampu, FL2MI Siap Bantu

Baru-baru ini terdapat program yang diselenggrakan oleh kemendikbud, yaitu Kampus Merdeka. Dalam program ini dibagi kembali menjadi beberapa program yang lebih spesifik, di antaranya Kampus Mengajar, Study Independen dan Magang Merdeka. Dari sekian mahasiswa yang mengikuti program tersebut, beberaa di antara mereka banyak yang lulus dalam program ini, terutama Kampus Mengajar dan Study Independen. Sebagai bentuk apresiasi atas lolosnya seleksi pada program tersebut, pihak kamus STKIGRI Sumenep membuat ucapan selamat berupa pamflet.

Namun yang menjadi persoalan adalah tatkala ucapan selamat dalam bentuk pamflet tersebut hanya diperuntukkan bagi mahasiswa yang lolos seleksi Kampus Mengajar, tidak dengan mahasiswa yang lolos pada program Study Independen. Dari sini kita bisa menilai bahwa
terdapat semacam keberpihakan dari pihak kampus dalam memberikan apresiasi terhadap mahasiswa yang lolos dalam program dari kemendikbud tersebut.

Baca Juga :  Bantu Sesama, Wujudkan Solidaritas dan Soliditas Bersaudara

Entah karena program Study Independen mungkin lebih rendah secara hierarkis daripada Kampus Mengajar, atau mungkin ada semacam kepentingan partikular atau kolektivitas, sehingga hal tersebut menutupi mata pihak kampus dalam memberikan penilaian secara objektif terhadap setiap mahasiswanya yang berprestasi.

Hal semacam ini merupakan salah hal yang dapat membuat liabilitas dalam progresivitas lembaga pendidikan, karena kurangnya apresiasi terhadap anak didiknya yang berprestasi akan membuat stagnan atau mungkin dalam bahasa yang lebih kasar awal kehancur leburan sebuah pendidikan. (*)
______________________________________
Catatan: Seluruh isi tulisan merupakan tanggung jawab penulis

Tinggalkan Balasan