Subliyanto

Artikel: Rabu, 5 September 2019.

Oleh : Subliyanto, limadetik.com — Di Indonesia, 2019 dapat dikatakan sebagai momen pemberian amanah kepemimpinan, dari yang sudah berlangsung, hingga yang masih akan berlangsung. Mulai dari pimpinan Negara, pimpinan pusat Kota yang jangkauan skala geografis amanahnya luas, hingga pimpinan pelosok Desa yang skala jangkauan amanah geosgrafisnya lebih kecil, serta amanah pada bidang-bidang tertentu lainnya.

Memberikan amanah kepemimpinan bukanlah hal yang mudah, karena seorang pemimpin harus memiliki ilmu dan kemampuan yang mumpuni dalam memimpin. Sehingga dengannya seorang pemimpin dapat menggerakkan roda kepemimpinnya dengan baik.

Selain itu, akan lebih baik lagi jika seorang pemimpin yang akan kita berikan amanah kepemimpinan tidak hanya mengandalkan kecerdasan intelektual saja tapi juga moral dan spiritual, serta memiliki ketataan yang luar biasa kepada Tuhan-Nya dan bekerja keras lillahi ta’ala, bukan hanya untuk meraih popularitas semata. Karena pertanggung jawaban terberat bagi seorang pemimpin adalah ketika kelak di hadapan Allah, Tuhan alam semesta.

Diantara wasiat Rasulullah SAW. dalam hal kepemimpinan salah satunya adalah agar seorang pemimpin hafal al-Qur’an. Dalam salah satu haditsnya, beliau bersabda : “Yang lebih layak menjadi imam suatu kaum, adalah yang paling banyak hafalannya,” pesan beliau dalam memilih imam shalat berjamaah (HR Muslim).

Secara tekstual makna hadits di atas dalam bab imam shalat. Namun secara kontekstual dan fakta historis implementatif, teori Prophetic di atas juga dilakukan dalam memilih pemimpin di luar shalat. Dalam sebuah sejarah dikisahkan bahwa :

Abu Hurairah RA. menutur­kan, suatu ketika Rasulullah bermaksud mengutus satu delegasi dalam jumlah banyak. Untuk menentukan pemimpin rombongan, Nabi mengetes hafalan para kandidat. Satu per satu mereka diminta setor­an hafalan (muraja’ah). Salah satunya adalah seorang sa­habat termuda. “Surat apa yang kau ha­fal?” tanya Rasul pada seorang pemuda. “Aku hafal surat ini, surat ini… dan surat al-Baqarah,” jawabnya dengan takzim. “Benar kamu hafal al-Baqarah?” Nabi menegaskan. “Benar,” jawab kandidat mantap sambil menyetor ha­falan. “Baik, kalau begitu kamu­lah pemimpin delegasi, be­rangkatlah” titah Rasulullah saw kemudian (HR at-Tir­midzi dan An-Nasa’i).

Sayangnya teori Prophetic tersebut dalam dunia politik saat ini berat untuk diterapkan, kalaupun ada hanyalah pada sebagian kalangan yang betul-betul memahaminya makna hakikatnya.

Teori tersebut seakan terkalahkan dengan teori-teori barat yang sudah kadung menjadi kiblat dalam dunia demokrasi. Padahal teori Prophetic tersebut tidak hanya bermakna tersurat saja, akan tetapi terdapat makna tersirat yang bersifat tauhidi di dalamnya. Tidak hanya bermakna fisik semata, akan tetapi mengandung makna metafisik juga. Yaitu keterlibatan peran Tuhan dalam setiap aspek hidup dan kehidupan manusia.

Lagi-lagi faktor kesalahan worldview manusia dalam memandang persoalan hidup dan kehidupan, sehingga konsep-konsep yang bersifat materialistik semata yang menjadi acuan dan didominasikan. Hal itu tidak hanya terjadi pada personalitas semata akan tetapi sudah merambat dan menyusup pada role kehidupan yang bersifat formalitas dan tersusun secara sistemis.

Sehingga tidak heran jika dalam pandangan mata, kadang konsep formalitas dapat mengalahkan konsep essensialitas. Namun semua itu hanya dalam pandangan manusia semata. Maka dalam menyikapinya, kembali pada masing-masing idealisme seseorang, karena setiap manusia adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggung jawaban atas dirinya.

“Setiap orang adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannnya. Seorang kepala negara adalah pemimpin atas rakyatnya dan akan dimintai pertanggungjawaban perihal rakyat yang dipimpinnya. Seorang suami adalah pemimpin atas anggota keluarganya dan akan ditanya perihal keluarga yang dipimpinnya. Seorang isteri adalah pemimpin atas rumah tangga dan anak-anaknya dan akan ditanya perihal tanggungjawabnya. Seorang pembantu rumah tangga adalah bertugas memelihara barang milik majikannya dan akan ditanya atas pertanggung jawabannya. Dan kamu sekalian pemimpin dan akan ditanya atas pertanggungjawabannya (HR. Muslim).

Sangatlah berat menjadi manusia yang punya idealisme tinggi, karena menata pandangan jiwa tidak semudah menata pandangan mata, dimana hampir setiap detik kita dihadapkan dengan kilauan kaca dunia yang mempesona, yang bila kita lalai akan lupa cahaya yang Maha Kuasa yang menciptakannya.

Semoga catatan ini bermanfaat, khusunya bagi penulis dan semua pembaca. Setidaknya dapat merubah worldview kita menjadi lebih baik walaupun secara pelan namun pasti. Karena hidup tidaklah instan, dalam menjalaninya membutuhkan proses yang panjang dan penuh dengan tantangan dan rintangan. Wallahu a’lam [*]

Penulis adalah pemerhati sosial dan pendidikan asal Kadur Pamekasan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here