SUMENEP, Limadetik.com — Mendengar nama Pangeran Bukabu kita langsung terbawa kepada sosok seorang raja yang namanya sangat bersinar diantara para raja lainnya. Ya, Pangeran Bukabu merupakan Raja Sumenep yang berkuasa dari tahun 1339 sampai 1348. Selain sebagai raja, beliau merupakan seorang penyebar agama Islam cukup disegani rakyatnya.

Pangeran Bukabu Natapraja keturunan dari Pangeran Mandaraga (Raden Piturut) yang juga Raja Sumenep. Pangeran Bukabu menggantikan ayahandanya menjadi raja.
Untuk mengabadikan nama raja yang amat dicintai rakyatnya ini, maka didirikanlah Yayasan Pangeran Bukabu oleh keturunannya.

Adalah KH. Ashimul Fuadi sebagai pengasuh dan pimpinan yayasan yang bergerak di bidang pendidikan dari berbagai jenjang, mulai PAUD (ada 31 murid), TK (ada 37 murid), Mts (ada 75 Siswa), dan SMA (ada 62 Siswa). Pada sore hari ada kegiatan belajar mengajar juga, yaitu diniyah. Kenapa MI-nya tidak ada?.

(Kana) KH. Ashimul Fuadi Pengasuh sekaligus Pimpinan Pondok-Pesantren Pangeran Bukabu, Ambunten, Sumenep bersama Yant Kaiy dari Limadetik.com

“Atas kesepakatan pihak yayasan, kami sengaja tidak membuka MI. Karena di dekat kami ada SD Negeri,” ujar KH. Ashimul panggilan akrabnya kepada limadetik.com di kediamannya, Dusun/Desa Bukabu Kecamatan Ambunten Kabupaten Sumenep Madura, Selasa (24/12/2019).

Di samping ada lembaga pendidikan formal, Yayasan Pangeran Bukabu juga menampung para santri di Pondok Pesantrennya. Ada lebih dua ratus santri yang menimba ilmu di situ.

“Santri kami tidak terlalu banyak. Ada sekitar 212 santri. Kami tidak terlalu ambisi dalam mengelola lembaga pendidikan. Kami mengalir bagai air. Ngapain banyak santri dan anak didik, kalau nantinya lulusan dari lembaga kami tidak berkualitas. Biarlah sedikit tapi keilmuan mereka bisa berbicara banyak ketika mereka melanjutkan ke jenjang pendidikan selanjutnya,” tegas KH. Asimul yang masih masih masuk keturunan Pangeran Bukabu yang ke-8.

Lembaga pendidikan dari Yayasan Pangeran Bukabu ini terletak agak ke dalam jalan raya. Tapi akses jalan masuk cukup baik dan bisa dilewati kendaraan roda empat. Suasananya asri dengan panorama alam hijau. Hamparan padi milik masyarakat sekitar juga menunjang terciptanya lingkungan yang baik dan bersih, sehingga kegiatan belajar-mengajar berlangsung nyaman.

Menurut ayah dari M. Kholilurrahman De Eckle Ramadan dan Naura Tsabita Fuadi, di lembaganya juga menyelenggarakan banyak kegiatan, seperti drum band, pencak silat, al-banjari (musik Islami), dan belajar jahit-menjahit baju.

“Di Pondok Pesantren kami, juga diselenggarakan amtsilati, yaitu program cepat baca kitab kuning dasar,” terang KH. Ashimul yang beristrikan Nyai Nurhidayati, S.Pd.I. (Yant Kaiy/yd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here