Opini

Menggugat Esensi Hari Pendidikan: Ketika Moralitas Tergerus Formalitas

Menggugat Esensi Hari Pendidikan: Ketika Moralitas Tergerus Formalitas
Siti Ainiyah

Menggugat Esensi Hari Pendidikan: Ketika Moralitas Tergerus Formalitas

Oleh : Siti Ainiyah
Mahasiswi Al-Khairat Pamkesan

__________________________________

OPINI – Setiap tanggal 2 Mei, bangsa Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional sebagai bentuk penghormatan terhadap perjuangan Ki Hadjar Dewantara. Pidato-pidato kemajuan disampaikan, upacara digelar secara khidmat, dan jargon “Merdeka Belajar” menggema di mana-mana.

Namun, jujur saja, di balik kemeriahan seremonial tersebut, terselip sebuah keresahan mendalam yang tak bisa saya pungkiri: nilai-nilai luhur pendidikan kita perlahan namun pasti mulai meluntur. Pendidikan yang seharusnya menjadi proses “memanusiakan manusia” kini tampak bergeser menjadi sekadar industri pemenuhan administrasi belaka.

Tirani Angka dan Hilangnya Kejujuran

Masalah paling mendasar dalam sistem pendidikan kita adalah pemujaan yang berlebihan terhadap nilai angka. Sungguh ironis melihat fenomena ini, ketika prestasi hanya diukur dari angka-angka di atas kertas, siswa cenderung menghalalkan segala cara untuk meraihnya.

Kejujuran akademik menjadi barang mewah.

Praktik menyontek, ketergantungan pada kunci jawaban, hingga kecurangan sistemik menunjukkan bahwa kita lebih peduli pada hasil akhir daripada proses perjuangan dalam belajar. Seolah-olah, menjadi pintar itu wajib, tapi menjadi jujur itu opsional. Kita sedang mencetak generasi yang pintar secara kognitif, namun rapuh secara integritas.

Krisis Karakter dan Degradasi Etika

Pendidikan bukan hanya soal transfer pengetahuan, melainkan juga transfer nilai atau pembentukan karakter. Menurut pandangan saya, maraknya fenomena perundungan (bullying), hilangnya rasa hormat siswa terhadap guru, hingga kekerasan di lingkungan pendidikan menjadi bukti nyata bahwa ada mata rantai yang putus.

Sekolah kini sering kali hanya berfungsi sebagai pabrik ijazah, sementara penanaman budi pekerti seolah dianggap tugas sampingan yang terlupakan.

Komodifikasi dan Formalitas

Tak bisa dimungkiri, pendidikan kini kian terjebak dalam arus komodifikasi. Pendidikan tinggi dipandang sebagai investasi ekonomi semata, di mana ijazah dianggap sebagai tiket masuk dunia kerja, bukan simbol penguasaan ilmu.

Hal ini diperparah dengan beban administrasi guru yang begitu tinggi, sehingga waktu yang seharusnya digunakan untuk membimbing moral habis tergerus oleh pengisian borang dan laporan formalitas. Sungguh disayangkan, bukan?

Mengembalikan Marwah Pendidikan

Memperingati Hari Pendidikan Nasional seharusnya bukan sekadar merayakan gedung yang megah atau kurikulum yang baru. Ini adalah momentum bagi kita semua untuk berhenti sejenak dan berefleksi. Kita perlu mengembalikan sekolah sebagai “Taman Belajar” sebagaimana filosofi Ki Hadjar Dewantara tempat yang nyaman untuk tumbuh secara mental, moral, dan intelektual.

Pendidikan harus kembali ke khitahnya: menghargai proses, menjunjung tinggi kejujuran, dan meletakkan karakter di atas segalanya. Saya sangat berharap, kita tidak terus membiarkan nilai-nilai ini luntur demi mengejar formalitas, karena jika itu terjadi, kita tidak sedang membangun peradaban, melainkan meruntuhkannya perlahan dari dalam ruang kelas.

Exit mobile version