SUMENEP, limadetik.com — Orang banyak yang tidak tahu, sesungguhnya siapa Nyai Agung Madiya itu. Dialah panglima perang Kerajaan Sumenep semasa kepemimpinan Raja Bindara Saod. Jasa-jasanya yang prestisius perlu kiranya dikenang bagi masyarakat Sumenep.Perempuan yang berpostur tegap ini adalah puteri kesayangan Syekh Ali Akbar.

Masyarakat Pasongsongan mengenal betul ayahanda Nyai Agung Madiya adalah seorang ulama kharismatik yang cukup disegani. Nyai Agung Madiya adalah seorang perempuan yang lemah-lembut tingkah laku kesehariannya, tetapi ia sangat garang kalau sudah maju ke medan pertempuran.

Nyai Agung Madiya tujuh bersaudara, diantaranya Kiai Sarep, Kiai Kendel, Kiai Amrun, Kiai Lembung, Kiai Jengguk, dan Nyai Agung Singrum. “Diantara tujuh bersaudara itu hanya Nyai Agung Madiya yang mempunyai kemampuan untuk maju ke medan perang. Beliau memiliki ilmu kanuragan tingkat tinggi,” ungkap Agus Sugianto,S,Pd. yang seorang guru di SDN Pasongsongan I Kecamatan Pasongsongan, Sumenep, Jawa Timur.

Menurutnya, ilmu kanuragan itu yakni ilmu yang berguna untuk membentengi diri pribadi secara supranatural. Ilmu ini meliputi kemampuan bertahan terhadap serangan dan kemampuan untuk menyerang dengan kekuatan yang amat dahsyat/diluar daya nalar manusia dan tidak masuk akal.

Suatu ketika Kerajaan Aceh minta bantuan kepada Raja Bindara Saod untuk mengusir penjajah Belanda. Akan tetapi malang tak dapat ditolak, pasukan Kerajaan Sumenep kalah dalam peperangan dengan tentara kolonial Belanda di bumi Aceh. Tak ada satu pun pasukan perang Sumenep yang kembali. Semuanya gugur. Raja Bindara Saod dirundung duka yang sangat mendalam.

“Akhirnya Bindara Saod berkunjung ke Pasongsongan untuk meminta bantuan kepada Syekh Ali Akbar. Karena saking iba Syekh Ali Akbar demi mendengar cerita Sang Raja, maka beliau merelakan putri tercintanya untuk dikirim ke Aceh,” cerita Agus Sugianto dengan limadetik.com di rumahnya Desa Panaongan Kecamatan Pasongsongan, Sabtu (7/8/2019).

Sebelum Nyai Agung Madiya berangkat ke Aceh, ia didoakan oleh Syekh Ali Akbar agar selamat dalam peperangan. Sang Ayahanda juga memberikan siasat perang yang harus dijalankan nantinya.
Singkat cerita, pasukan perang Kerajaan Sumenep pulang membawa kemenangan.

Nyai Agung Madiya dan Syekh Ali Akbar mendapat penghargaan dari raja berupa tanah luas di Dusun Pakotan Pasongsongan, Sumenep. Orang-orang Pasongsongan menyebut tanah pemberian raja itu dengan sebutan ‘tanah mardikan’. Menurut Agus Sugianto, tanah pemberian raja tersebut dulunya bebas pajak, tapi setelah Presiden Suharto tanah itu dikenakan pajak. (Yant Kaiy/yd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here