Limadetik.comOleh: Sulaisi Abdurrazaq

Agama paling dicintai Allah SWT adalah al-hanafiyyah al-samhah (yang mudah menerima kebenaran dan toleran pada sesama)”

.(H.R. al-Bukhari).

HARI-hari terakhir adalah masa yang menguras cadangan perhatian kita pada Kota Cinema Mall di Pamekasan, Front Pembela Islam (FPI) dan Laskar Pembela Islam (LPI) berada di baris terdepan dalam aksi penolakan bioskop, mereka aksi di depan kantor DPRD Jl. Kabupaten 107 Pamekasan pada hari Jumat (14/2/2020).

Dua ormas itu memerlukan kebijaksanaan yang bersumber dari ulama panutan dalam melakukan gerakan, agar tak mudah lahir kata-kata sarkastik yang menabrak asas-asas kepantasan, yang berpotensi menyebabkan dekadensi “tatakrama berpolitik”. Kata-kata sarkastik dimaksud telah terurai dalam refleksi bertajuk “Menuju Gerbang Salam Yang Anggun” (14/2/2020)

Meski, kita tahu, se-sarkastik apapun, bila ada bunga melati yang harum semerbak namun FPI menilai bunga itu seperti bunga bangkai maka bunga melati tak mungkin berhenti menebarkan aromanya.

Apalah arti Gerbang Salam, bila ternyata sekadar slogan belaka, FPI dan LPI tidak mewakili wajah umat Islam di Pamekasan, karena umat Islam sangat banyak, plural dan tidak bisa dimonopoli oleh FPI dan LPI.

Generasi muda Islam Pamekasan harus bersedia melampaui batas-batas pemikiran yang picik, ia harus mengkaji ulang, menumbuhkan kembali spirit untuk membaca dan berdiskusi mengenai hazanah keumatan dan kebangsaan, agar tidak mudah terpesona pada wajah Islam “garis miring”, generasi muda Islam harus terbuka, kuat dalam aqidah dan bijak dalam bersikap

Dalam suatu hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari menegaskan, bahwa “agama paling dicintai Allah SWT adalah al-hanafiyyah al-samhah (yang mudah menerima kebenaran dan toleran pada sesama)”.

Tantangan terberat keberagamaan di Pamekasan adalah bagaimana menghadirkan agama dengan wajah sejuk, anggun, harmonis, dinamis dan kontekstual, Cinema Mall bukanlah tantangan, tak bisa dipertentangkan dengan agama, hanya perlu keberanian untuk mencari titik temu, duduk bersama mengurai perspektifnya masing-masing antara pemerintah, ulama, pengusaha, FPI-LPI, dengan hati riang tanpa kebencian, karena jika tidak, akan tetap ada api dalam sekam di internal umat Islam di Pamekasan yang rawan berantakan akibat pro dan kontra, hanya soal Kota Cinema Mall

Pada tahun 2000, Dr. Amien Rais pernah bilang bahwa umat Islam berantakan karena dua faktor: Pertama, faktor internal, terutama kajumudan dan stagnasi pemikiran umat Islam yang cenderung saling cekcok di antara umat (karena beda perspektif). Kedua, faktor eksternal, yaitu Islam-phobia, ketakutan kelompok tertentu yang tidak mau mengakui bahwa perjuangan umat Islam untuk mengisi kemerdekaan sangat substansial

Perkataan Amien Rais itu bisa ditemukan dalam tulisannya bertajuk “Tidak Ada Negara Islam” dalam buku “Surat-Surat Politik Nurcholish Madjid – Mohammad Roem: Tidak Ada Negara Islam”, Djambatan, Jakarta, 2000.

Jika aku adalah bagian dari FPI atau LPI, aku akan bertobat dan tak lagi memprovokasi umat untuk “membakar Bupati atau Cinema Mall”, karena sikap itu menguatkan cermin keber-agamaan yang sangat bertentangan dengan nilai-nilai Gerakan Pembangunan Masyarakat yang Islami. [*].

Pamekasan, 15 Februari 2020.

Penulis adalah Ketua DPW APSI Jatim dan Dosen Fakuktas Syari’ah IAIN Madura.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here