Moh.Lutfi

Sumenep, 6 Februari 2020.

LIMADETIK.com – Oleh: Muh.Luthfi

ARTIKEL – Tahun 2016 yang lalu pemerintah mencetuskan gerakan literasi nasional yang berpangkal dari Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti. Dalam Permendikbud tersebut dijelaskan salah satu bentuk kegiatan literasi yang harus dilakukan sebelum pelajaran dimulai adalah membaca buku selain buku pelajaran.

Diluncurkannya gerakan literasi nasional tersebut memunculkan dua penafsiran. Pertama, diluncurkannya gerakan literasi nasional sebagai bentuk perhatian besar dari pemerintah terhadap masyarakat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pemerintah menginginkan seluruh masyarakat khususnya generasi muda saat ini yang disebut dengan generasi milenial memiliki minat baca yang tinggi. Kedua, peluncuran gerakan tersebut mengindikasikan keprihatinan pemerintah terhadap rendahnya minat baca masyarakat. Oleh sebab itu, pemerintah menggenjot minat baca masyarakatnya dengan gerakan literasi.

Jika dilihat dari hasil survey PISA, aktivitas membaca di Negara Indonesia tidaklah memuaskan. Indonesia berada pada urutan keenam dari bawah dari 79 negara yang disurvey. Ditambah lagi laporan hasil penelitian yang dilakukan oleh Lukman Solihin dan kawan-kawannya (2019) tentang Indeks Aktivitas Membaca 34 Provinsi di Indonesia memang menunjukkan keprihatinan. Bayangkan saja, dari 34 provinsi tidak ada satu pun provinsi yang berpredikat tinggi minat bacanya. Berdasarkan hasil tersebut pula, penafsiran kedua seolah menjadi landasan utama dicetuskannya gerakan literasi.

Peningkatan minat baca hingga menjadi budaya baca di masyarakat terlebih lagi kepada generasi milenial sebagai generasi penerus bangsa harus dilakukan bersama-sama antara keluarga, masyarakat dan pemerintah. Memasyarakatkan budaya baca dapat dilakukan dengan menghadirkan buku-buku bacaan di tengah-tengah masyarakat. Jika di sekolah sudah terbiasa dengan yang namanya perpustakaan, pojok baca, taman literasi atau yang lainnya, di lingkungan masyarakat dapat dilakukan seperti itu pula. Misalnya, pendidirian sudut baca desa atau taman bacaan dengan melibatkan generasi milenial baik masih sekolah, kuliah, maupun yang sudah bekerja.

Upaya selanjutnya adalah memanfaatkan tempat tongkrongan anak-anak muda dan tempat ibada, semisal taman kota dan warung kopi. Hadirnya bahan bacaan di kedua tempat tersebut dapat memberikan kesempatan kepada mereka untuk membaca. Bahan bacaan tersebut akan menemani mereka di saat meminum kopi dan berdiskusi. Bahan bacaan yang disediakan dapat berupan bahan apa saja yang sekiranya menarik untuk dibaca pengunjung. Di warung kopi juga dapat dihadirkan pemateri-pemateri yang menarik untuk berdiskusi atau bertukar pikiran. Sementara itu di tempat ibadah, buku-buku dapat dibaca oleh orang-orang yang telah melaksanakan ibadah. Di tempat ibadah pula dapat dilaksanakan kajian-kajian keagamaan.

Berikutnya, seiring perkembangan teknologi dan informasi, bahan bacaan dapat hadir dalam bentuk digital. Kehadiran bahan bacaan dalam bentuk digital akan memudahkan para pembaca dalam mengakses bahan bacaan melalui gawai yang dimiliki. Akses bahan bacaan tidak boleh kalah dengan aplikasi lain semisal game online. Pemerintah pusat dan daerah melalui perpustakaan daerah dapat menyediakan akses buku-buku digital secara gratis melalui website dan aplikasi. Kemudian, akses bacaan digital tersebut tidak boleh dibiarkan begitu saja berjalan, tetapi perlu sosialisasi kepada masyarakat secara umum, terlebih kepada generasi milenial.

Keinginan dan harapan tentang mencerdaskan kehidupan bangsa melalui budaya baca seperti yang telah dipaparkan di atas tentulah banyak tantangan. Oleh karena itu kekompakan antara keluarga, masyarakat, dan pemerintah menjadi penentu keberhasilan dalam usaha menjadikan generasi milenial yang memiliki minat baca tinggi. Perlu usaha ekstra melalui sosialisasi-sosialisasi, seminar dan bentuk kegiatan menarik lainnya yang dapat memicu keinginan membaca.

Terakhir sebagai penutup, buku adalah jendela dunia. Seseorang dapat mengetahui luasnya bumi, dalamnya lautan, tingginya langit, kecepatan pesawat dan sebagainya melalui sebuah buku. Tetapi sebaliknya, seseorang tidak akan mengetahui apa-apa tanpa mengintip atau membuka jendela yang bernama buku. Jika kesuksesan di seberang sana, maka buku adalah jembatannya.

Penulis adalah Guru di SMU Plus Miftahul Ulum Tarate Pandian Sumenep

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here