Ahad, 1 Desember 2019

LIMADETIK.com, Oleh: Damanhuri.

ARTIKEL, — Sungguh berbuat baik dan berakhlak baik kepada kedua orang tua merupakan hal yang sangat penting karena berhubungan langsung dengan setiap insan, laki-laki atau perempuan. Hadits Nabi saw menunjukkan bahwa berbuat baik kepada orang tua memiliki pengaruh yang besar terhadap akhlak baik dari anak-anak kita. Oleh karena itu, jika kita menghendaki anak kita berbuat baik pada kita maka bersegeralah kita berbuat baik kepada kedua orang tua kita, sama saja kita sudah menikah atau masih bujang.

Rasulullah saw dalam riwayat dari Abu Hurairah ra, dia berkata: Rasulullah saw bersabda:

عِفُّوا عَنْ نِسَاءِ النَّاسِ،تَعِفَّ نِسَاؤُكُمْ،وَبَرُّوا آبَاءَكُمْ،تَبَرَّكُمْ أَبْنَاؤُكُمْ

Jagalah kehormatan diri istri-istri orang lain maka istri kalian menjadi terjaga kehormatan dirinya, dan berbuat baiklah kepada orang tua kalian maka anak-anak kalian akan berbuat baik kepada kalian….! ). Seperti itu juga riwayat dari Abdullah ibn Umar ra. (Musytadrok Hakim:7258-7259).

Dengan demikian, kita mengetahui sebab ketidaktaatan anak kita, walaupun mereka di masa kecil sudah dibawah ketatnya pengawasan kita dan pemeliharaan serta pendidikan yang baik. Sehingga, metode yang tepat untuk membentuk anak agar berperilaku baik dan berjalan pada jalan yang benar adalah memperbaiki perilaku dan jalan kita, dengan merubah akhlak kita dalam berinteraksi dengan orangtua kita. Misalnya, dengan memuliakan dan mentaati mereka dan tidak menyakiti mereka dalam bentuk apapun, ucapan atau perbuatan.

Disadari atau tidak disadari, keadaan orang tua akan terjadi pada putra-putrinya. Hal ini merupakan ketentuan Allah swt (sunnatullah) sebagaimana Rasululloh saw memberitahukan pada kita.

عَنْ أَبِي قِلَابَةَ،قَالَ:قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم:” الْبِرُّ لَا يَبْلَى،وَالْإِثْمُ لَا يُنْسَى،وَالدَّيَّانُ لَا يَمُوتُ،فَكُنْ كَمَا شِئْتَ كَمَا تَدِينُ تُدَانُ

“Dari Abu Qilabah berkata: Rasulullah saw bersabda, kebaikan itu tidak akan rusak (usang) dan kejahatan tidak akan terlupa dan orang punya hutang tidak akan meninggal. Jadi, berbuatlah dirimu seperti yang kau inginkan karena seperti itu kamu berbuat seperti itu pula kamu dibalas. (Shohih Mursal, Jami’ Ibnu Rasyid: 874)

وعَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مُرَّةَ، قَالَ: قَالَ أَبُو الدَّرْدَاءِ: ” اعْبُدُوا اللهَ كَأَنَّكُمْ تَرَوْنَهُ، وَعَدُّوا أَنْفُسَكُمْ فِي الْمَوْتَى، وَاعْلَمُوا أَنَّ قَلِيلًا يَكْفِيَكُمْ خَيْرٌ مِنْ كَثِيرٍ يُلْهِيكُمْ، وَاعْلَمُوا أَنَّ الْبِرَّ لَا يَبْلَى، وَأَنَّ الْإِثْمَ لَا يُنْسَى

Abdullah bin Murrah berkata: Abu Darda berkata: “beribadahlah kepada Allah seolah-olah kalian melihat Allah dan persiapkan diri kalian untuk kematian kalian dan ketahuilah bahwa bekal sedikit yang menyelamatkan lebih baik dari pada bekal yang banyak tapi mencelakakan dan ketahuilah bahwa kebaikan tidak akan usang dan sungguh kejahatan tidak dilupakan. (Hasan, Syu’bul Iman: 10182).

Ahmad bin Hambal ( Az-Zuhdu:773) menerangkan Riwayat Hasan yang sama dari Abu Qilabah, Abu Darda berkata: kebaikan tidak akan usang (rusak) dan kejahatan (dosa) tidak akan terlupa dan orang punya hutang tidak akan bisa tidur, jadilah dirimu sesukamu seperti itu kamu berbuat seperti itu pula kamu dibalas.

Firman Allah dalam Al Quran surah Al-Syura ayat 40 menjelaskan.

وَجَزَاء سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ

Artinya : “Bagi orang yang berbuat buruk kepada orang lain, maka balasannya adalah perlakuan buruk yang setimpal. Akan tetapi bagi orang yang memaafkannya dan berlaku baik kepadanya, maka Allah menjamin pahalanya. Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat aniaya (mengulangi perbuatannya).

Jika manusia merenungi sekelilingnya, maka dia akan menemukan bukti pembenaran pernyataan ini, dan dia akan melihat dengan jelas dengan pandangan mata ini bahwa seorang Ayah yang mendurhakai orang tuanya akan melahirkan anak yang tidak taat dan durhaka.

Semakin jelas bahwa buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Berdasarkan hal ini, maka dapat dikatakan, yang harus dilakukan adalah meluruskan dan memperbaiki perilaku Ayah terhadap orang tuanya sehingga perilaku putra-putri mereka menjadi benar dan baik terhadap orang tuanya. Para Ulama sudah menyusun dan menjelaskan tentang Birrul Walidayn baik yang dikarang dalam satu kitab dan penelitian yang lengkap dan komprehensif ( Untuk mengambil bukunya disini ), atau satu bab dalam sebuah kitab.

Bagaimana konteks kita sebagai seorang santri? Siswa atau pun Mahasiswa? Kiyai, Ustadz atau pun Pengasuh? Guru atau Dosen? Atau rakyat di negara kita. Semoga menjadi renungan untuk bersama. Wallohu A’lamu. (*)

Penulis adalah pendidik di Panceng Gresik, Jawa Timur

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here