Dari kiri Kades Pasongsongan terpilih Ahmad Saleh Harianto, Suklis dan Anggota DPRD Sumenep dari Partai Gerindra Syaiful Hasan

SUMENEP, limadetik.com — Perkembangan sapi sonok di daerah Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep ternyata tidak mengalami degradasi signifikan. Seiring waktu berlalu, para penggemar dan peternak sapi sonok terus berkembang di beberapa kecamatan di kabupaten ujung timur Pulau Madura ini. Umumnya mereka merawat sapi sonok dengan penuh ketekunan.

Tak kalah penting, faktor kualitas makanan menjadi salah satu penunjang tumbuh-kembang sapi. Selain pakan rumput segar, sapi sonok juga dibuatkan bubur dari jagung halus. Bubur jagung ini diramu dengan irisan buah pepaya dan daunnya serta daun kelor.

“Biasanya bubur jagung ini diberikan sore hari,” ujar Suklis, salah seorang peternak sapi sonok dari Dusun Sempong Barat Desa Pasongsongan-Sumenep.

Pada malam hari, sapi sonok itu dipijit, dielus sekujur tubuhnya. Perlakuan ini bertujuan agar sapi jinak, tidak terkejut bila disentuh oleh siapa pun, tidak blingsatan ketika ada bunyi pecut atau suara mercon sekalipun. Selain itu sapi akan merasa nyaman dan tenang bila bersama  empunya. Ia tidak akan canggung bila ikut kontes dengan penonton ramai dan suara gaduh apa pun.

pemenang kontes sapi sonok di lapangan Sawunggaling Pasongsongan Sumenep (foto: Yant Kaiy)

“Perawatan sapi sonok tidak berhenti di situ. Biasanya pagi hari sapi dikeluarkan dari kandangnya dan dimandikan. Lalu sapi diikat kanan kiri dengan posisi kepala agak mendongak selama beberapa jam,” ujar ayah tiga orang anak ini.

Suklis juga menjelaskan, dua hari sekali sepasang sapi sonok dilatih berjalan dengan diiringi yang punya. Si empunya ada di belakang memegang tali kendali. Sapi melenggang dengan cantik ke depan, mengikuti irama saronen dari saund sistem. Setelah sampai di gapura mini sapi berhenti beberapa saat dengan kaki menginjak balok kayu.

Berbekal pengalaman dalam merawat sapi sonok menjadi sarana terciptanya nilai jual tinggi pada sapi tersebut. Wajar kalau sapi sonok berharga mahal, karena biaya perawatan tidak sedikit.

“Memang faktor keturunan sapi adalah hal utama. Perpaduan pejantan yang berpostur tubuh bagus dengan si betina akan melahirkan anak sapi bagus pula. Tapi bisa jadi lahir anak sapi yang tidak sesuai dengan harapan. Tapi kemungkinan itu kecil sekali,” cerita Suklis kepada limadetik.com lebih jauh, Jumat (13/12/2019).

Ajang kontes sapi sonok rutin diadakan setiap bulan. Ada beberapa komunitas yang setiap minggu mengadakan latihan di Lapangan Sawunggaling Desa Pasongsongan-Sumenep. Biasanya pertemuan peternak sapi sonok ini dimanfaatkan pula sebagai tukar pendapat dan diskusi seputar perawatan sapi. (Yant Kaiy/yd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here