Astah Buju' Panaongan
Artikel : Kamis, 6 September 2019.

Oleh: Yant Kary, Limadetik.com — Astah Buju’ Panaongan terletak di Desa Panaongan, Kecamatan Pasongsongan dan masih termasuk wilayah Kabupaten Sumenep, Madura.

Makam para waliyullah ini saban harinya ramai dikunjungi para pesiarah dari berbagai daerah. Menurut Imam Syafi’i (juru kunci Astah Buju’ Panaongan) bahwa dirinya pada suatu malam pernah bermimpi kalau di sebelah barat utara pohon siwalan ada cahaya turun dari langit dan jatuh di atas gundukan pasir.

Atas hasil mimpi itulah, Imam Syafi’i mendatangi Haji Amiruddin yang tak lain adalah saudaranya, ia bercerita kronologis mimpinya. Kemudian mereka berdua bermunajat kepada Allah SWT.

Dan setelah mereka meyakini kalau mimpinya itu merupakan isyarat yang mesti ditindaklanjuti. Maka selanjutnya mereka bermusyawarah dengan pihak keluarganya, lalu mereka memutuskan untuk melakukan penggalian di gundukan pasir itu.

Imam Syafi’i dan Haji Amiruddin dalam melakukan penggalian dibantu oleh tiga belas orang termasuk para keponakannya. Selama penggalian enam malam, dalam timbunan pasir dengan ketinggian kurang lebih 17,5 meter Astah Buju’ Panaongan ditemukan.

Pada saat itu jam menunjukkan pukul 02.30 WIB, Tanggal 13 September 1999 Berikut nama-nama penyebar agama Islam di Astah Buju’ Panaongan dari hasil penelitian Tim Pusat Arkeologi Islam Jakarta pada Tanggal 22-27 April 2000.

  1. Syech Al- Arif Abu Said (wafat 1292)
  2. Syech Abu Sului (wafat 1281)
  3. Nyai Ruwiyah (wafat 1328)
  4. Nyai Abu Mutthalif (wafat tanpa tahun)
  5. Nyai Al-Haj Abdul Karim (wafat tanpa tahun)
  6. Nyai Ummu Nanti (wafat 1820)
  7. Nyai Saimi (wafat 1847)
  8. Nyai Ma’ruf (wafat tanpa tahun)
  9. Nyai Ummu Safui (wafat tahun kurang jelas)

Dari penemuan Astah Buju’ Panaongan ini ada satu keterkaitan dengan sejarah tentang adanya pelabuhan besar di Desa Pasongsongan dan pondok pesantren tertua di Desa Panaongan. Menurut Madun, S.Pd., “Ini sangat relevan dengan peninggalan situs bekas pondasi yang ada di sebelah timur dari penemuan Astah Buju’ Panaongan.” Bekas pondasi itu menurut masyarakat Desa Panaongan diyakini sebagai berdirinya bangunan pondok pesantren tertua di Madura.

“Dan pengajarnya adalah orang-orang yang terkubur di Astah Buju’ Panaongan itu. Dipercaya juga kalau mereka yang terkubur di Astah Buju’ Panaongan berasal dari Negara Timur Tengah. Mereka adalah warga pendatang,” tambah Madun, S.Pd. yang dirinya sekarang menjadi Kepala Sekolah di SDN Padangdangan II Kecamatan Pasongsongan.

Pertanyaan besar menggantung di benak kita, lalu kemana keturunan dari para alim yang ada di Astah Buju’ Panaongan itu.

Madun, S.Pd. melontarkan argumennya, “Kebanyakan keturunan dari para ustadz berdarah Arab itu berjalan sesuai kata hatinya. Tujuannya ingin menyebarkan ajaran Baginda Nabi Muhammad SAW ke Seantero alam ini. Tekadnya bulat sesuai dengan ajaran Islam yang dianutnya, bahwa menyampaikan ajaran agama tidak boleh setengah hati, harus totalitas Maka tinggallah sebagian keluarga dari mereka yang terkubur di Astah Buju’ Panaongan“.

Kedatangan para penyebar agama Islam ke Pasongsongan karena mereka tahu, kalau pelabuhan terbesar di Madura saat itu ada lah Pasongsongan dan aman untuk di diami. Lewat cara beniaga mereka masuk ke Aceh. Dari Aceh mereka lalu ke pelabuhan Pasongsongan”.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here