Rabu, 4 Desember 2019
Limadetik.com - Oleh : Damanhuri

 

ARTIKEL — Dalam satu rekaman kaset, HAMKA, seorang tokoh bangsa dan ulama besar,  menjelaskan tentang seorang pemuda yang kerjaannya sepanjang hari duduk-duduk saja di masjid, karena dirundung susah dan duka mendalam. Lalu Rosulullah SWT ajarkan doa kepada pemuda tersebut untuk berlindung dari 8 perkara. Apa saja 8 perkara tersebut, berikut penjelasan singkatnya.

Pertama, susah dan kedua, duka cita. Apabila orang sudah susah, seolah semua jalan berbatu yang dijalani, pikiran buntu. Baginya tidak ada jalan datar. Padahal kenyataannya,  jalan itu tidak hanya jalan berbatu saja, ada datar,  ada jalan berkelok dan bergelombang, tanjakan dan turunan itulah jalan yang dialami manusia. Buat apa susah, karena kalau susah terus dituruti akhirnya duka cita menyelimuti diri sehingga jalan menjadi gelap, sudah tidak ada lagi jalan terang.

Ketiga, lemah. Orang yang lemah pikiran, belum dihadapi suatu masalah dia sudah merasa lemah, tidak ada kuasa terhadap masalahnya. Dan keempat, Malas. Orang kalau sudah malas, angan-angan banyak tapi ikhtiar tidak ada. Orang pemalas, jalannya lunglai, matanya muram dan tidak jauh dia memandang.

Lalu kelima, Bakhil. Maksudnya dikumpulkannya harta benda dengan maksud dia ingin menguasai harta itu, lama-lama dia yang dikuasai harta benda itu.

Keenam, sifat pengecut, tidak berani. Karena keberanian adalah modal, kalau hilang keberanian kegagalan yang didera. Keberanian menghadapi hidup adalah modal kesuksesan.

Kedelapan, Hutang. Seseorang kalau tidak ada keberanian jagalah sedapat-dapatnya supaya tidak berhutang. Karena susah pada malam hari dan malu pada siang hari. Namun,  jika dia punya keberanian, maka, keberanian itulah yang menjadikan dia mencari jalan untuk melunasi hutang.

Akhirnya, karena hutang yang banyak sementara tidak dilunasi, menjadikannya kemerdekaan diri dikuasai orang lain. Rosulullah SAW, mendidik kita umat Islam untuk berlindung kepada Allah SWT dari penguasaan orang lain terhadap diri kita.

Itulah yang kedelapan.

Dari sini, dapat ditegaskan bahwa kemerdekaan itu yang harus kita miliki. Kemerdekaan dari apa?  Kemerdekaan dari kesusahan, duka cita, lemah, malas,  bakhil, pengecut dan hutang. Akhirnya kalau sudah kemerdekaan diri kita raih dan kita miliki, jiwa -jiwa yang besar yang tumbuh dalam diri kita.

HAMKA memberikan pernyataan, “Apabila manusia memiliki jiwa yang besar, pekerjaan besar pun dipandangnya kecil. Apabila manusia memiliki jiwa yang kecil, pekerjaan kecil pun dia anggap besar”. Semoga kita, rakyat Indonesia, semuanya memiliki jiwa yang besar dan bangsa kita Indonesia menjadi bangsa yang besar. Wallahu A’lam. (*)

Penulis adalah pendidik di Panceng, Gresik, asal Pamekasan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here