BONDOWOSO, limadetik.com — Belum selesai permasalahan Relokasi Pedagang Kaki Lima (PKL) Seputar Alun-alun RBA Kironggo Bondowoso ke Wisata Kuliner Jembatan Ki Ronggo, sekarang timbul permasalahan baru.

Keberadaan Wisata Kuliner yang bertempat di Kelurahan Kota Kulon Bondowoso RT 31 yang dibangun pada Tahun 2017 silam, yang hingga saat ini bangunan tersebut belum ditempati mendapat penolakan warga.

Menurut salah satu koordinator masyarakat diseputaran wisata kuliner, Agus Nurwahyudi mengatakan, bahwa pihaknya dengan tegas menolak adanya bangunan tersebut dengan alasan banyaknya generasi muda yang melakukan asusila ditempat tersebut.

“Saya mewakili masyarakat sekitar bangunan wisata kuliner ini sangat merasa terganggu, karena hampir setiap malam anak muda berkumpul dan melakukan hal-hal yang yang tak terpuji, saya berharap bagunan ini secepatnya ditempati, soalnya kalau dibiarkan begini akan terus menerus digunakan untuk perbuatan asusila bagi anak muda” kata Agus pada sejumlah Wartawan saat ditemui di rumahnya, Selasa (18/6/2019).

Agus juga menambahkan bahwa semenjak adanya bangunan tersebut banyak hal-hal yang masyarakat keluhkan.

“Semenjak berdirinya bangunan ini akses jalan begitu sulit dan menjadi jalan buntu. Apalagi kalau sudah musim hujan, maka disekitaran bangunan ini banyak genangan air yang tidak bisa mengalir,kalau tetap seperti ini, otomatis akan menjadi kumuh dan bisa menimbulkan penyakit” keluhnya.

Sementara menurut Kepala Diskoperindag Bondowoso Sigit Purnomo, bahwa pihaknya sudah melakukan kesepakatan dengan mitra Komisi II DPRD Bondowoso mengenani pemindahan PKL yang ada diseputaran Alun-alun Bondowoso.

“Untuk pelaksanaan kegiatan relokasi PKL ini acuan kita yaitu kesepakatan yang sudah di mediasi oleh Komnas Ham kemaren, jadi per 1 Januari 2020 kita akan lakukan relokasi ke Wisata Kuliner Jembatan Kironggo” kata Sigit saat ditanya awak media.

Ditanya mengenai penolakan warga sekitar atas bendirinya bangunan tersebut, Sigit beralasan bahwa pihaknya dalam hal ini hanya meneruskan saja.

“Tentunya pada pendahulu kami sudah melakukan kegiatan untuk sosialisasi, kita hanya melanjutkan apa yang telah dilaksanakan oleh pendahulu-pendahulu kami. Patokan kami hanya berpedoman pada mediasi yang diputuskan oleh Komnas Ham” lanjutnya. (budhi/dyt)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here