Sulaisi Abdurrazaq, Ketua DPW APSI Jatim

Sumenep, 20 Maret 2020

Oleh: Sulaisi Abdurrazaq

(Ketua DPW APSI Jatim)

SELEPAS subuh, ketika fajar baru beranjak, pagi masih buta.

Gadis itu terbangun dari tidur, terusik suara isak, seperti tangis dari luar kamar, terdengar cukup sayup.

Gadis itu adalah Laila Puteri, masih 17 tahun, adiknya bernama Satria Gemintang baru lahir 1 tahun lalu dari pasangan suami isteri yang selalu riang meski harinya penuh kesibukan, dua sejoli itu adalah Joko Samudro dan Corona Cemerlang.

Laila melempar pandangannya pada langit-langit ruangan, lalu memalingkan perhatian pada dinding kamar dengan penasaran.

Kakinya mulai menginjit lantai perlahan-lahan, meraih gagang pintu dengan hati-hati dan membukanya.

Isak tangis itu terdengar makin terang, tapi ruang tamu masih gelap, Laila terpaksa keluar kamar, mencari sumber suara ke sudut ruangan, ternyata Corona, ibu Laila itu malah meraung tiba-tiba di pojok mushalla rumah itu.

Mata Corona bengkak, air matanya banjir tertahan mukenah putih yang ia pakai, kepalanya tertunduk menghadap kiblat, *Laila* terperangah dan berlari dengan cepat menghampiri ibunya.

“Bundaaa….!!!”

Panggil Laila berbisik dengan tegang. Corona menoleh dan menatap Laila, tampak bola matanya merah dengan air mata yang kian banjir, Corona mengangkat kedua tangannya, isyarat meminta pelukan. Laila menjangkau ibunya, saling memeluk dengan erat, Corona tak dapat membendung perasannya, kian meraung, Laila mengusap-ngusap punggung ibunya penuh tanda tanya, Laila tak berani mengobati rasa ingin tahunya secepat itu.

Beberapa saat kemudian,  Corona meminta Laila segera ambil wudhu lalu shalat subuh, Laila bergegas.

Ketika mentari pagi mulai memancar, Corona, seperti biasa, berjibaku di dalam dapur, dengan perasaan hampa dan terpukul tetap kokoh menjadi Ibu Rumah Tangga yang baik, memasak untuk sarapan pagi, cuci pakaian, menyapu dan ngepel lantai.

Sementara Laila, sehabis shalat subuh, mencoba tetap tenang, merapikan kamar tidur dan sesekali memperhatikan sesosok bayi kecil yang tetap lelap.

Laila bergeser dari kamarnya yang sempit itu, berusaha membantu Corona dengan rasa batin yang tak biasa.

Melihat Laila muncul sekonyong-konyong, Corona tak bergeming, masih pura-pura tegar, meski tak lama tangisnya meledak tanpa sebab.

Hati Corona benar-benar hancur berkeping-keping, Laila memeluknya kembali dengan erat, mengajaknya bicara.

“Bunda….., kita duduk yuk……”. Ajak Laila dengan lembut. Corona nurut saja dengan langkah agak terhuyung.

Dua perempuan itu berangkulan menuju ruang keluarga, lalu duduk berdempetan. Laila memegangi bahu kiri Corona dengan tangan kanannya.

Dengan sedikit berbisik, Laila berusaha memecah hening. “Bunda, Laila tidak ingin ke sekolah tanpa tahu apa yang ibu rasakan, masalah bunda adalah masalah Laila…..

Corona tetap sesenggukan, tanpa kata-kata. “Cerita dong ke Laila…..” Laila merayu Corona penuh harap. Tak lama kemudian, Corona mengangkat wajahnya dengan berat, memegang erat kedua tangan Laila, lalu, menarik nafas dalam-dalam dan melepasnya seketika.

“Haaahhhh……..” Corona berusaha mengatupkan bibirnya. “Sayang, sudah tiga bulan papamu tidak pulang, apakah Laila kangen papa?”

Corona memaksakan diri bicara dengan patah-patah, berusaha memenangkan diri sendiri. “Ia bunda” Jawab Laila dengan penasaran, belum percaya jika karena kerinduan hingga sesenggukan diatas sejadah sebegitu lamanya. “Apakah ada masalah dengan papa ya bunda” Ujar Laila melanjutkan.

“Bunda sedih, papamu selama ini tidak ada kabar, kita harus menjalani hidup dengan kebutuhan yang semakin mahal” Sergah Corona dengan lebih tenang.

“Lalu mengapa bunda menangis?, apakah karena papa” Tanya Laila menimpali. “Bunda menangis karena……..”

Suasana kembali hening………., Corona terhenti dan suaranya perlahan makin serak, tak ada kata-kata. Tangisnya meledak kembali, lalu ia terpaksa mengungkap kondisinya dengan tangis mengeras kepada Laila.

“Bunda………, bunda sudah bukan isteri papamu lagi sayaaanggg…..” Corona tiba-tiba tercengang dan mematung. “Bunda tak tahan, bunda memikirkan masa depanmu dan masa depan Satria, bunda belum siap menerima kenyataan ini.”

