Yant Kaiy

Surat Terbuka Yant Kaiy

LIMADETIK.com – Empat hari lagi Hari Ibu akan tiba. Yaitu pada hari Ahad, 22 Desember 2019. Sedangkan haul ibu kandung saya, Asmawiya Binti Hasyim sudah berlalu. Kami mengundang beberapa tetangga dalam haul Ibu itu untuk dibacakan Surah Yasin, tahlil dan doa arwah. Tujuannya agar beliau selamat dari siksa kubur.

Saat menulis kisah ini, air mata berdosa mengalir bak anak sungai di pipi. Saya tak kuasa membendungnya. Ada gunung sesal tak tergambarkan. Ada samudera rindu terhampar luas. Ada mendung sedih berarak menghias langit hati. Itu sekeping untaian dari nuansa kalbu kepada Ibu yang telah pergi untuk selamanya.

Ibu tercinta meninggalkan kami pada 11 Desember 2015 atau bertepatan dengan 29 Muharram 1437 Hijriah. Ketika itu anak sulung saya baru duduk di bangku TK.

Sudah lebih 4 tahun memori bersamanya telah terkubur. Sengaja saya pendam karena batin ini rasanya mau meledak bila mengenangnya. Dada sesak tak keruan. Ini siksa jiwa yang tak boleh selamanya meraja dalam jiwa. Saya harus bisa bangkit dari keterpurukan. Saya tidak ingin berkubang di lembah derita berkepanjangan. Yang lain bisa, kenapa saya tidak.

Asmawiya Binti Hasyim adalah nama ibu saya. Ibu tiga bersaudara, tapi adik Ibu wafat dalam usia batita (bayi tiga tahun). Ibu dilahirkan dari keluarga miskin. Kakek meninggal dunia ketika Ibu masih kecil. Sedangkan nenek penjual kembang kuburan dan kembang acara selamatan. Ibu menikah dengan Masduki Bin Jamat dan dikaruniai 4 anak: Mohammad Imran, Ainur Rachman, Mohammad Sadik, dan Rumiyah. Yang hidup hanya satu, yaitu Ainur Rachman, yang lainnya meninggal ketika masih kecil.

Tatkala rumah tangga Ibu tenteram. Cobaan datang pada Ibu. Suami Ibu wafat karena penyakit TBC yang dideritanya. Masduki Bin Jamat pekerjaannya sebagai tukang cukur. Ditinggal suami, Ibu pantang menyerah membesarkan anak semata wayangnya (masih berusia 2,5 tahun) dengan berjualan ketupat yang dibungkus daun nyiur kelapa.

Ibu Asmawiya Binti Hasyim

Sudah cukup lama menjanda, Ibu lalu menikah dengan duda beranak dua, Mohammad Salehodin Bin Pangkat. Dari perkawinan ini melahirkan 4 anak: S. Yohana, Ahadiyah, Syamsiah, dan saya. Kedua kakak saya meninggal dunia. Tinggal kakak sulung S. Yohana dan saya. Ibu membesarkan kami penuh limpahan kasih-sayang. Tidak ada duanya kami bandingkan dengan keluarga lainnya. Kami tak pernah mendapatkan dampratan amarahan Ibu berlebihan. Apalagi memperoleh cubitan dan pukulan.

Kata-kata Ibu tak pernah bernada kasar. Kalaupun beliau marah karena kami memang terlalu nakal, telah berbuat salah dan menurutnya tidak baik bagi diri kami dan orang lain. Maka beliau marah hanya “mendehem” dengan mulut terkatup dan udara keluar dari hidung.

Menurut kakek majadhi’ (saudara kakek dari garis Ibu), Ibu mewarisi sikap Syekh Ali Akbar Syamsul Arifin yang penyabar dan selalu tersenyum kendati orang membencinya. Siapa Syekh Ali Akbar? Beliau adalah tokoh ulama penyebar agama Islam di Desa Pasongsongan Kabupaten Sumenep. Beliau adalah paman Raja Sumenep ke-29, yakni Raja Bindara Saod. Syekh Ali Akbar wafat pada 14 Jumadil Akhir 1000 H dan dikebumikan di Dusun Pakotan Pasongsongan Sumenep.

