Limadetik.comOleh : Subliyanto.

ARTIKEL – Hari ini, 22 Desember 2019 merupakan hari diperingatinya sebagai Hari Ibu. Membahas Hari Ibu secara esensial adalah berbicara tentang sosok perempuan yang secara fitrahnya sebagai ibu dari para generasi penerus bangsa.

Dan jauh sebelum ditetapkannya 22 Desember sebagai Hari Ibu, dalam perspektif Islam, perempuan sudah mendapatkan perhatian khusus dalam memainkan perannya sebagai perempuan. Sehingga marwah sosok perempuan yang notabeni sebagai ibu benar-benar dimuliakan. Tidak hanya di dunia namun terlebih di akhirat kelak.

Namun saat ini, peran yang membuat tingginya marwah perempuan sebagaimana yang tercatat dalam siroh nabawi tidak lagi menjadi nilai ketertarikan dari sebagian kalangan perempuan. Yang diburu dan dikampanyekan saat ini adalah kesetaraan gender yang dibawa oleh para penggerak faham feminisme yang justeru bukan mengangkat marwah perempuan yang hakiki akan tetapi sebaliknya.

Hendri Shalahuddin, peneliti INSISTS dalam kajiannya yang berjudul “Menelusuri Paham Kesetaraan Gender dalam Islam” menjelaskan bahwa paham feminisme dan kesetaraan gender sebenarnya muncul sebagai respon atas kondisi lokal terkait dengan masalah politik, budaya, ekonomi, dan sosial yang dihadapi masyarakat Barat dalam menempatkan kaum perempuan di ruang publik. Pandangan hidup Barat yang traumatis terhadap agama dan kosong dari nilai-nilai spiritual akhirnya timpang dalam memaknai keadilan, rasional, dan HAM.

Namun ternyata tidak sedikit dari umat Islam yang terkesima dengan paham yang berasal dari Barat tersebut. Padahal mereka mempunyai khazanah keilmuan dan latar belakang permasalahan yang berbeda dengan barat. Tentu ini sangat penting untuk menjadi perhatian dan renungan khusunya bagi para kaum muslimah. 

Lantas siapakah perempuan yang sejati ?

Sesungguhnya aktivitas perempuan dalam mendidik anak-anaknya dan melayani suaminya dapat mengangkat derajat dan marwahnya ke tingkat yang tertinggi sehingga dia berhak menyandang predikat yang agung.

Muslim meriwayatkan dalam kitab shahihnya : Dari Asma’ binti Yazid Ibnus Sakan Radhiyallau’anha, bahwasanya dia datang menghadap Nabi SAW. yang saat itu sedang berada di tengah-tengah para sahabat. Dia (Asma’) katakan, “Sesungguhnya aku adalah utusan kaum wanita kepadamu. Tidak ada seorang wanitapun melainkan berkata seperti perkataanku dan berpendapat seperti pendapatku, bahwasanya Allah SWT. telah mengutusmu dengan membawa kebenaran kepada kaum laki-laki dan wanita. Kami beriman kepadamu dan mengikutimu. Sesungguhnya kami kaum wanita terkurung dan terkukung di dalam rumah-rumah kalian, menjadi pemuas syahwat kalian dan mengandung anak-anak kalian. Sementara kalian wahai kaum laki-laki diberi kelebihan atas kami dengan shalat juma’t, shalat berjama’ah, mengantar janazah, dan jihad di jalan Allah. Apabila kalian pergi berjihad kamilah yang menjaga harta kalian dan mendidik anak-anak kalian. Maka amalan apa (yang dapat kami lakukan) sehingga kami juga mendapatkan pahala seperti pahala kalian, wahai Rasulullah ?

“Rasulullah SAW. berpaling ke arah para sahabat kemudian bertanya, ” pernahkah kalian memdengar perkataan seorang wanita yang lebih baik dari pertanyaan wanita ini tentang perkara agamanya ?”, Mereka menjawab, “Tidak wahai Rasulullah”.

Rasulullah SAW. bersabda, “Pergilah wahai Asma’ dan sampaikanlah kepada para wanita yang mengutusmu, bahwasanya pelayanan yang baik dari salah seorang diantara kalian kepada suaminya, mencari keridhaannya, dan mengharap kepuasannya memiliki pahala yang sama dengan yang engkau sebutkan”.

Dari hadits di atas dapat disimpulkan bahwa wanita sejati adalah wanita yang taat kepada Allah dan Rasulnya dan mengimplentasikannya dengan ketaatan pada suaminya dan mendidik anak-anaknya.

Semoga catatan seputar perempuan pada momentum Hari Ibu ini bermanfaat dan menjadi renungan bagi para kaum hawa. Wallahu a’lam (*)

Penulis adalah pemerhati sosial dan pendidikan asal Kadur Pamekasan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here