LAMONGAN, Limadetik.com — Belajar merupakan sebuah kewajiban yang harus dilakukan oleh setiap insan. Alam sekitar, menyimpan sebuah pelajaran yang tak terhitung banyaknya. Hal ini sekaligus menepis anggapan sebagian orang yang berpandangan bahwa belajar hanya dapat dilakukan di dalam kelas.

Sadar akan pentingnya belajar pada alam sekitar, sebuah lembaga yang bertempat di Desa Banjarwati Paciran Lamongan; MTs. Mamba’ul Ma’arif (MTs. MAMA), mengadakan sebuah edukasi luar kelas (baca: Sekolah Alam) setiap satu tahun sekali.

Edukasi yang didapat dari Sekolah Alam tersebut terdiri dari berbagai aspek, yakni aspek ilmu pengetahuan, sosial, dan keagamaan. Aspek ilmu pengetahuan berkenaan dengan materi-materi kelas yang nantinya dapat dipraktekkan pada penelitian lapangan, sehingga antara materi dan praktek dapat terintegrasi dengan baik. Selanjutnya, aspek sosial didapat dalam ranah bagaimana siswa-siswi dapat berinteraksi, bekerja sama, baik dengan temannya maupun dengan orang-orang di sekitarnya.

Hal yang tak luput dari Sekolah Alam adalah aspek keagamaan. Dari sana, siswa-siswi mampu memahami dan menyadari arti pentingnya menjaga dan merawat kelestarian alam (tadabbur bi al-‘alam), sesuai dengan pelajaran keagamaan yang mereka peroleh dalam kelas. Selain itu, Sekolah Alam terbalut dengan serangkaian game untuk menanamkan anggapan pada anak bahwa belajar itu mengasyikkan. Ujar Sulthoni Irham Yasin, Kamad MTs. MAMA. (Ahad, 09 Februari 2020).

Sekolah Alam kali ini dilakukan di Wisata Selo Tirto Giri (SETIGI) yang berlokasi di Desa Sekapuk Ujungpangkah Gresik (Ahad, 09 Februari 2020), setelah sebelumnya di Wisata Pantai Kutang Labuhan Brondong Lamongan, Wisata Akar Langit Trinil Sendangharjo Brondong Lamongan, dan Wisata Edukasi Agro Pertanian Besur Sekaran Lamongan.

Sekolah Alam yang dilakukan kali keempat ini menghasilkan pelajaran yang sangat bermanfaat. Salah satu sesi dalam rangkaian kegiatan tersebut adalah penyampaian materi oleh Kepala Desa dan sekaligus penggagas terciptanya wisata SETIGI, Abdul Halim. Dalam kesempatan tersebut, Abdul Halim menyampaikan sejarah terbentuknya SETIGI, serta motivasi untuk siswa-siswi MTs. Mamba’ul Ma’arif.

Dalam penuturannya, wisata SETIGI diambil dari tiga kata, yakni Selo (Batu) Tirto (Air) dan Giri (Bukit). Pengambilan nama tersebut merupakan rangkaian tiga unsur yang ada di kawasan wisata SETIGI. Selain sejarah SETIGI yang disampaikan, beliau juga bercerita singkat tentang sejarah hidupnya yang dimulai dari bawah hingga kiprahnya sekarang sehingga dapat memotivasi dan menginspirasi siswa-siswa MTs. Mamba’ul Ma’arif serta jajaran pendampingnya.

“Saya tidak bangga dengan adanya pujian, karena akan ada berpuluh cacian yang akan datang untuk saya”. Begitulah salah satu kalimat yang terucap dari pimpinan Desa Sekapuk. Abdul Halim, Ahad, 9 Februari 2020.

“Kalimat tersebut menginspirasi bahwa kita tidak boleh bangga sehingga terlena dengan capaian yang telah kita ciptakan, sebab akan ada saatnya cacian dan celaan yang menghantam kita karena kegagalan kita.” ujar Keysa Aqluna Mafaza, siswi kelas VIII MTs. Mamba’ul Ma’arif.

Poin terpenting yang disampaikan oleh Abdul Halim dalam Sekolah Alam tersebut adalah arti pentingnya menjaga kelestarian alam. Di samping berdalih, beliau telah menunjukkan bukti konkrit dengan adanya keindahan pemandangan alam SETIGI meski dulunya merupakan tempat bekas penambangan yang tidak terawat dan menjadi tempat pembuangan sampah. Jika bukan kita yang merawat, lantas haruskah kita hanya merusak?. (*)

MT.s Mamba’ul Ma’arif  Banjarwati

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here