Hamidi. Wakil Ketua MPR Madura Raya

Sumenep, 19 Februari 2020

Limadetik.comOleh: Himidi

Artikel — Beberapa bagian wilayah Indonesia akan kembali menggelar pilkada serentak. termasuk di Pulau Garam, Madura. Kabupaten Sumenep khususnya. Pesta rakyat lima tahunan itu akan digelar 23 September 2020 mendatang. Konon kabarnya, biaya pesta rakyat di Sumenep ini menelan biaya yang tak sedikit. Kurang-lebih angkanya menyentuh 60 miliar rupiah. Dilihat dari angka biaya sebegitu besarnya, tentu ini bukan sekedar pesta biasa. bukan hanya sekedar serimonial belaka. Semoga.

KPU memang belum mengumumkan secara resmi siapa saja pasangan calon pemimpin yang ikut dalam perebutan tahta tertinggi di Kabupaten Sumenep. Namun, dari gelegat beberapa tokoh dan kabar siapa yang sudah mendaftarkan diri sebagai Cabup maupun Cawabup, tentu rakyat Sumenep sudah tau. Siapa saja bergandeng dengan siapa calon pemimpin Sumenep lima tahun kedepan. setidaknya begitu.

Dari beberapa tokoh yang berseliweran di media massa, cawabup ini datang dari berbagai kalangan. dari aktivis, kader partai, ulama hingga kaum millenial. Mereka kolaborasi dengan pasangannya masing-masing. Akan tetapi, siapa menggandeng siapa, siapa berpasangan dengan siapa itu tidak begitu penting. Mari kita bicara yang paling inti saja. ini jauh lebih penting. kita bukan mau bicara soal siapa yang menjadi cabub dan cawabub, tapi bicara soal pekerjaan rumah yang harus mereka selesaikan nantinya.

Mari sama-sama kita lihat komitmen dan program apa saja yang mereka (cabup-cawabup) tawarkan untuk memajukan Kabupaten Sumenep. Di mana, masih banyak hal yang harus mereka perbaiki sebagai pemimpin lima tahun kedepan. Bahkan perbaikan itu nyaris di semua sendi-sendi dan sektor penting untuk kemajuan Kabupaten Sumenep itu sendiri.

Setidaknya ada empat agenda besar yang harus diperbaiki oleh pasangan cabup dan cawabup yang nantinya memimpin Sumenep di masa mendatang.

Pendidikan, bicara soal pendidikan di Kabupaten Sumenep, tentu masih ada banyak persoalan. dari hal gedung sekolah dan ketersediaan ataupun kesejahteraan guru. berdasarkan data pada tahun 2018 saja, total ada 50 sekolah dasar yang tidak layak infrastruktur dan minim tenaga kerja (sumber pojokpitu.com). semoga saja ditahun 2019 lalu, angka itu berkurang. Tidak justru bertambah.

Demikian dengan angka putus sekolah, juga masih tinggi. Ini terjadi terutama di kepulauan. Berdasarkan catatan yang ada di Cabang Dinas Pendidikan (DISDIK) Provinsi Jatim Wilayah Sumenep, pada tahun 2019 lalu angkanya mencapai 19 persen (sumber tribunnews.com). Hal itu menyebabkan Sumenep menempati urutan ke dua se Jawa Timur dalam hal angka putus sekolah. Tentu ini miris sekali. Ada banyak hal yang menyebabkan angka putus sekolah di Sumenep tinggi. faktor utamya adalah ekonomi dan lingkungan.

Tugas pemimpin Sumenep ke dapan, sudah tentu harus memperbaiki infrastruktur sekolah, menambah tenaga pendidik serta memperhatikan kesejahterannya dan memutus angka putus sekolah.

