Adi Prayitno, Direktur Lembaga Survey Parameter Politik

Sumenep, 12 Februari 2020.

Limadetik.comOleh : Adi Prayitno

Beberapa hari lalu, sempat mudik ke reng perreng, lengkong dejeh, guluk-guluk, Sumenep. Tak ada yang berubah. Jalanan banyak tak beraspal. Rusak. Petani susah jual hasil panen. Warga banyak yg merantau ngadu nasib. Persis sama seperti 20 thn silam. Perubahan hanya omong kosong. Palsu belaka. Berasa tak punya Bupati, Camat, dan Kepala Desa.

Tahun ini Sumenep mau pilkada. Ada sejumlah baliho/poster orang yang merasa pantas pimpin Sumenep. Apa mereka pernah ngobrol degan petani yang tiap musim susah bertani? Hasil panen mereka dipermaimkan tengkulak. Kesulitan air, susah beli pupuk, dan seterusnya.

Kemana aja mereka itu. Kog gayanya setengah mati lagak mau bela rakyat. Kata si pendemo, Naufal dan Hamidy, au ah gelap. Apa mereka peduli petani garam tiap musim jerit kesusahan. Apa mereka juga peduli tiap musim tembakau petani luntang lantung ke gudang? Situ kemana aja bung selama ini..!!

Pernahkah yang fotonya mejeng di pinggir jalan itu nanya Man Sirat, nyangkul seharian upahnya 25 ribu? Itupun sering dihutang bayarnya. Ataukah si Man Tabri yang buruh tani saban hari belum tentu dibayar. Sebatas jalani rutinitas agar terlihat bekerja.

Tiba-tiba banyak foto jadi penunggu pohon di jalanan Sumenep. Tagline nya gaya betul. Macam paling peduli saja. Betul kata ustadz yang ceramah lewat speaker di pagi hari. “Jangan pernah berharap sama manusia. Berharaplah hanya sama Alloh”..Ambyar sudah klo begini.

Pilkada mestinya lahirkan pemimpin yang bisa lakukan perubahan. Jalan yang semula tak beraspal harus diaspal. Petani yang kesulitan jual tembakau tak lagi terulang. Garam murah tak lagi terjadi. Daya beli ke pasar meningkat. Lah, ini 20 tahun sejak kenal pilkada, kampungku begini-gini aja. Macam kota mati.

Lalu apa gunanya ada pilkada? Lalu apa makna foto foto calon nangkring di pepohonan pinggir jalan? Tagline berhamburan. Khurbah perubahan tiap hari viral. Sementara perubahan yang diharap tak kunjung tiba. Yang ada justru mundur jauh ke belakang.

Datangilah mereka itu yang wajahnya selalu lusuh. Memikirkan nasib yang tak jelas arah rimbanya. Para petani yang saban hari hidup dalam rutinitas tak pasti. Ya, sembari menumggu keajaiban tuhan tentang nasib mereka yang tak pernah berubah. (*)

Penulis adalah Warga asli Bragung, Guluk-Guluk Sumenep

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here