Menagih Cahaya di Saredeng Kecil: Empat Tahun Janji yang Membatu
Oleh : Bagus R
Mahasiswa UNIBA Madura
Putra Daerah Saredeng Kecil
_______________________________
OPINI – Di tengah riuhnya narasi kemajuan teknologi dan digitalisasi yang didengungkan di menara gading universitas, saya berdiri di sebuah realitas yang kontradiktif. Di Dusun Saredeng Kecil, Desa Saseel, kegelapan bukan lagi sekadar fenomena alam, melainkan bentuk pengabaian struktural yang telah mengakar selama empat tahun terakhir.
Tiang-tiang listrik berdiri angkuh, kabel kabel melintang menjadi garis hitam di langit malam, namun tak sepeser pun elektron mengalir di sana.
Infrastruktur itu kini hanya menjadi artefak bisu, atau lebih ironisnya, hanya menjadi “jalan tol” bagi tikus, sementara manusia di bawahnya harus bergelut dengan kegelapan untuk sekadar membaca satu kalimat dalam buku pelajaran.
Puisi Politik dan Amnesia Penguasa
Sebagai mahasiswa, saya melihat fenomena ini bukan sekadar masalah teknis, melainkan masalah etis. Selama ini, Saredeng Kecil hanya dijadikan tempat pelampiasan janji-janji manis dan puisi politik yang datang seperti angin laut bertiup kencang saat musim pemilihan, lalu hilang tanpa pamit saat kursi kekuasaan telah diduduki.
Masyarakat kami lelah menjadi objek eksperimen janji. Kami bukan anak tiri di tanah sendiri. Namun, perlakuan yang kami terima menunjukkan adanya bias perhatian yang nyata.
Aparat desa seolah “tuli” oleh kepentingan kapital dan silau oleh pembangunan yang hanya berpusat pada estetika mata, tanpa menyentuh kebutuhan fundamental.
Secara akademis, pembangunan yang mengabaikan satu wilayah terpencil adalah bentuk kegagalan distribusi keadilan. Saredeng Kecil membutuhkan dua mata yang melihat dengan adil dan memiliki rasa kepemilikan (sense of belonging).
Jangan lagi melihat kami dengan sebelah mata yang menganggap kami beban atau lampiran tak penting dalam peta desa.
Saat ini, kita berada di ambang pergantian kepala desa.
Momentum ini seharusnya bukan sekadar rutinitas administratif, melainkan panggung pertobatan bagi kebijakan yang selama ini diskriminatif. Kami tidak butuh pemimpin yang pandai berpuisi, kami butuh eksekutor yang mampu menyalakan lampu di rumah-rumah kami.
Marhaban Ya Ramadhan: Refleksi bagi Pemangku Kebijakan
Menjelang bulan suci Ramadhan, saya ingin menyampaikan pesan khusus kepada perangkat desa: Marhaban Ya Ramadhan. Semoga bulan yang penuh cahaya ini mampu menerangi hati dan kesadaran kalian yang mungkin sedang tertidur.
Sangat ironis jika di bulan suci ini, masyarakat Saredeng Kecil harus beribadah dan anak-anak mengaji dalam kegelapan yang dipaksakan oleh kelalaian birokrasi.
Suara rakyat adalah suara Tuhan. Jika aparat desa terus menutup telinga, maka biarlah sejarah dan intelektualitas yang berbicara. Kami tidak meminta kemewahan, kami hanya meminta hak dasar kami sebagai warga negara yang setara.
Saredeng Kecil butuh cahaya, bukan sekadar tiang tanpa nyawa.