Pertanian, tak dapat dipungkiri, sebagian besar masyarakat Sumenep adalah petani, hanya sebagian kecil yang berprofesi sebagai nelayan. meski demikian, mereka perlu benar-benar diperhatikan keberadaannya. Soal pertanian, hal paling mendasar yang selalu timbul persoalan adalah sebelum panen dan setelah panen. sebelum panen, para petani dihadapkan pada sulitnya dan mahalnya harga pupuk. Tak kalah pelik persoalan selepas panen. harga-harga hasil perkebunan/pertanian mereka anjlok. Bahkan tak sebanding dengan harga pupuk dan pengerjaannya. itu hanya dibidang pangan dan tembakau.

Beda lagi persoalan yang dihadapi petani garam. Tak kalah menyedihkan, sudah beberapa tahun belakangan, harga garam terus terjun bebas alias nyungsep. Padahal, Madura dikenal dengan sebutan Pulau Garam. Nyatanya, nasib petani garam Madura sangat memprihatinkan. Panen garamnya selalu diserbu oleh garam-garam impor. padahal, secara kualitas, garam madura sangat baik. tak percaya? coba saja tanya sama mantan Mentri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti.

Demikian pula nasib nelayan. Bukankah Sumenep terdiri dari banyak pulau? potensi perikanannya sangat tinggi. Melimpah ruah. Tapi faktanya, kesejahteraan nalayan tetap begitu-begitu saja. tak ada peningkatan apa-apa. pemerintah Sumenep harus perhatikan potensi besar ini.

Pelayanan Kesehatan, tak kalah pentingnya dengan persoalan yang lain, soal pelayanan kesehatan di Sumenep perlu dilakukan perbaikan. pelayanan kesehatan masih sangat buruk. Entah ini disebabkan minimnya tenaga medis atau birokrasi yang kadang berbelit-belit. Peran Puskesmas masih belum secara maksimal melayani masyarakat. Pembangunan polindes yang belum merata di setiap desa.

Sumenep itu terdiri dari pulau-pulau dan daratan. Terkadang, orang yang tinggal di kepulauan dan pelosok desa susah sekali mendapat sentuhan dokter/tenaga medis disaat mereka sangat membutuhkan. Sepertinya, pemkab Sumenep perlu membangun polindes disetiap desa. Hal ini karena jauhnya masyarakat yang tinggal di kepulauan dan pelosok desa untuk menjangkau Puskesmas. Disamping infrastruktur jalan yang rusak parah.

Infrastruktur, ini persoalan terakhir yang harus diselesaikan bupati Sumenep di masa mendatang. Sektor ini sangat begitu penting. Entah apa yang dikerjakan bupati saat ini. Masih saja banyak jalan-jalan utama di Sumenep yang amburadul. Tak usah jauh-jauh bicara soal infrastruktur jalan di kepulauan. Akan lebih miris tentunya. Bukankah pemerintah pusat saat ini getol dengan pembangunan infrastruktur? Tapi mengapa Sumenep tertinggal dari kabupaten tetangga soal perbaikan jalan. Lihat saja jalan-jalan utama hingga pelosok desa di Pamekasan, semua nyaris sempurna.

Dari empat pekerjaan rumah Bupati Sumenep di atas, tentu tak harus diselesaikan keempatnya sekaligus. Butuh tahapan-tahapan tentunya. Namun intinya, harus ada perubahan yang signifikan dalam kepemimpinannya selama lima tahun kedepan.

Sebagai rakyat Sumenep, marilah jadi pemilih yang cerdas. Pilih pemimpin yang programnya jelas, meyentuh persoalan-persoalan diatas. Memberi solusi bukan sekedar janji. Jika nanti sudah jelas diresmikan KPU, siapa saja yang mencalonkan diri sebagai pasangan calon bupati dan wakil bupati, kita catat bareng-bareng program beserta janji-janji kampanyenya. Siapapun yang mendapat amanah memimpin Sumenep lima tahun kedepan tak bekerja sesuai program dan janji kampanyenya, kita turunkan! Salam

Penulis adalah Wakil Ketua MPR Madura Raya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here