Walau kadang ada tetangga yang sempat memberi saran sama Ibu untuk menghukum kami bila berbuat salah, tapi Ibu tak menggubrisnya. Ibu menanggapinya dengan senyum. Tak menebar ancaman apa pun pada kami. Ibu bukan tipe orang pendendam kepada siapa pun, apalagi terhadap kami. Beliau senantiasa memaafkan orang lain meski orang yang jahat sama Ibu tidak meminta maaf. Pikirannya husnudzon. Ibu senantiasa menelikung pikiran jelek orang tanpa kompromi bila seseorang curhat sama Ibu tentang orang lain.

Yang paling berkesan dari tabiatnya adalah, Ibu senantiasa mendoakan orang lain dalam kondisi apa pun. Tidak ada waktu baginya untuk suudzon, apalagi membenci orang lain. Kisah ini bukanlah rekayasa pribadi saya. Atau hanya cerita pemanis bibir belaka. Kalaupun Anda tak percaya, saksi hidup tetangga di Dusun Padaringan Timur Desa Paberasan Kecamatan Kota Sumenep masih ada hingga kini. Anda bisa menanyakan kebenaran kisah saya pada mereka tentang kepribadian Ibu.

Ibu meninggalkan kami dalam usia lanjut. Derita penyakit yang menjadi maut baginya adalah hipertensi. Ia terbaring di tempat tidur. Ibu terkenak stroke selama 5 bulan lebih. Beliau membutuhkan kami untuk berbuat apa pun. Mulai dari makan sampai buang air besar; mulai dari ganti pembalut sampai ganti baju; mulai mau tidur hingga bangun.

Sesungguhnya saya enggan menulis kisah Ibu kepada Anda. Hati nurani seringkali berontak. Tapi kenapa kalau menulis biodata orang lain bisa di media online, pekik sanubari membuncah. Sedangkan Ibu paling berjasa terhadap hidup saya. Ini tidak adil. Sejatinya kisah hidup Ibu bisa dibaca oleh orang lain.

Saya bukanlah anak yang terbaik dibanding lainnya karena saya sering berkata kasar kepadanya. Itu berulangkali saya sikapkan pada Ibu karena cara berniaga beliau tidak sesuai dengan jalan pikiran saya. Selalu bertolak berlakang. Akhirnya beliau acapkali terjungkal dan bangkrut.

Kalau sudah gagal, Ibu baru mau mengakui kesalahannya pada saya. Tapi nasi sudahjadi bubur. Sesudah memberi saran, beliau saya bantu dengan suntikan dana segar. Tapi memang sudah karakter, Ibu tak sanggup menjalankan bisnis peninggalan Ayah. Kembali kegagalan menjadi akhir sebuah pertarungan bisnisnya. Dan kami pun menjadi kurang bergairah untuk berbicara perniagaan lagi. Seolah ada efek jera diantara kami.

Akhir dari segala bisnis Ibu ketika saya sudah berumah tangga. Ia berkebun di halaman rumah. Beliau menanam apa saja yang tumbuh. Mulai dari sayuran, buah-buahan, rempah untuk bumbu dapur, termasuk tanaman obat keluarga (toga). Jadi Ibu tidak kesulitan ketika butuh apa pun. Bahkan para tetangga banyak senang dibuatnya karena Ibu selalu memberikan hasil berkebunnya. Tetangga kecipratan juga, saat butuh sayuran mereka diberi gratis oleh Ibu.

Berikut tanaman Ibu di tanah seluas 40X20 meter. Sayuran yang Ibu tanam adalah: Terong, sawi, tomat, bayam, kemangi, kecipir, kangkung, kelor, langkir, singkong, cabe, lawu, kacang panjang, timun, dan lain-lain. Sedangkan pohon berbuah, ada pisang, mangga, duwet, sentol, nangka, rambutan, jeruk nipis, jambu, belimbing, sirkaya, sirsak, sannek, kesambi, semangka, melon, timun mas. Dan pohon tak berbuah ada jati, bambu, pandan.

Saya memang sering mewanti-wanti Kakak untuk membebaskan Ibu dari kerja menggarap lahan sempit itu. Barangkali dengan bercocok tanam akan menjadi hiburan baginya. Paling tidak bisa menjadi pelipur lara.  Senantiasa kami mengenangnya, sampai nyawa berpisah raga.

Pasongsongan, 18 Desember 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here