“Brugggggg”

Tiba-tiba Corona terjatuh dan tidak sadarkan diri, sementara Satria Gemintang terbangun dan menangis. Laila bingung dan memegangi ibunya dengan fokus yang terbelah.

Dengan pikiran yang kacau, Laila segera bangkit dan berlari menuju Satria, merangkulnya lalu berlari bisa keluar rumah, mencari tetangga.

“Toloooonnngggg……tolooooonnngggg…….”

Laila berteriak tanpa pikir panjang, ia panik. Tak lama tetangga berdatangan, mayoritas perempuan tergopoh-gopoh.

Seketika itu Corona dilarikan ke rumah sakit. Entah apa yang telah  dilakukan oleh Joko Samudro, sehingga keluarga kecil ini berantakan.

Laila tidak tahu ada Wanita Idaman Lain di balik semua itu, yang membuat hati bundanya hancur lebur, ia hanya melihat saat ini ibunya sedang terbaring di rumah sakit, masih tak  sadarkan diri.

Laila kian cemas, sembari memangku adiknya yang masih berusia satu tahun. Tak ada sanak saudara, sementara, keluarga dari Joko Samudro tak satupun peduli.

Hari terus berlalu cukup cepat, sudah lebih dari lima bulan, tubuh Corona membaik, namun, mentalnya berubah, Corona lebih sering bicara sendiri,  tertawa, kadang menangis di pojok kamar sempit yang bau tak terurus.

Laila tak menyangka, diusianya yang masih sangat kecil, harus menjadi tulang punggung keluarga untuk menghidupi Corona yang sudah tidak waras, sembari membesarkan bayi lelaki satu-satunya, Satria Gemintang.

Wajah Joko Samudro tak pernah muncul, meski Laila terpaksa putus sekolah setelah Corona tak lagi sempurna. Setiap hari Laila harus memulung sampah sambil merangkul Satria. Tak ada jalan lain, Corona harus ditinggal sendiri di sebuah kamar kecil dengan pintu terkunci, karena tak jarang ia ngamuk yang memecah kaca tetangga.

Tak dinyana, keluarga kecil yang nyaris tak pernah konflik itu harus berakhir gelap akibat Kepala Keluarga yang egois, memilih Wanita Idaman Lain sambil lari dari tanggung jawab.

Joko Samudro yang telah membuat Corona begini, dia pula yang membuat dua anak tak tahu pasti arah hidupnya.

Joko Samudro telah menggunakan jasa pengacara dan bersekongkol memanipulasi tanda tangan Corona dalam Surat Kuasa, sebuah siasat agar seolah-seolah Corona telah menggugat cerai Joko Samudro di Pengadilan Agama Kabupaten Pamekasan, semua itu untuk menghindari gugatan nafkah yang wajib dipenuhi Joko jika Corona sebagai isterinya menggugat balik _(rekonvensi)_ di lembaga peradilan itu.

Corona tak pernah bermimpi akan menerima Akta Cerai dari  pengacara yang tidak pernah ia kenal, yang mengaku sebagai pengacaranya dalam gugatan cerai sehingga akhirnya memutus hubungan perkawinan antara Joko Samudro dan Corona.

Profesi yang terhormat terasa menjadi profesi sampah, menghina kewibawaan lembaga peradilan, merendahkan profesi advokat, memproduksi dosa jariyah, membuat gila ibu-ibu yang menjanda, menyumbangkan beban ganda _(double burden)_ bagi perempuan dan membunuh masa depan anak-anak sedari kecil.

Itulah pengacara hantu, pengacara yang dapat saudara sewa untuk berkonspirasi menyusun konsep gugatan, mengatur siasat agar lelaki lepas dari kewajiban nafkah, bahkan ia, adalah teman yang baik bagi lelaki jahat untuk memanipulasi tanda tangan pada Surat Kuasa, agar seorang ibu bisa terhempas jauh dan terpelanting hingga gila seperti Corona. Hilangnya haknya sebagai perempuan.

Banyak sekali pengacara hantu semacam ini di Pamekasan, hakim mengeluh, petugas pengadilan putus asa, advokat yang baik-baik menjadi silent majority.

Halo bung, cerita di Pengadilan Agama Pamekasan ini fakta bung, menurut hakim-hakim, pelakunya itu ada pengacara perempuan ada, ada pula pengacara laki-laki yang masih muda-muda………!!!!!

             BAJINGAN…….!!!!

Sudah banyak ibu-ibu yang meraung-raung mencari keadilan di Pengadilan Agama Pamekasan, mereka korban pengacara hantu, tak pernah menggugat, tapi diputus telah menggugat suaminya, dan putusan telah inkracht.

Masih berlakukah Kode Etik Advokat Indonesia saat ini?_____________________

Sampai saat ini, tak ada satupun korban yang berani melaporkan tindak pidana ini ke polisi.

Jika ada satu lagi korban pengacara hantu, PUSMEDBAKUM APSI harus membuka Posko Pengaduan di beberapa daerah di Jawa Timur, demi membantu korban-korban yang terus bertambah.

Maafkan kami wahai kaum Corona …..

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here