Oleh : Subliyanto, limadetik.com — Sebentar lagi berdasarkan kalender Masehi, tepatnya pada tanggal 1 September 2019, bertepatan dengan tahun baru Islam 1441 Hijriyah. Tentu momentum ini merupakan peluang bagi kita sebagai ummat Islam untuk kembali merefleksikan diri kita dengan merenungkan hakikat dari makna hijrah, sehingga dapat menjadikan kita lebih baik.

Definisi hijrah secara etimologi bermakna berpindah. Sedangkan secara terminologinya multi interpretasi dari pakar mendefinisikannya. Namun dari varian definisi hijrah secara terminologi tersebut semuanya dapat diambil kesimpulan dengan makna hijrah secara lahir dan hijrah secara batin.

Hijrah secara lahir bertumpu pada komponen fisik yang tampak dalam pandangan mata, sperti tubuh, tempat, dan yang lainnya. Sedangkan hijrah secara batin bertumpu pada frame work atau pola pikir yang kemudian diaktualisasikan dalam gerakan fisik manusia.

Dalam implementasinya hijrah lahir dan batin saling berkaitan dan bahkan nyaris tidak bisa dipisahkan, karena keduanya saling menguatkan. Namun demikian dari skala perioritas hijrah batin merupakan hal yang utama, yang kemudian akan mengantarkan manusia pada hijrah secara totalitas, baik lahir maupun batin.

Dalam sejarah, Rasulullah SAW mengajarkan hijrah pada kaum muslimin bermula dari konsep hijrah secara batinnya, yaitu dengan mengokohkan aqidah islamiyah di hatinya dengan metode dakwah yang disampaikan secara bertahap, mulai dari dakwah secara sembunyi-sembunyi hingga dakwah secara terang-terangan.

Sudah merupakan hal yang lazim sebuah perbedaan yang lahir di tengah-tengah mayoritas akan menjadi sebuah sorotan dan bahkan penentangan. Demikian juga dengan kondisi Rasulullah SAW dan kaum muslimin waktu itu di tengah-tengah kaum kafir Quraisy Makkah.

Maka dalam menghadapi kondisi tersebut, atas perintah Allah SWT, Rasulullah SAW mengajarkan kepada kaum muslimin konsep hijrah secara lahir, yaitu dengan hijrah ke Madinah. Dan itupun secara bertahap.

Sehingga mereka yang sudah hijrah secara batin (memeluk agama Islam) hijrah secara totalitas baik batin maupun lahir, kendatipun mereka menghadapi tantangan yang berat karena orang-orang Quraisy bereaksi dengan upaya mencegah kepergian kaum muslimin dengan memisahkan antara suami dan anak-anaknya.

Dalam buku “Muhammad Sang Yatim” diceritakan bahwa : “Demi bisa hijrah, seorang rela meninggalkan keluarganya, dan terus berdo’a dan berharap semoga Allah SWT, dapat menyatukannya kembali. Bahkan ada pula yang menebus dirinya dengan harta, dia tinggalkan begitu saja hartanya diambil oleh orang-orang Quraisy lalu pergi menuju Madinah”.

Dari sekilas kisah di atas dapat disimpulkan bahwa, betapa beratnya tantangan kita untuk menjadi orang yang baik demi mengharap keridhaan Allah SWT. Apalagi kita hidup pada zaman saat ini, sebuah zaman yang didominasi oleh arus hidonisme dan kawan-kawannya, yang secara tidak langsung dan jika tidak mempunyai landasan kokohnya iman, akan dengan sangat mudah merubah pola hidup dan kehidupan kita, terlebih dan terutama pola pikir kita.

Maka pada momentum tahun baru Hijriyah 1441 ini hendaknya tidak hanya kita jadikan sebagai ceremonial semata. Akan tetapi sebisa mungkin kita menyelami esensinya yaitu dengan hijrah yang sesungguhnya baik lahir maupun batin dengan harapan menjadikan kita menjadi lebih baik dalam segala aspek hidup dan kehidupan, baik di dunia terlebih di akhirat.

Semoga catatan singkat ini menjadi motivasi bagi diri kita untuk terus berusaha menjadi orang yang baik, yang bertakwa, dengan terus melaksakan perintah Allah SWT, dan menjauhi larangan-Nya, serta menghidupkan sunnah-sunnah Rasulullah SAW. Wallahu a’lam. [*]

Penulis adalah pemerhati sosial dan pendidikan asal Kadur Pamekasan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here