Sumenep, 13 November 2019.
Artikel, Oleh: Yant Kaiy

LIMADETIK.com — Pada hari Selasa 12 November 2019 kemarin, saya beserta keluarga rombongan ziarah kubur kepada para ulama dan Raja Sumenep. Dari jam 05.00 WIB kami berangkat, pulang hampir magrib tiba di rumah. Banyak catatan yang saya dapatkan dari perjalanan wisata religi ini.

Tujuan kami dalam ziarah kubur ini mendoakan orang-orang yang telah banyak berjasa terhadap kemegahan perjuangan mereka mewarnai altar sejarah Madura, terutama peradaban Islam di Kabupaten Sumenep. Kabupaten ujung timur Pulau Garam, Madura.

Ada tujuh tempat peristirahatan abadi tokoh ulama besar dan penguasa Sumenep yang saya singgahi. Berikut catatannya:

1. Syekh Ali Akbar.
Bertempat di Dusun Pakotan Desa Pasongsongan-Sumenep astanya. Saya beserta rombongan tawassul kepada almarhum Syekh Ali Akbar dan membaca Al-qu’an surah Yasin bersama. Asta beliau tidak begitu besar namun cukup mampu menampung jamaah lebih 50 orang.

Syekh Ali Akbar adalah paman dari Raja Sumenep Bindara Saod. Ia telah banyak membantu menyebarkan Islam di Kecamatan Pasongsongan. Tokoh penting ini juga turut serta menumpas penjajah Belanda dari bumi Aceh atas permintaan raja di sana. Sesama kerajaan Islam, Raja Aceh meminta bantuan kepada Raja Bindara Saod. Lalu Raja Sumenep menunjuk Syekh Ali Akbar maju ke medan laga, berperang dengan tentara kolonial Belanda, dan berhasil menumpas Belanda.

Atas kemenangan inilah Raja Bindara Saod menghadiahi tanah luas di Dusun Pakotan Pasongsongan. Tanah di perkampungan ini dulunya bebas pajak.

Syekh Ali Akbar meninggal pada tanggal 14 Jumadil Akhir 1000 Hijriah sesuai dengan yang tertulis di daun pintu asta.

2. Asta Buju’ Panaongan
Bertempat di Desa Panaongan Kecamatan Pasongsongan-Sumenep, astah ini ditemukan pada tanggal 13 September 1999 dalam timbunan pasir setinggi kurang lebih 17,5 meter. Menurut catatan sejarah, mereka yang terkubur di astah ini adalah para penyebar agama Islam pertama di Madura.

Adalah Syekh Al-Arif Abu Said (wafat 1292 M) dan Syekh Abu Suhri (wafat 1281 M) yang mendarat di pelabuhan pesisir pantai Pasongsongan pada abad XI. Mereka menyebarkan ajaran Islam secara sembunyi-sembunyi dengan mendirikan pondok pesantren kecil. Penyebaran agama Islam oleh para “syekh” ini sengaja dilakukan sembunyi-sembunyi untuk keselamatan jiwanya dan keluarganya.

3. Pangeran Bukabu Notoprojo
Beliau adalah Adipati Sumenep yang memegang kekuasaan pada tahun 1339-1348. Asta Pangeran Bukabu terletak di Dusun Bukabu, Desa Bukaku, Kecamatan Ambunten. Setiap harinya banyak peziarah yang datang ke lokasi ini. Beliau dalam sejarahnya mendapat julukan Panembahan Pangeran Sang Maha Guru Raja-raja Sumenep. Saya dan 18 orang rombongan tak lupa menabur bunga di pusara orang tua dari Raden Andasmana, Raden Astamana, dan Dewi Ratna Sarini.

4. Pangeran Mandaraga
Berlokasi di Desa Keles Kecamatan Ambunten Sumenep, makam ini saban harinya ramai dikunjungi para peziarah. Pangeran Mandaraga menjadi adipati Sumenep dari Tahun 1331-1339 M. Ia memiliki dua orang putera bernama Pangeran Bukabu dan Pangeran Baragung.

5. Asta Tinggi
Makam para raja-raja ini setiap harinya luar biasa ramai dengan pengunjung dari berbagai pelosok negeri. Jejeran bis di luar lokasi Astah Tinggi ini berada di sepanjang jalan raya. Saya dan rombongan keluarga tiba di lokasi ini jam 13.00 WIB. Kami langsung sholat berjamaah. Setelah membaca Al-Qur’an surah Yasin di beberapa makam raja-raja Sumenep dan berdzikir tahlil, barulah kami kembali ke bis mini untuk melanjutkan perjalanan kembali.

Tapi kami harus makan dulu karena perut sudah keroncongan. Terpaksa kami makan di atas bis mini. Nasi bungkus dengan lauk telur dadar dan sedikit sambal, kami makan dengan nikmat sambil bercengkerama.

6. Asta Kiai Ali Brambang
Terletak di Desa Kalimo’ok Kecamatan Kalianget, tepatnya di sisi sebelah timur lapangan terbang Trunojoyo Sumenep. Kuburan Kiai Ali Brambang setiap harinya juga ramai dengan peziarah. Diberi embel-embel Brambang karena asta ini terletak di Dusun Brambang.

Kiai Ali Brambang merupakan tokoh ulama penyiar agama Islam yang disegani di Kabupaten Sumenep. Konon menurut ceritanya, ada seekor kera yang bisa berbicara dan mengaji karena diajari oleh beliau. Itulah kelebihan Kiai Ali Brambang.

7. Kuburan Sayyid Yusuf
Saya dan rombongan tiba di Pelabuhan Kalianget dalam terik panas menyengat. Bis mini kami terpaksa diparkir karena antrian kendaraan roda empat sangat panjang untuk menuju kapal penyeberangan. Ada informasi kalau kapal penyeberangan yang bisa muat enam kendaraan roda empat itu hanya satu kapal yang beroperasi. Sedang satunya sedang diperbaiki.

Kami menaiki kapal penyeberangan penuh sesak. Setelah mendarat di Pelabuhan Talango, kami harus berjalan kaki kurang lebih satu kilometer. Berjalan di tengah panas matahari sungguh melelahkan.

Kami sempat berkhayal, kalau saja ada jembatan yang menghubungkan Pulau Talango dengan Kalianget, mungkin kami tidak harus capek. Keluhan kami ternyata sama sengan para rombongan ziarah yang datang dari Rangkasbitung dan Magelang. Mereka semua berharap agar Pemkab Sumenep punya atensi khusus dengan persoalan ini.

Walaupun kami sangat kelelahan, namun kami tetap memanjatkan doa kepada Sang Khalik agar arwah para pejuang Islam ini mendapat tempat mulia di akhirat.

Penulis adalah salah satu kontributor di limadetik.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here