Sumenep, 13 Oktober 2019.

LIMADETIK.com, Oleh: Yant Kaiy
OPENI — Di tengah hembusan angin kemarau yang garing. Panas terik menyengat tidak memudarkan gairah bagi kebanyakan orang yang menghadiri acara pernikahan di salah satu desa di Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep. Bunyi sound system menggema, memecah suasana hingar-bingar para panitia pernikahan dan para tamu yang datang.

Sedangkan di luar halaman pesta pernikahan banyak orang berjualan. Mulai dari mainan anak-anak, balon, kembang gula, rujak, pentol, es krim dan lain sebagainya, semua semakin menambah meriah acara perkawinan. Begitulah kira-kira illustrasi acara pesta pernikahan yang jamak terjadi di pelosok desa. Barangkali ini juga terjadi di hampir semua desa lain di Kabupaten Sumenep.

Pasca panen tembakau telah memotivasi kebanyakan orang untuk melaksanakan hajat sakral tersebut. Kendati sebagai pihak tuan rumah tidak punya duit sama sekali. Bahkan tak jarang diantara mereka ada yang tidak sukses dalam pertanian tembakau, plus hutang untuk modal menanam tembakau masih belum lunas, ternyata mereka masih bisa melaksanakan pesta pernikahan anaknya. Malah rata-rata perayaan pesta pernikahan itu di atas sederhana untuk ukuran sebuah pesta di desa. Aneh bin ajaib memang.

Hitung-hitungan kasar saja untuk pesta penikahan di desa. Dekorasi pelaminan lengkap dengan hias baju kedua mempelai sekitar Rp.7 juta. Sound system, tenda, konsumsi, dan rokok kurang lebih Rp.55 juta. Lain lagi kalau ada pagelaran ludruk semalam suntuk yang membutuhkkan budget Rp.15 juta. Siangnya biasanya kalau tidak acara tandak, ya orkes. Rata-rata untuk hajatan pernikahan lengkap dengan acara lamarannya berkisar kurang lebih Rp.100 juta.

Uang sebesar Rp.100 juta bukan sedikit bagi orang miskin. Apalagi di tengah himpitan kebutuhan hidup yang tidak bisa ditoleransi seperti sekarang. Sedangkan income dari hasil mereka bekerja sehari hanya cukup untuk biaya hidup satu hari yang pas-pasan. Tapi kenapa mereka bisa melangsungkan pesta? Faktor-faktor yang menyebabkan masyarakat di pedesaan bisa melangsungkan pernikahan disebabkan karena:

1. Dana talangan.

Yang konvensial terjadi di tengah masyarakat, sebelum dilangsungkan pesta pernikahan biasanya keluarga besar dan para tetangga berkumpul dalam satu forum. Semua hadirin diminta sumbangan sesuai dengan kemampuan yang diakad dengan barang. Misalnya mereka mau menyumbang beras berapa ton, tapi bukan berbentuk barang, melainkan dinominalkan sesuai dengan harga beras saat itu.

Dan kalau harga beras naik dua atau tiga tahun kemudian, maka tuan rumah harus mengembalikan sesuai dengan harga barang yang berlaku pada saat itu juga.

Kalau dua atau tiga tahun harga turun, maka tuan rumah tetap mengembalikan sesuai dengan harga ketika mereka pertamakali berhutang. Jadi yang menghutangkan tidak rugi.

2. Egosentrisme.

Ada semacam kebanggaan tersendiri apabila yang empunya hajat bisa menyelenggarakan pesta pernikahan. Ada yang bilang bisa menaikkan pamor seseorang. Ia tidak peduli dengan hutang besar sekalipun, yang penting sindrom bahagia menyelimuti akalnya. Ia buta akan kemiskinan dirinya. Seyogyanya hutang harus jadi beban hidup super berat, bukan malah berleha-leha pasca pesta perkawinan. Justru yang lebih parah, habis acara pernikahan, kelebihan uang dari hutang langsung mereka belanjakan barang-barang yang tidak urgen.

Nah, ketika pas ada acara undangan pesta yang sama di tetangga, mereka kemudian kelimpungan mencari pinjaman sana-sini untuk membayar hutang. Dari persoalan ini timbul beberapa friksi yang tidak baik dalam keluarga mereka. Karena mereka wajib membayar hutang pesta kepada tetangga yang punya pesta. Sebagai “garansi” dari friksi tersebut adalah menantunya. Maka semakin runyamlah problema rumah tangga mereka.

Sungguh kasihan. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Ada yang setelah pesta selesai mereka langsung hengkang dari rumahnya mencari kerja. Tak peduli kerja apa saja.

3. Aji mumpung.

Memang ada sebagian dari mereka yang cerdas dalam memanfaatkan situasi yang kompleks tersebut. Kelebihan uang pesta biasanya dijadikan modal untuk berbisnis sebagai daya tangkal dirinya takut tidak bisa mengembalikan barang yang sudah dipinjamkan orang lain. Kalangan tipe orang seperti ini biasanya sukses dalam menghadapi suasana perekonomian rumah tangganya. Sehingga friksi yang muncul ke permukaan berakhir indah dan menentramkan.

Kalau orang yang mau berpikir panjang, tentu mereka tidak gegabah dalam mengakomodir setiap masukan dari orang-orang terdekat yang menghembuskan harus begini-begitu. Orang lain hanya sebatas memotivasi, sedangkan hutang pesta tidak bisa ditoleran, kalau sudah waktunya bayar, mereka harus bisa mengembalikan walau dengan cara memelas kepada orang lain untuk mendapatkan pinjaman. Ya, orang lain hanya sekadar memberikan dorongan, ketika dirinya terlilit hutang tak ada orang peduli.

Demikian beberapa sisi negatif-positif dari sebuah pesta di desa yang ada karena bermodal dengkul. Maksud hati ingin meraih bahagia, ternyata menuai nestapa.

Ketua Sanggar Adinda Pasongsongan-Sumenep

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here